Harga Perak Turun Drastis 10 Persen, Investor Diminta Tetap Waspada Hari Ini
- Jumat, 13 Februari 2026
JAKARTA - Harga perak mendadak anjlok sekitar 10 persen dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran bagi investor logam mulia.
Penurunan tajam ini mengikuti tren melemahnya harga emas, yang juga terdampak oleh kondisi pasar global dan ekspektasi suku bunga. Pergerakan ini menandai volatilitas tinggi yang belum mereda setelah reli beberapa minggu terakhir.
Koreksi harga ini membuat pelaku pasar harus lebih berhati-hati. Investor yang selama ini memanfaatkan momentum spekulatif kini menghadapi risiko likuidasi posisi. Penurunan mendadak ini menunjukkan bagaimana sentimen pasar dan data ekonomi dapat memengaruhi logam mulia secara cepat dan signifikan.
Baca Juga
Tekanan dari Data Ketenagakerjaan Amerika Serikat
Sebelumnya, harga emas dan perak sudah melemah tipis pada Kamis, 12 Februari 2026. Investor menunggu keputusan The Federal Reserve setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil sangat kuat. Laporan nonfarm payroll jauh melampaui ekspektasi, yang memengaruhi ekspektasi suku bunga dan menekan harga logam mulia.
Fawad Razaqzada, analis Global Macro di FOREX.com, menjelaskan bahwa reaksi pasar terhadap data nonfarm payroll sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ketika angka tenaga kerja lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi investor terhadap pemangkasan suku bunga menurun, memicu aksi jual logam mulia, termasuk perak.
Aksi Spekulatif Mempercepat Penurunan Harga
Ole Hansen, analis komoditas di Saxo Bank, menilai pergerakan emas dan perak belakangan ini banyak didorong oleh aksi beli spekulatif. Investor yang mengandalkan sentimen dan momentum pasar cenderung cepat keluar dari posisi ketika ekspektasi berubah.
“Pada hari-hari seperti ini, harga akan kesulitan bertahan,” kata Hansen kepada Bloomberg. Kondisi ini membuat volatilitas pasar semakin tinggi dan penurunan harga perak terasa lebih drastis dibandingkan koreksi normal.
Rilis Data Inflasi AS Menjadi Fokus Berikutnya
Pasar kini menantikan data indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Jumat. Data ini diperkirakan akan menentukan arah pergerakan logam mulia selanjutnya. Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Strategist Logam di Zaner Metals, menilai jika inflasi melambat, peluang pemangkasan suku bunga kembali terbuka.
“Ekspektasi menunjukkan inflasi utama akan melambat dari 2,7 persen menjadi 2,5 persen, bahkan mungkin 2,4 persen. Hal ini bisa menghidupkan spekulasi pemangkasan suku bunga dan berpotensi positif bagi emas,” kata Grant kepada Reuters. Hal ini membuat investor harus memperhatikan data ekonomi terbaru sebelum mengambil keputusan.
Reli Sebelumnya dan Koreksi Tajam Pasca Pengumuman Federal Reserve
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dan perak bergerak sangat volatil. Reli besar mendorong emas menembus US$5.600 dan perak melampaui US$120 pada akhir Januari. Namun, harga kemudian jatuh setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai calon pimpinan The Federal Reserve.
Warsh dinilai kurang agresif dalam memangkas suku bunga dibanding kandidat lain. Penguatan dolar AS pasca pengumuman ini semakin menekan harga logam, karena dolar yang kuat membuat emas dan perak lebih mahal bagi pembeli internasional.
Spekulasi dan Volatilitas Masih Menguasai Pasar Perak
Ross Norman, CEO Metals Daily, menyebut volatilitas tinggi saat ini membuat perdagangan logam mulia terasa seperti kasino. Pasar spekulatif mendominasi, sehingga pergerakan harga bisa tajam ke arah manapun dalam waktu singkat. Saxo Bank memperkirakan perak masih akan bergerak liar ke dua arah dalam jangka pendek.
Investor disarankan tetap waspada, memantau data ekonomi, dan tidak terlalu terbawa sentimen pasar. Penurunan tajam ini juga bisa menjadi peluang bagi mereka yang ingin membeli perak dengan harga lebih rendah, asalkan memahami risiko volatilitas tinggi.
Rekomendasi Bagi Investor Perak dan Logam Mulia
Investor dianjurkan memantau pergerakan harga perak dan emas secara berkala. Penurunan mendadak harus direspons dengan strategi yang matang. Diversifikasi investasi, pengaturan modal, dan pemantauan berita ekonomi global menjadi kunci agar risiko kerugian bisa diminimalkan.
Selain itu, investor harus memahami bahwa harga logam mulia dapat berubah drastis dalam hitungan jam. Dengan pendekatan hati-hati, penurunan 10 persen hari ini bisa menjadi momen strategis untuk menambah posisi, terutama bagi yang menilai potensi rebound jangka menengah.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Strategi Paramount Enterprise Hadapi Tantangan Global Industri Properti 2026
- Jumat, 13 Februari 2026
Mobil Listrik 2026 Masuk Fase Kritis, Harga Berpotensi Melambung Tinggi
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
BNI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Ajang JCB Indonesia Awards 2026 dengan Dampak Luas
- Jumat, 13 Februari 2026
BRI Life Catat Laba Rp954 Miliar di 2025, Begini Kunci Strateginya Hadapi 2026
- Jumat, 13 Februari 2026
BRI Debit FC Barcelona Bikin Tabungan Makin Bermakna Bagi Culers Indonesia
- Jumat, 13 Februari 2026
Beasiswa Bakti BCA Memacu Mahasiswa Jadi Penggerak Pemberdayaan UMKM Lokal
- Jumat, 13 Februari 2026
Terpopuler
1.
Sinergi Kemenhaj Perkuat Ekosistem Ekonomi Haji Nasional
- 13 Februari 2026
2.
Program MBG Jadi Intervensi Nyata Tekan Stunting Nasional
- 13 Februari 2026
3.
Syarat Pengajuan Keringanan Pinjol yang Harus Anda Pahami
- 13 Februari 2026
4.
5.
Ekspor 15 Ton Produk UMKM ke Eropa, LPEI Terus Dukung UMKM
- 13 Februari 2026












