Suahasil Jadi Menkeu, Saham Rokok Berpotensi Tertekan
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026).
Pergantian pimpinan Kementerian Keuangan turut memberikan dampak terhadap pergerakan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri rokok atau sigaret.
Pada perdagangan Selasa (15/9/2026) hingga pukul 13:52 WIB, sejumlah saham emiten rokok seperti GGRM, HMSP dan WIIM kompak berada di zona merah. Masing-masing saham tersebut turun 5,79%, 7,64% dan 2,23%.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai pergantian Menteri Keuangan menjadi Suahasil Nazara berpotensi memberikan pengaruh terhadap sektor rokok.
Menurut Rully, arah kebijakan Suahasil diperkirakan tidak akan terlalu berbeda dengan pendekatan Sri Mulyani. Kebijakan tersebut dinilai cenderung lebih tegas terhadap sektor-sektor yang memiliki dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, termasuk industri rokok.
Pendekatan tersebut dinilai berbeda dengan kebijakan Purbaya Yudhi Sadewa yang selama ini dipandang lebih mendukung sektor sigaret. Perbedaan pandangan kedua pejabat tersebut berpotensi membuat kebijakan terhadap industri rokok menjadi lebih ketat ke depan.
"Kita tahu Pak Purbaya cenderung lebih pro terhadap sektor sigaret ini. Jadi ada perbedaan paham, perbedaan pandangan dari kedua kubu tersebut, sehingga kemungkinan kebijakan juga akan lebih keras terhadap sektor rokok," kata Rully dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas, Selasa (15/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, sektor perbankan dinilai relatif tidak banyak terdampak oleh dinamika kebijakan fiskal yang berlangsung saat ini. Rully menjelaskan, pemerintah justru mendorong industri perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit secara lebih agresif.
Lebih lanjut, Rully mengatakan pergantian Menteri Keuangan diperkirakan lebih cepat memberikan dampak terhadap pasar Surat Berharga Negara (SBN) dibandingkan sektor perbankan.
Menurutnya, tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan dapat memengaruhi minat investor asing untuk berinvestasi pada instrumen SBN.
"Itu mungkin yang paling cepat transmisinya," pungkas Rully, sebagaimana dilansir dari berita sumber.