Saham Inggris Menguat, FTSE 100 Terdorong Pertumbuhan PDB

Ilustrasi Saham-saham Inggris bergerak menguat pada Jumat (11/9/2026). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 11 September 2026 | 23:41:26 WIB

JAKARTA – Saham-saham Inggris bergerak menguat pada Jumat (11/9/2026). Penguatan tersebut ditopang data Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris yang lebih baik dari perkiraan dan mampu meredam kekhawatiran pasar terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pada pukul 20:20 WIB, FTSE 100 naik 0,58%. Pada saat yang sama, DAX Jerman menguat 0,42% dan CAC 40 Prancis naik 0,61%. Pound sterling relatif stabil di level $1,3512 terhadap dolar.

Perekonomian Inggris tumbuh 0,4% pada Juli, melanjutkan pertumbuhan 0,3% pada Juni sekaligus melampaui ekspektasi yang memperkirakan tidak ada pertumbuhan. Data tersebut disampaikan Kantor Statistik Nasional (ONS).

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Inggris mencapai 1,6%, menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025.

Direktur Statistik Ekonomi ONS Liz McKeown menyatakan bahwa "kekuatan yang terus berlanjut di sektor jasa hanya sebagian diimbangi oleh penurunan di sektor produksi dan konstruksi," seraya menambahkan bahwa kecerdasan buatan tampaknya turut mendorong pengembangan perangkat lunak, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, James Smith dari ING menilai angka tersebut memberikan gambaran momentum yang lebih kuat dari kondisi sebenarnya. Sekitar separuh pertumbuhan pada Juni berasal dari sektor IT yang hanya menyumbang 7% terhadap perekonomian. Selain itu, PDB Inggris secara historis memiliki pola musiman, yakni tumbuh kuat pada paruh pertama tahun dan melambat pada paruh kedua.

Di tengah sentimen positif dari data ekonomi, situasi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Pasukan Houthi menyelesaikan ofensif selama 18 jam untuk mengambil kendali penuh atas garis pantai Laut Merah Yaman, termasuk selat strategis Bab al-Mandeb, setelah sebelumnya menguasai pelabuhan Mocha.

Pasukan Saudi kemudian merespons dengan serangan udara ke bandara Mocha, menurut laporan stasiun penyiaran yang berafiliasi dengan Houthi, Al-Masirah. Sementara itu, citra satelit yang dikutip Reuters memperlihatkan asap di dekat jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi. Jalur tersebut merupakan salah satu arteri penting yang kini digunakan untuk mengalihkan minyak mentah dari Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Iran juga menyatakan angkatan lautnya telah menghantam kapal tak berawak jenis "Saildrone" milik AS di Selat Hormuz dan menyebut telah "menggagalkan misi agresifnya.", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan tersebut muncul setelah pengawas nuklir PBB, IAEA, mengeluarkan resolusi yang menuduh Iran melakukan "ketidakpatuhan" terhadap komitmen nonproliferasinya dan membawa persoalan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Resolusi itu menjadi yang pertama dalam 20 tahun.

Utusan Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menolak tuduhan tersebut sebagai "bersifat politis dan bukan teknis.", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Data awal pelacakan kapal memperlihatkan jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz turun menjadi tujuh pada Kamis dari 11 kapal pada hari sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal, menurut laporan Reuters.

Harga minyak kemudian bergerak turun pada Jumat dan memangkas sebagian kenaikan tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya. Brent turun 3,12% ke $104,28 per barel, sedangkan WTI AS melemah 3,17% ke $99,19.

Pada Kamis, Brent dan WTI masing-masing melonjak 6,3% dan 6,7%. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun ke $4.371,80, sedangkan harga emas spot naik 0,3% ke $4.330.

ING memperkirakan Bank of England akan mempertahankan suku bunga pada level 3,75% pada Kamis mendatang. Perkiraan tersebut didasarkan pada pandangan bahwa inflasi yang dipicu energi belum meluas menjadi efek putaran kedua.

Inflasi pangan juga turun menjadi 1,3% dari 3,6% pada Januari. Meski demikian, ING menilai kenaikan suku bunga pada November "bukan tidak mungkin terjadi.", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di pasar saham Inggris, Berkeley Group memperingatkan bahwa lemahnya sentimen pembeli serta ketidakpastian politik memberikan tekanan terhadap permintaan perumahan.

Perusahaan tersebut mendorong adanya reformasi segera terkait bea meterai dan regulasi untuk meningkatkan transaksi sekaligus pembangunan rumah.

Sementara itu, pendapatan paruh pertama Trainline dan penjualan tiket bersih berhasil melampaui perkiraan. Pertumbuhan segmen yang lebih lambat diimbangi oleh dipertahankannya panduan FY2027 serta program pembelian kembali saham baru senilai £100 juta.

Reporter: Ibtihal