Banjir Sumatera Ubah Pola Pikir Konsumen Properti Lebih Hati Hati Tahun 2026
- Selasa, 03 Februari 2026
JAKARTA - Rentetan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara pada akhir 2025 menjadi titik balik bagi masyarakat dalam memandang hunian.
Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi diposisikan sebagai aset jangka panjang yang harus aman dan berkelanjutan. Peristiwa tersebut mendorong konsumen untuk lebih kritis sebelum mengambil keputusan membeli properti.
Memasuki 2026, perubahan perilaku ini semakin terlihat. Masyarakat kini lebih selektif dengan mempertimbangkan berbagai aspek mendasar, mulai dari kualitas kawasan, keamanan lingkungan, hingga potensi nilai properti dalam jangka panjang. Faktor risiko banjir menjadi perhatian utama, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana dalam pengembangan hunian.
Baca JugaZulhas Tegaskan Operasional Kopdes Dimulai Usai Fisik Bangunan Rampung
Situasi tersebut menuntut pengembang properti untuk beradaptasi. Klaim pemasaran semata tidak lagi cukup untuk meyakinkan konsumen. Developer dituntut menghadirkan bukti nyata melalui perencanaan matang, kualitas pembangunan, serta komitmen jangka panjang terhadap lingkungan dan penghuni.
Perubahan Perilaku Konsumen Pasca Bencana
Chairman Samera Group, Adi Ming E, mengungkapkan bahwa 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi industri properti. Namun di balik tekanan tersebut, terdapat proses konsolidasi yang memaksa pelaku industri untuk berbenah dan memahami perubahan pola pikir konsumen.
Optimisme terhadap pemulihan sektor properti nasional disampaikan Adi Ming E dalam Temu Ramah Media di Medan. Ia menyebut berbagai pakar ekonomi memproyeksikan sektor properti mulai memasuki fase pemulihan pada 2026. Proyeksi tersebut didorong oleh membaiknya indikator makroekonomi serta kesinambungan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor perumahan.
Menurutnya, konsumen saat ini jauh lebih berhati-hati dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak lagi terburu-buru mengambil keputusan, melainkan melakukan riset mendalam sebelum membeli hunian, terutama di wilayah yang memiliki riwayat bencana.
“Pembeli sekarang tidak hanya melihat harga dan lokasi, tetapi juga mempertimbangkan aspek jangka panjang seperti keamanan kawasan, kualitas infrastruktur, dan perencanaan lingkungan,” ujarnya.
Isu Banjir Jadi Pertimbangan Utama Hunian
Risiko banjir menjadi salah satu isu paling krusial dalam pertimbangan konsumen. Pengalaman langsung maupun informasi dari berbagai daerah membuat masyarakat semakin sadar bahwa kesalahan memilih lokasi hunian dapat berdampak panjang.
Menanggapi hal tersebut, Samera Group mengangkat konsep Perumahan Bebas Banjir di kawasan Samera Djohor. Namun Adi Ming E menegaskan bahwa isu banjir tidak dijadikan sekadar narasi promosi, melainkan sebagai komitmen mendasar dalam setiap proyek pengembangan.
Ia menjelaskan bahwa seluruh proyek perumahan Samera Group dirancang dengan standar mitigasi banjir yang seragam. Proses tersebut dilakukan melalui kajian historis wilayah, analisis kontur lahan, hingga perhitungan teknis yang matang sejak tahap awal perencanaan.
Pendekatan ini, menurutnya, terbukti efektif. Saat banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara beberapa waktu lalu, kawasan hunian yang dikembangkan Samera Group tidak mengalami genangan, berbeda dengan beberapa area sekitarnya.
Perencanaan Teknis Menjadi Kunci Nilai Properti
Dari sisi teknis, Adi Ming E menekankan pentingnya pemilihan elevasi lahan yang tepat. Kesalahan dalam menentukan elevasi dapat menyebabkan kawasan hunian rentan tergenang, meskipun memiliki sistem drainase yang baik.
Selain itu, pembangunan sistem drainase terintegrasi juga menjadi faktor krusial. Drainase tidak hanya dirancang untuk mengalirkan air hujan, tetapi harus mampu mengantisipasi curah hujan ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Menurut Adi Ming E, kekeliruan dalam dua aspek tersebut akan berdampak panjang. Tidak hanya pada kenyamanan penghuni, tetapi juga pada nilai properti di masa depan. Hunian yang kerap terdampak banjir cenderung mengalami penurunan nilai dan sulit dipasarkan kembali.
Oleh karena itu, infrastruktur kawasan dirancang bukan untuk kebutuhan jangka pendek, melainkan untuk mendukung penggunaan lintas generasi. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga kualitas hunian sekaligus nilai aset dalam jangka panjang.
Dukungan Kebijakan Dorong Optimisme 2026
Membahas prospek industri ke depan, Adi Ming E menilai 2026 sebagai momentum kebangkitan sektor properti. Optimisme tersebut diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah hingga 31 Desember 2026.
Kebijakan ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi. Di sisi lain, insentif tersebut memberikan ruang bagi pengembang untuk meningkatkan kualitas produk tanpa harus sepenuhnya membebani konsumen.
Adi Ming E menilai keberlanjutan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan pasar. Dengan dukungan regulasi yang konsisten, pelaku industri dapat lebih fokus pada inovasi dan peningkatan mutu hunian.
“Inovasi ke depan tidak bisa hanya soal strategi penjualan. Kualitas bangunan, fasilitas kawasan, dan spesifikasi unit akan menjadi penentu utama keputusan konsumen,” katanya.
Properti Antara Hunian Dan Investasi Jangka Panjang
Terkait properti sebagai instrumen investasi, terutama jika dibandingkan dengan emas, Adi Ming E menilai tren spekulatif masih belum dominan. Berdasarkan data internal Samera Group, mayoritas pembelian rumah saat ini didorong oleh kebutuhan hunian, bukan semata-mata tujuan investasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen lebih mengutamakan fungsi tempat tinggal yang aman dan nyaman. Namun demikian, properti tetap memiliki daya tarik sebagai aset jangka panjang apabila dikembangkan dengan konsep dan perencanaan yang tepat.
Dengan lokasi strategis, pengelolaan kawasan yang baik, serta layanan purna jual yang konsisten, properti berpotensi memberikan pertumbuhan nilai aset yang stabil. Hal ini menjadi pertimbangan tambahan bagi konsumen yang ingin mengamankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Perubahan perilaku konsumen pasca bencana banjir di Sumatera menjadi sinyal penting bagi industri properti. Tahun 2026 dipandang sebagai era baru, di mana kualitas, keamanan, dan keberlanjutan menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan hunian.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Dinamika Sembako Kehidupan: Ramalan Zodiak Hari Ini Fokus Evaluasi Rencana
- Kamis, 05 Februari 2026
Dinamika Internal Real Madrid: Isu Konflik Mencuat Akibat Eksperimen Taktik Arbeloa
- Kamis, 05 Februari 2026
IFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
BPS Laporkan Pekerja Bertambah dan Pengangguran Menurun Secara Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Pembukaan Tol Fungsional di Solo-Yogya dan Yogya-Bawen Lebaran 2026
- Kamis, 05 Februari 2026
IKN Kembangkan Pariwisata Berbasis Alam dengan Keterlibatan Warga Lokal
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
Pembukaan Tol Fungsional di Solo-Yogya dan Yogya-Bawen Lebaran 2026
- 05 Februari 2026
2.
3.
Buku Manasik Haji 2026 Kemenhaj Fokuskan Kemudahan untuk Lansia
- 05 Februari 2026
4.
Daftar 20 Kampus Paling Unggul di Asia Edisi TIME-Statista 2026
- 05 Februari 2026
5.
Xiaomi SU7 Geser Dominasi Tesla di Pasar Sedan Listrik China
- 05 Februari 2026












