Bintaro hingga Jagung: Enam Tanaman Beracun yang Tumbuh di Indonesia
TEROPONGBISNIS.ID — Sejumlah tanaman yang tumbuh subur di Indonesia menyimpan racun mematikan di balik penampilannya. Mulai dari biji bintaro yang menyerang jantung hingga jagung yang bisa memicu penyakit pellagra, risikonya nyata jika salah penanganan.
Royal Horticultural Society (RHS) dan Discover Wildlife mencatat deretan tumbuhan paling berbahaya di dunia. Beberapa di antaranya justru mudah ditemukan di halaman rumah atau kebun warga Indonesia.
Racun pada tanaman berfungsi sebagai benteng alami menghadapi ancaman lingkungan. Efeknya bagi manusia bisa ringan seperti iritasi, tetapi juga fatal hingga menyebabkan kematian.
Bintaro, Si Pohon Bunuh Diri dari Jawa hingga Kalimantan
Biji bintaro (Cerbera odollam) mengandung cerberin, senyawa yang merusak kinerja jantung. Dalam kondisi terburuk, konsumsi biji ini bisa memicu henti jantung mendadak.
Kew Science mencatat tanaman berjuluk suicide tree ini tumbuh alami di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Keberadaannya di Indonesia tergolong melimpah.
Saga Rambat dan Bunga Mentega, Cantik Tapi Mematikan
Biji saga rambat berwarna merah dengan ujung hitam sering dipakai sebagai ornamen. Di balik keindahannya, biji ini menyimpan abrin, racun berkekuatan tinggi.
Jika biji rusak atau tergigit lalu racunnya masuk tubuh, korban bisa mengalami mual, muntah, kejang, hingga kerusakan organ. Oleander atau bunga mentega juga tak kalah berbahaya.
Tanaman hias berbunga merah muda ini mengandung cardiac glycosides yang mengacaukan irama jantung bila tertelan. Kew Science mencatat oleander sudah menyebar di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil meski bukan spesies asli Indonesia.
Kecubung, Antara Obat Tradisional dan Halusinogen
Kecubung (Datura metel) berpenampilan khas dengan bunga terompet putih atau ungu serta buah bulat berduri. Tanaman semak keluarga terong-terongan ini banyak dijumpai di daerah tropis, termasuk Indonesia.
Warga kerap menanamnya sebagai hiasan, bahkan memanfaatkannya untuk pengobatan tradisional berbagai keluhan. Namun senyawa di dalamnya bisa menyerang sistem saraf, memicu halusinasi, gangguan denyut jantung, hingga kejang.
Tembakau dan Jagung, Dua Komoditas Bernilai Ekonomi Tinggi
Tembakau (Nicotiana tabacum) mengandung alkaloid nikotin dan anabasine dengan konsentrasi tinggi pada daun. Seluruh bagian tanaman ini berpotensi racun jika dikonsumsi langsung.
RHS menyoroti dampak produk tembakau yang menyebabkan jutaan kematian global setiap tahun akibat rokok dan paparan asapnya. Meski begitu, Nicotiana tabacum tetap menjadi komoditas komersial utama yang dibudidayakan luas di Jawa dan wilayah tropis lain.
Jagung (Zea mays) masuk daftar ini bukan karena beracun seperti kecubung. RHS mencatat konsumsi jagung sebagai makanan pokok jangka panjang tanpa pengolahan yang memadai bisa menghambat penyerapan vitamin B3 atau niasin.
Kondisi itu memicu pellagra dengan gejala dermatitis, diare, dan gangguan neurologis. Risiko ini muncul terutama bila jagung mendominasi pola makan dan asupan niasin dari sumber lain sangat minim.
Bahaya Tersembunyi di Jagung Berjamur
Jagung yang disimpan lembap rentan terkontaminasi jamur penghasil mikotoksin seperti aflatoksin dan fumonisin. Toksin ini sering tidak terlihat dari penampilan luar jagung.
Jika jagung sudah berjamur, berubah warna, berbau aneh, atau membusuk, sebaiknya tidak dikonsumsi. Proses memasak tidak selalu mampu menghilangkan seluruh mikotoksin yang terkandung.
Jagung mentah sendiri bukan berarti beracun, tetapi lebih sulit dicerna dan berpotensi membawa kontaminasi mikroba jika penanganannya buruk. Konsumsi jagung dalam pola makan seimbang tetap aman.
Jagung telah tersebar luas di Jawa, Sumatra, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil. Sifat beracun pada sejumlah tanaman dalam daftar ini tidak menghapus nilai ekonominya, terutama bagi tembakau dan jagung yang menjadi tulang punggung sektor pertanian.