Peneliti BRIN Temukan Bakteri Tanah Kunyit Berpotensi Antikanker Payudara Efektif Rendah Toksisitas
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Harapan baru dalam pengembangan obat antikanker berbasis bahan alam muncul dari penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Di balik tanaman kunyit yang selama ini dikenal luas sebagai rempah dan tanaman obat, para peneliti menemukan potensi lain yang tidak kalah penting. Bukan hanya rimpangnya, tetapi juga mikroorganisme yang hidup di sekitarnya menyimpan peluang besar bagi dunia medis.
Tim peneliti dari Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN berhasil mengungkap keberadaan bakteri aktinomisetes di tanah rhizosfer kunyit. Tanah di sekitar akar dan rimpang tanaman tersebut ternyata menjadi habitat mikroba yang mampu menghasilkan senyawa antikanker. Temuan ini memperkaya pendekatan riset obat modern yang tidak hanya berfokus pada tanaman, tetapi juga ekosistem mikroba pendukungnya.
Baca Juga
Riset Berawal Dari Tanah Sekitar Rimpang Kunyit
Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa tanaman obat memiliki hubungan erat dengan mikroorganisme di sekitarnya. Tanah rhizosfer kunyit, yang selama ini jarang mendapat perhatian, menjadi fokus eksplorasi tim peneliti BRIN. Dari area inilah bakteri aktinomisetes berhasil diisolasi dan kemudian diuji lebih lanjut.
Aktinomisetes dikenal sebagai kelompok bakteri yang memiliki kemampuan menghasilkan berbagai metabolit sekunder. Senyawa-senyawa ini sering kali memiliki aktivitas biologis penting, termasuk sebagai antibiotik dan antikanker. Oleh karena itu, tanah di sekitar tanaman kunyit dinilai sebagai sumber potensial senyawa bioaktif baru.
Isolat TC-ARCL7 Tunjukkan Aktivitas Antikanker Kuat
Aniska Novita Sari, perwakilan tim peneliti, menjelaskan bahwa hasil pengujian in vitro menunjukkan temuan yang sangat menjanjikan. Salah satu isolat bakteri, yakni TC-ARCL7, memperlihatkan aktivitas antikanker yang sangat kuat terhadap sel kanker payudara T47D. Nilai IC50 isolat ini tercatat sebesar 0,2 µg/ml.
Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat kemoterapi doxorubicin, kurkumin murni, maupun ekstrak etanol kunyit. Hasil ini menandakan efektivitas yang tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan kandidat obat antikanker berbasis mikroba.
"Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat, namun mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut," kata Aniska dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Toksisitas Rendah Jadi Keunggulan Utama
Selain efektivitas yang tinggi terhadap sel kanker, isolat TC-ARCL7 juga menunjukkan keunggulan lain yang sangat penting. Aniska menyebutkan bahwa bakteri ini memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal, yaitu sel Vero. Kondisi ini menghasilkan indeks selektivitas yang tinggi, yang menjadi indikator keamanan awal suatu senyawa obat.
Rendahnya toksisitas terhadap sel normal merupakan tantangan utama dalam terapi kanker. Banyak obat kemoterapi efektif membunuh sel kanker, tetapi juga merusak sel sehat. Oleh karena itu, temuan ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai terapi yang lebih aman bagi pasien.
Proses Panjang Menuju Kandidat Obat Baru
Meski hasil awal terlihat sangat menjanjikan, tim peneliti menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal. Aniska menjelaskan bahwa masih banyak tahapan yang harus dilalui sebelum senyawa ini dapat dikembangkan menjadi obat antikanker yang siap digunakan secara klinis.
Tahapan lanjutan meliputi pemurnian senyawa aktif yang dihasilkan bakteri, optimasi produksi metabolit, serta uji pra-klinik. Seluruh proses tersebut memerlukan waktu, ketelitian, dan sumber daya yang memadai. Meski demikian, tim peneliti berkomitmen untuk melanjutkan riset ini secara berkelanjutan.
Aniska dan tim berharap hasil penelitian ini dapat berkontribusi dalam menghadirkan alternatif pengobatan kanker yang lebih aman dan efektif. Tujuan akhirnya adalah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan terapi dengan risiko efek samping yang lebih rendah.
Kolaborasi BRIN Dan UGM Perkuat Riset Antikanker
Diketahui, temuan ini merupakan hasil kolaborasi antara BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Kerja sama ini memperkuat sinergi antara lembaga riset nasional dan perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis sumber daya lokal.
Dalam riset tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi tujuh bakteri aktinomisetes dari tanah perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Seluruh isolat kemudian diuji potensi antikankernya secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang masih sangat luas untuk dieksplorasi.
"Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif dalam pengembangan obat berbasis bahan alam dengan biaya produksi yang lebih efisien dan sumber daya yang berkelanjutan," ujar Aniska. Temuan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi pengembangan obat antikanker masa depan yang berasal dari kekayaan hayati Nusantara.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
TNI AD Pastikan Seskab Teddy Wijaya Jalani Pendidikan Reguler Sekolah Staf Komando
- Jumat, 06 Februari 2026
Kepesertaan BPJS Pasien Cuci Darah Dijanjikan Aktif Kembali Tanpa Hambatan Layanan
- Jumat, 06 Februari 2026
Wapres Gibran Tinjau Pengungsi Tanah Bergerak Tegal Pastikan Negara Hadir Melindungi
- Jumat, 06 Februari 2026












