Saham ICBP Masih Menarik, Analis Beri Target hingga Rp11.150
JAKARTA - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tantangan dari kenaikan harga bahan baku serta volatilitas nilai tukar di tengah upaya memperluas pasar internasional. Manajemen perseroan terus menjaga kinerja operasional untuk meredam ketidakpastian makroekonomi pada semester kedua 2026.
Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati menilai kinerja operasional ICBP sepanjang semester pertama 2026 masih solid. Pendapatan perseroan tercatat Rp 41,86 triliun atau meningkat 11% secara tahunan (year on year/YoY).
Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan yang terjadi di seluruh segmen bisnis ICBP. Segmen nutrisi dan makanan khusus mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 16% YoY menjadi Rp 750 miliar.
Pertumbuhan berikutnya berasal dari segmen produk olahan susu (dairy) yang naik 15% YoY menjadi Rp 5,64 triliun. Sementara segmen mi instan tumbuh 11% YoY menjadi Rp 31,17 triliun, didukung oleh kuatnya permintaan dari pasar domestik dan ekspor.
Segmen makanan ringan juga tumbuh 9% YoY menjadi Rp 2,55 triliun. Kemudian, segmen penyedap makanan meningkat 6% YoY menjadi Rp 2,56 triliun. Adapun pendapatan segmen minuman naik tipis menjadi Rp 743 miliar pada semester I-2026.
Di tengah pertumbuhan penjualan tersebut, laba bersih ICBP pada semester I-2026 justru turun 33% YoY menjadi Rp 3,70 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya beban keuangan.
Vinna menjelaskan, beban keuangan melonjak 216% YoY menjadi Rp 4,09 triliun akibat kerugian selisih kurs yang belum terealisasi dari obligasi global perseroan.
Kerugian kurs tersebut meningkat tajam menjadi Rp 2,95 triliun, dibandingkan Rp 227,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini terjadi setelah ICBP menerbitkan obligasi dalam denominasi dolar AS senilai USD 2,75 miliar.
Tekanan nilai tukar tersebut turut menekan marjin laba bersih ICBP menjadi 8,8% dari sebelumnya 14,72%.
"Depresiasi rupiah yang terus berlanjut sepanjang tahun 2026, ditambah dengan revisi prospek peringkat kredit negara Indonesia menjadi 'Negatif' oleh Moody's dan Fitch, dapat terus membebani profitabilitas ICBP," kata Vinna dalam risetnya, (10/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski menghadapi tekanan tersebut, manajemen ICBP memproyeksikan penjualan tumbuh 5% hingga 7% YoY sepanjang 2026. Perseroan juga menargetkan margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT margin) berada pada kisaran 20% hingga 22%.
Selain faktor nilai tukar, pergerakan harga komoditas bahan baku utama juga menjadi tantangan bagi kinerja perseroan.
Analis OCBC Sekuritas Jessica Leonardy menilai biaya produksi ICBP berpotensi tertekan akibat kondisi cuaca global yang merugikan. Salah satu bahan baku yang menjadi perhatian adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), yang diperkirakan tetap berada pada level tinggi seiring meningkatnya risiko cuaca.
Probabilitas terjadinya fenomena El Niño diperkirakan mencapai sekitar 80% pada semester kedua 2026. Angka tersebut berpotensi meningkat hingga melampaui 90% sampai Oktober 2026, dengan tingkat keparahan sedang hingga kuat.
Cuaca ekstrem tersebut berisiko mengganggu pasokan CPO dunia dan mendorong kenaikan harga secara signifikan. Sementara itu, dampak terhadap bahan baku seperti gula dan gandum diperkirakan relatif lebih terbatas karena basis produksinya tersebar secara geografis di belahan bumi utara dan selatan.
Untuk mengurangi risiko gagal panen, ICBP melakukan diversifikasi sumber pasokan gandum dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Argentina. Dari sisi harga jual, manajemen juga mengambil pendekatan yang terukur dan prudent.
Perseroan hanya menaikkan harga jual produk apabila tekanan biaya input dan nilai tukar dinilai bersifat struktural serta berkelanjutan. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga daya saing jangka panjang, bukan hanya mempertahankan marjin dalam jangka pendek.
Dari sisi pasar, kontribusi bisnis internasional ICBP diperkirakan terus meningkat dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat memberikan diversifikasi terhadap aliran pendapatan perseroan.
Pada semester I-2026, pendapatan dari kawasan Asia dan Afrika tumbuh 20,7% YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh tingginya volume penjualan produk mi instan.
Volume penjualan mi instan di pasar luar negeri meningkat 13% YoY pada semester I-2026. Pertumbuhan tersebut kemudian mencapai 20% YoY pada kuartal II-2026 dan melampaui pertumbuhan volume penjualan di pasar domestik.
Jessica memperkirakan pasar Asia dan Afrika tumbuh 8,8% YoY pada 2026. Kontribusinya terhadap total pendapatan ICBP juga diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 29%.
Ekspansi internasional dinilai menjadi salah satu kunci pertumbuhan struktural ICBP ketika konsumsi domestik menghadapi tekanan akibat daya beli yang melandai.
Untuk mendukung ekspansi, perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 5,5 triliun pada 2026. Dana tersebut digunakan antara lain untuk menambah kapasitas produksi dan melakukan modernisasi pabrik mi instan.
Fasilitas pabrik baru di Bogor diperkirakan memberikan tambahan kapasitas sebesar 1,5 miliar bungkus mi instan. Selain itu, ICBP juga menambah lini produksi baru di jaringan distribusi internasional.
Tambahan kapasitas tersebut dipersiapkan untuk memenuhi peningkatan permintaan dalam jangka panjang, baik dari pasar domestik maupun ekspor.
"Menurut pandangan kami, valuasi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan ketahanan bisnis inti ICBP, kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, serta kontribusi yang terus meningkat dari pasar luar negeri," kata Jessica dalam risetnya, (14/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Vinna mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 11.150 per saham.
Sementara itu, Jessica juga memberikan rekomendasi buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 10.000 per saham.