TEROPONGBISNIS.ID — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,34% ke posisi Rp 17.735 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Pelemahan terjadi setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.

Rupiah dibuka melemah 0,17% di level Rp 17.705 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.675 per dolar AS. Tekanan jual berlanjut hingga menyentuh titik terlemah harian di Rp 17.765 per dolar AS.

Menjelang penutupan, mata uang Garuda memangkas sebagian pelemahannya. Rupiah akhirnya berakhir di Rp 17.735 per dolar AS.

Keputusan The Fed Jadi Pemicu Utama

The Fed resmi menaikkan suku bunga 25 basis poin ke rentang 3,75%-4,00%. Keputusan itu diambil bulat dengan suara 12-0 dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023, atau lebih dari tiga tahun. The Fed juga memberi sinyal masih terbuka peluang satu kali kenaikan bunga lagi hingga akhir tahun.

Inflasi AS tercatat 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026, masih di atas target The Fed sebesar 2%. "Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam keterangan resminya.

Dolar AS Masih Perkasa

Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,09% ke posisi 100,157 pada pukul 15.00 WIB. Meski terkoreksi, DXY masih bertahan di atas level 100 setelah melonjak 0,64% pada perdagangan sebelumnya.

Posisi dolar AS yang kuat di pasar global menjaga daya tarik aset berdenominasi greenback. Kondisi ini mempertahankan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga tetap menjadi fokus utama bank sentral. Menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi dan bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.

Respons BI dan Proyeksi Analis

Rully Arya Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Bank Indonesia masih memiliki beberapa instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "Respons BI bergantung pergerakan rupiah: intervensi valas dan SRBI lini pertama, rate hike pilihan terakhir," tulis Rully dalam laporan Macro Tracker, Kamis (17/9/2026).

Rully memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur 22-23 September. Namun, pergerakan rupiah menuju kisaran Rp 17.850-Rp 17.900 per dolar AS dapat menguji pilihan BI untuk kembali mengandalkan SRBI atau menaikkan suku bunga hingga 6,00%.

Pelemahan rupiah kali ini menegaskan tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS masih menjadi faktor dominan bagi pasar valas domestik. Pelaku pasar kini menanti langkah Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur pekan depan.

Reporter: Redaksi