TEROPONGBISNIS.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah menghadapi tekanan setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00 persen dalam rapat FOMC. Kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hingga 5 persen memperbesar risiko capital outflow dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kenaikan suku bunga The Fed berdampak langsung pada lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 5 persen. Level ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007.
Tekanan terhadap Rupiah dan IHSG
Ekonom CNBC Indonesia Research, Maesaroh, menyebut kenaikan imbal hasil US Treasury sejalan dengan penguatan indeks dollar. Kondisi ini memicu lonjakan capital outflow di pasar keuangan negara-negara emerging markets.
Aliran modal keluar dari pasar berkembang membuat potensi pelemahan mata uang dan pasar saham di kawasan ini semakin besar. Indonesia termasuk negara yang menghadapi risiko tersebut.
Tekanan ini mendorong pelemahan Rupiah hingga IHSG. Selain itu, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) menambah beban bunga utang pemerintah.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi mengerek biaya pinjaman korporasi. Perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dollar akan merasakan dampak paling langsung.
Sentimen Global Masih Jadi Penentu
Pasar keuangan Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter AS. Ketika The Fed menaikkan suku bunga, imbal hasil aset AS menjadi lebih menarik bagi investor global.
Investor cenderung memindahkan dana dari negara berkembang ke aset yang lebih aman di AS. Pola ini sudah terlihat dari penguatan indeks dollar yang menyertai kenaikan US Treasury.
Bagi pasar saham domestik, tekanan jual oleh investor asing menjadi faktor utama yang menekan IHSG. Net sell asing di pasar reguler biasanya meningkat saat sentimen global memburuk.
Di sisi lain, kenaikan yield SBN mencerminkan ekspektasi pasar terhadap risiko yang lebih tinggi. Pemerintah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap pembiayaan anggaran.
Apa yang Perlu Dicermati ke Depan
Arah pergerakan IHSG dan Rupiah ke depan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika tekanan capital outflow berlanjut, volatilitas di pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih tinggi.
Pelaku pasar juga akan mencermati data ekonomi domestik dan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kombinasi faktor global dan domestik ini yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa waktu ke depan.