JPM Ungkap Alasan NatWest Jadi Saham Bank Inggris Pilihan

Ilustrasi J.P. Morgan memilih NatWest sebagai saham bank Inggris pilihan karena eksposur besar pada pertumbuhan pinjaman korporasi dan tema AI. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 16 September 2026 | 01:24:03 WIB

JAKARTA - NatWest Group menjadi saham bank Inggris yang paling positif menurut J.P. Morgan. Pialang tersebut menilai NatWest memiliki eksposur besar terhadap potensi lonjakan pinjaman korporasi.

J.P. Morgan memberikan peringkat "overweight" untuk NatWest Group dan menaikkan target harga Desember 2027 menjadi 830 pence dari sebelumnya 790 pence. Target tersebut mengimplikasikan potensi re-rating sebesar 7,4 kali proyeksi laba 2028.

Salah satu alasan utama J.P. Morgan memilih NatWest adalah kontribusi bisnis Corporate & Institutional (C&I) yang besar. Pada 2025, bisnis tersebut menyumbang 53% pendapatan grup dan laba pra-provisi NatWest.

Sebagai pembanding, kontribusi C&I terhadap kedua metrik tersebut di Lloyds hanya sekitar 30%.

Buku pinjaman C&I NatWest tumbuh 22% secara tahunan pada paruh pertama 2026. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu pendorong volume terkuat di sektor perbankan Inggris, ditopang permintaan yang berkaitan dengan infrastruktur dan kecerdasan buatan (AI).

J.P. Morgan memperkirakan NatWest memiliki pangsa pasar pinjaman sekitar 20% dan pangsa pasar deposito sebesar 25% pada segmen tersebut.

Pialang itu juga menyebut NatWest sebagai "bank infrastruktur #1 Inggris dan pemberi pinjaman perumahan sosial."

Keunggulan kompetitif NatWest turut didukung oleh jaringan sekitar 1.000 manajer hubungan serta platform teknologi yang dimiliki perseroan. Menurut J.P. Morgan, kekuatan tersebut tercermin dari skor net promoter yang unggul.

Di sisi pendanaan, deposito korporasi NatWest meningkat sekitar 8% secara tahunan sejak awal tahun. Pertumbuhan tersebut didukung strategi pengumpulan deposito yang lebih terfokus.

J.P. Morgan juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan pinjaman korporasi Inggris menjadi tingkat tahunan majemuk sebesar 8%-9% untuk periode 2025-2028.

Proyeksi tersebut didasarkan pada penilaian bahwa "siklus releveraging korporasi yang masih berada di tahap awal", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ruang pertumbuhan tersebut juga tercermin dari rasio utang korporasi Inggris terhadap produk domestik bruto (PDB) yang berada di level 59%.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 80% sebelum krisis keuangan 2008 dan 103% di Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai masih memberikan ruang bagi tambahan kapasitas utang yang diperkirakan J.P. Morgan mencapai £300 miliar jika leverage kembali ke sekitar 70%, atau level sebelum pandemi.

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 40% diperkirakan dapat berasal dari pendanaan perbankan.

Peluang lain berasal dari pengembangan pusat data AI. J.P. Morgan memperkirakan sektor tersebut membutuhkan pembiayaan lebih dari £40 miliar, di luar kebutuhan chip dan rantai pasokan yang lebih luas.

Kebutuhan pembiayaan itu berkaitan dengan target pemerintah Inggris untuk memiliki kapasitas pusat data berkemampuan AI lebih dari 6 gigawatt pada 2030. Saat ini, kapasitas tersebut berada di sekitar 2 gigawatt.

Perubahan proyeksi J.P. Morgan juga mempertimbangkan tren pertumbuhan pinjaman dan deposito korporasi yang lebih kuat serta prospek suku bunga Bank of England yang dinilai lebih tangguh.

Namun, sejumlah faktor tersebut sebagian diimbangi oleh asumsi pajak tambahan bank yang lebih tinggi, yakni 5% dari sebelumnya 3%. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk memperhitungkan risiko penurunan.

Secara keseluruhan, J.P. Morgan menaikkan estimasi laba per saham NatWest sebesar 1%-2% untuk periode 2027-2028.

Selain NatWest, J.P. Morgan memberikan peringkat "overweight" kepada Barclays dengan target harga 620 pence.

Sementara itu, Lloyds Banking Group memperoleh peringkat Neutral dengan target harga 123 pence.

Reporter: Ibtihal