Kamis, 05 Februari 2026

Pergerakan Rupiah Rabu, 4 Februari 2026 Kurs Dolar AS Bank Nasional Terpantau

Pergerakan Rupiah Rabu, 4 Februari 2026 Kurs Dolar AS Bank Nasional Terpantau
Pergerakan Rupiah Rabu, 4 Februari 2026 Kurs Dolar AS Bank Nasional Terpantau

JAKARTA -Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. 

Sejak awal pembukaan, mata uang Garuda menunjukkan tekanan ringan seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih berkembang.

Fluktuasi rupiah pada awal perdagangan menjadi indikator penting bagi pelaku usaha, importir, dan masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi valuta asing. Selain mencerminkan dinamika global, pergerakan kurs juga kerap dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter, geopolitik, serta rilis data ekonomi terbaru.

Baca Juga

Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia

Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah bergerak melemah tipis di tengah penguatan indeks dolar AS. Perhatian pasar pun tertuju pada perkembangan kurs dolar AS di perbankan nasional, khususnya bank-bank besar seperti BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI.

Rupiah Dibuka Melemah Pada Awal Perdagangan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp16.764 pada perdagangan hari ini, Rabu, 4 Februari 2026. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,07% ke posisi Rp16.764,5 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat 0,07% ke level 97,36. Penguatan dolar AS ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang safe haven di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Pergerakan rupiah yang cenderung terbatas ini menunjukkan bahwa pasar masih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan sentimen lanjutan dari luar negeri maupun dalam negeri.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Selain rupiah, mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan yang beragam terhadap dolar AS. Kondisi ini mencerminkan respons masing-masing negara terhadap sentimen global yang sama, namun dengan karakteristik ekonomi domestik yang berbeda.

Tercatat, yen Jepang melemah 0,28%, disusul dolar Hong Kong yang turun 0,02%. Sementara itu, dolar Singapura justru menguat 0,04%, sedangkan dolar Taiwan melemah 0,19% dan won Korea Selatan turun 0,14%.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia mencatat penguatan. Yuan China menguat 0,06%, ringgit Malaysia naik 0,20%, dan baht Thailand menguat 0,21% terhadap dolar AS. Variasi pergerakan ini menunjukkan adanya perbedaan sentimen dan fundamental ekonomi di masing-masing negara kawasan.

Sentimen Global Tekan Pergerakan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi sebelumnya mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah di pasar uang. Salah satu faktor utama berasal dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.

Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Kondisi ini secara tidak langsung memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan India terkait penurunan tarif impor barang-barang India dari 50% menjadi 18%. Kebijakan ini dilakukan sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India.

Langkah tersebut memicu dinamika baru dalam perdagangan global yang turut memengaruhi persepsi risiko dan pergerakan nilai tukar.

Faktor Moneter Jadi Sorotan Pasar

Dari sektor moneter, pasar juga mencermati langkah Presiden Trump yang menominasikan mantan gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon ketua bank sentral AS berikutnya. Nominasi ini menimbulkan spekulasi terkait arah kebijakan moneter AS ke depan.

Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga dan arah The Fed menjadi faktor penting yang memengaruhi penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang cenderung meningkat, termasuk terhadap rupiah.

Pelaku pasar pun memilih bersikap wait and see sambil menunggu kepastian kebijakan moneter AS yang akan datang.

Data Domestik Beri Penopang Rupiah

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pasar juga menyoroti rilis sejumlah data ekonomi. S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026.

Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 51,2. Kenaikan PMI ini mengindikasikan bahwa aktivitas sektor manufaktur nasional masih berada di zona ekspansi.

Sejalan dengan kenaikan PMI, terdapat pertumbuhan permintaan pasar terhadap barang. Permintaan tersebut terutama didorong oleh perekonomian domestik, meskipun permintaan internasional tercatat menurun selama lima bulan terakhir. Data ini menjadi salah satu faktor yang membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak bergerak lebih dalam.

Kurs Dolar AS di BCA Hari Ini

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pada pukul 09.31 WIB mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.763 dan harga jual Rp16.783 berdasarkan e-rate.

Sementara itu, berdasarkan TT counter, BCA menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp16.600 dan harga jual Rp16.900. Untuk bank notes, harga beli dan jual dolar AS masing-masing berada di level Rp16.600 dan Rp16.900.

Kurs Dolar AS di BRI Hari Ini

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) pada pukul 09.33 WIB menetapkan harga beli dan jual dolar AS masing-masing sebesar Rp16.758 dan Rp16.780 untuk e-rate.

Adapun untuk TT counter, BRI mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.670 dan harga jual Rp16.870 per dolar AS.

Kurs Dolar AS di Bank Mandiri Hari Ini

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) pada pukul 08.57 WIB menetapkan harga beli dan jual untuk special rate masing-masing sebesar Rp16.740 dan Rp16.770 per dolar AS.

Untuk TT counter, Bank Mandiri mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.600 dan harga jual Rp16.900. Sementara itu, berdasarkan bank notes pada pukul 09.29 WIB, harga beli dolar AS berada di level Rp16.575 dan harga jual Rp16.875.

Kurs Dolar AS di BNI Hari Ini

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menetapkan harga beli dan jual dolar AS untuk special rates pada pukul 09.35 WIB masing-masing sebesar Rp16.759 dan Rp16.779.

Berdasarkan TT counter, BNI mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.610 dan harga jual Rp16.910. Untuk bank notes, harga beli dolar AS berada di level Rp16.610 dan harga jual Rp16.910 per dolar AS.

Sutomo

Sutomo

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Komitmen Gozco Capital Dukungan Strategis Bank Neo Commerce 2026

Komitmen Gozco Capital Dukungan Strategis Bank Neo Commerce 2026

Penerimaan Pajak Awal Tahun Menguat, Purbaya Optimistis Ekonomi 2026 Stabil

Penerimaan Pajak Awal Tahun Menguat, Purbaya Optimistis Ekonomi 2026 Stabil

BI Optimalkan Debt Switching 2026 Untuk Menjaga Kesehatan Fiskal

BI Optimalkan Debt Switching 2026 Untuk Menjaga Kesehatan Fiskal

Update Harga Emas Antam Rabu 4 Februari 2026 Menguat Signifikan

Update Harga Emas Antam Rabu 4 Februari 2026 Menguat Signifikan

Cek Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 4 Februari 2026 Terbaru

Cek Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 4 Februari 2026 Terbaru