Laba INCO Meledak 313 Persen, Analis Pertahankan Rekomendasi Buy
JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadapi tantangan fluktuasi harga komoditas nikel global dan kenaikan biaya energi di tengah upaya memperluas diversifikasi produk tambangnya.
Manajemen perseroan berupaya mendorong pertumbuhan penjualan dan efisiensi operasional untuk memitigasi ketidakpastian makroekonomi pada semester kedua 2026.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai kinerja operasional INCO berada di jalur pemulihan yang solid secara berurutan pada semester kedua 2026. Pertumbuhan penjualan dan lonjakan volume produksi menjadi katalis utama yang mendorong kinerja emiten tambang nikel tersebut.
Secara operasional, perseroan mencatat peningkatan produksi nikel matte sebesar 19% secara kuartalan (Quarter on Quarter/QoQ) menjadi 16.153 ton pada kuartal II 2026.
Pencapaian tersebut membawa total volume produksi nikel matte INCO pada semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton.
Adrian menyoroti keberhasilan perseroan mempertahankan disiplin operasional di tengah dinamika pasar. Produksi nikel matte pada semester pertama 2026 terutama ditopang oleh penyelesaian proyek rebuild Electric Furnace 3 pada Juni 2026.
"Disiplin operasional perusahaan yang kuat serta peningkatan kapasitas memberikan landasan yang kokoh untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah kondisi pasar yang dinamis," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Peningkatan kapasitas operasional tersebut berdampak positif terhadap realisasi volume penjualan perseroan. Penjualan bijih nikel (nickel ore) perseroan mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal kedua 2026.
Blok Bahodopi membukukan penjualan saprolite ore sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt). Sementara itu, penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa tercatat melesat hingga mencapai 496 ribu wmt.
Kenaikan volume tersebut mendorong kinerja keuangan segmen bijih nikel secara drastis. Secara keseluruhan, pendapatan segmen nickel ore INCO melonjak hingga 2.840% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 142 juta pada semester I-2026.
Pencapaian tersebut menopang total pendapatan perseroan yang tumbuh 27% YoY menjadi US$ 543 juta.
Laba bersih perseroan pada semester pertama 2026 juga melonjak 313% yoy menjadi US$ 104 juta berkat efisiensi struktur biaya. Pada kuartal kedua 2026 saja, laba bersih INCO tercatat mencapai US$ 61 juta atau meningkat 39% secara kuartalan.
Meski biaya energi global seperti HSFO, diesel, dan batu bara meningkat, cash cost nikel matte INCO pada kuartal kedua 2026 berhasil membaik menjadi US$ 10.005 per ton. Margin laba kotor perseroan meningkat menjadi 28,04% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,07%.
Di sisi lain, Analis UBS Global Research Igor Putra menggarisbawahi efisiensi biaya serta ramp up volume produksi yang berhasil melampaui estimasi konsensus pasar pada kuartal kedua 2026.
Peningkatan volume penjualan bijih nikel hingga 139% QoQ pada kuartal II-2026 secara signifikan memperkuat operating leverage dan menurunkan biaya unit. Biaya kas pada tambang nikel Pomalaa bahkan berhasil ditekan menjadi US$ 7 per wmt dari sebelumnya US$ 13 per wmt pada kuartal pertama 2026.
"Dengan penjualan bijih nikel/nikel matte pada semester pertama tahun 2026 yang mencapai 28%/41% dari estimasi kami untuk tahun 2026, kami meyakini INCO akan kembali mencatatkan pemulihan laba secara berurutan pada semester kedua tahun 2026 (H226), yang didorong oleh peningkatan pertumbuhan penjualan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Igor Putra juga menilai perseroan memiliki narasi pertumbuhan pendapatan terbaik di antara emiten nikel lainnya. Transisi model bisnis struktural INCO dari sekadar penjual nikel matte menjadi pemasok bijih nikel dan mixed hydroxide precipitate (MHP) menjadi nilai tambah utama.
Kemitraan strategis INCO dengan perusahaan material energi baru asal China memperkuat posisi perseroan dalam menghadapi tantangan pasokan sulfur global.
Langkah tersebut sekaligus memperlancar kesiapan komisioning proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang ditargetkan berlangsung pada kuartal ketiga 2026.
Kendati demikian, Igor dan Adrian mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja emiten tambang ini. Risiko utama mencakup potensi penurunan harga nikel global, fluktuasi biaya energi, serta keterlambatan perizinan kuota penambangan (RKAB).
Atas berbagai faktor operasional dan prospek ekspansi margin tersebut, Igor dan Adrian mempertahankan pandangan positif terhadap saham INCO.
Adrian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target Rp 6.300 per saham.
Sementara itu, Igor mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 8.400 per saham.