The Fed Naikkan Suku Bunga 2026, Harga Minyak Mentah Dunia Melemah

Ilustrasi Pasokan minyak mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 17 September 2026 | 23:18:19 WIB

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan awal Kamis (17/9/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga. Penurunan ini turut dipicu kabar Arab Saudi yang menawarkan kargo minyak mentah tambahan lewat Oman, sehingga meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.

Harga minyak Brent terperosok US$ 1,24 atau 1,2% menuju US$ 104,59 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 1,14 atau 1,1% ke level US$ 101,29 per barel.

"Kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan sedikit mereda setelah muncul kabar bahwa Arab Saudi akan mengirimkan kargo melalui Oman," kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Arab Saudi diketahui menawarkan tambahan pengiriman minyak mentah kepada penyuling di Asia menggunakan metode ship-to-ship transfer di lepas pantai dekat pelabuhan Sohar, Oman. Langkah tersebut dinilai sebagian pihak dapat meminimalisasi dampak pasokan global atas serangan pada jaringan pipa East-West milik Arab Saudi menuju Laut Merah.

Tekanan terhadap harga minyak dunia juga datang dari keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan, hingga memicu penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut. Kebijakan peningkatan suku bunga acuan ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan sejak 2023.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam kurun sekitar empat bulan pada awal pekan. Lonjakan tersebut terjadi akibat kabar penghentian pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Yanbu milik Arab Saudi, serta pembatalan beberapa pengiriman ke konsumen di Eropa.

Langkah penghentian pemuatan dilakukan pascaserangan pada jaringan pipa East-West yang menyuplai minyak ke Pelabuhan Yanbu. Pelabuhan tersebut merupakan jalur ekspor utama Arab Saudi setelah Iran memblokade Selat Hormuz merespons serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.

Selat Hormuz sendiri menjadi perlintasan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.

Kendati harga minyak melandai pada Kamis, kekhawatiran atas eskalasi perang di Timur Tengah tetap membayangi. Pesawat tempur Arab Saudi terus menggempur wilayah Yaman, sedangkan kelompok Houthi membalas dengan melancarkan serangan drone serta rudal ke beberapa kota di Arab Saudi.

Di sisi lain, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu yang nilainya lebih kecil dari proyeksi awal.

Stok minyak mentah negara produsen terbesar itu menyusut sekitar 640.000 barel pada pekan lalu. Realisasi ini jauh di bawah perkiraan penurunan sebesar 1,62 juta barel berdasarkan konsensus analis Reuters.

Reporter: Akbar