TEROPONGBISNIS.ID — Serial Monster: The Lizzie Borden Story resmi tayang di Netflix dengan Ella Beatty sebagai Lizzie Borden dan Charlie Hunnam sebagai Andrew Borden. Ryan Murphy dan Ian Brennan kembali meracik kisah pembunuh nyata, kali ini kasus kapak tahun 1892 yang mengguncang Massachusetts. Alih-alih thriller psikologis tajam, hasilnya dinilai sebagai drama feminis yang dipaksakan.

Netflix menambah satu judul lagi ke jagat Monster racikan Ryan Murphy dan Ian Brennan. Kali ini giliran Lizzie Borden, perempuan yang dituduh membunuh ayah dan ibu tirinya dengan kapak pada Agustus 1892 di Fall River, Massachusetts.

Ella Beatty memerankan Lizzie, beradu akting dengan Charlie Hunnam, Rebecca Hall, Vicky Krieps, Sarah Paulson, hingga Billie Lourd. Murphy dan Brennan bertindak sebagai kreator, sementara Max Winkler menyutradarai episode perdana.

Premis: Lizzie, Maggie, dan Kapak yang Mengubah Hidup

Serial ini tidak berlama-lama bersikap ambigu soal siapa pelakunya. Sejak awal, Monster: The Lizzie Borden Story mengambil sikap tegas bahwa Lizzie memang yang mengayunkan kapak tersebut.

Motifnya digambarkan lugas: Abby dan Andrew Borden adalah sadis emosional yang kegemaran satu-satunya adalah menyiksa pelayan dan merendahkan putri mereka. Rebecca Hall dan Charlie Hunnam memainkan keduanya dengan gaya berlebihan, sampai ada adegan makan malam yang berujung muntah menyembur.

Vicky Krieps berperan sebagai Maggie, pembantu baru yang langsung mencuri perhatian keluarga lewat keterampilan dan gaya rambut punk-nya yang jelas tidak cocok dengan zamannya. Lizzie jatuh cinta hampir seketika, dan Maggie tampak membalas.

Kelemahan: Delapan Jam yang Dipaksa Panjang

Masalah utama serial ini muncul setelah semua teka-teki dijawab terlalu cepat. Dengan durasi delapan jam, The Lizzie Borden Story kehabisan bahan dan mulai mengulur-ulur cerita dengan berbagai cara yang tidak memuaskan.

Salah satunya memperlambat tempo. Dialog eksposisi diulang berkali-kali dalam jeda beberapa menit saja, seolah penonton tidak menyimak adegan sebelumnya.

Lizzie dan Maggie juga menjalani adegan alam penuh mimpi yang canggung meniru drama lesbian sejarah seperti Portrait of a Lady on Fire atau Ammonite, tapi dengan porsi seks jauh lebih sedikit. Alur menarik soal alasan Abby begitu menyebalkan malah ditutup sebelum sempat dijelaskan.

Ambisi Besar yang Tidak Terjawab

Cara lain yang dipakai untuk mengisi durasi justru lebih mengganggu. Serial ini bersikeras bahwa kisah Lizzie Borden sebenarnya membahas sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Lizzie digambarkan sebagai bagian dari garis keturunan panjang pembunuh perempuan, yang semua kisahnya diikat oleh konsep kabur soal "arti menjadi perempuan di masyarakat". Dari situ, serial menyiratkan ada sesuatu yang memberdayakan dari keputusan Lizzie membunuh orang tuanya dengan kapak.

Upaya itu dilakukan dengan menjalin kisah Lizzie bersama kisah pembunuh perempuan lain yang seterkenal dirinya. Di akhir abad ke-19, Lizzie dan Maggie menghabiskan waktu berjam-jam saling membacakan kisah Elizabetta Báthory, bangsawan abad ke-16 yang dituduh mandi darah perawan.

Krieps memerankan Elizabetta dalam kilas balik. Alur ini tidak menambah pemahaman berarti soal Elizabetta maupun Maggie, tapi setidaknya memberi sang aktris kesempatan mengenakan gaya rambut anachronistic lain.

Pemain dan Kreator

Selain nama-nama utama, serial ini juga menampilkan Jessica Barden, Joey Pollari, dan Billie Lourd. Kombinasi Murphy dan Brennan sudah dikenal lewat waralaba Monster sebelumnya yang menyorot kasus pembunuh berantai nyata.

Pendekatan yang sama dipakai lagi di sini, meski hasilnya dinilai jatuh menjadi nonsense feminis palsu oleh sebagian kritikus. Alih-alih menggali psikologi Lizzie secara serius, serial memilih villain yang karikatural dan pesan pemberdayaan yang dipaksakan.

Monster: The Lizzie Borden Story menambah daftar panjang adaptasi kasus Borden di layar, setelah versi Lizzie (2018) yang dibintangi Chloë Sevigny dan Kristen Stewart. Bagi penonton Indonesia penggemar true crime, serial ini tersedia untuk streaming di Netflix.

Reporter: Redaksi