Saham BYAN Anjlok 4,9 Persen di Tengah Kabar Akuisisi Haji Isam
JAKARTA – Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merosot 4,9% dalam perdagangan Kamis 10 September 2026. Penurunan saham perusahaan tambang batu bara tersebut terjadi di tengah kabar rencana akuisisi 62% saham BYAN oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Pengusaha asal Kalimantan itu dikabarkan mengajukan penawaran untuk mengambil alih sekitar 62% saham Bayan Resources yang dimiliki orang terkaya Indonesia, Low Tuck Kwong, dan putrinya, Elaine Low.
Rabu (9/9/2026), entitas yang dikendalikan Haji Isam menawarkan sekitar US$ 3 miliar secara tunai untuk mengakuisisi saham mayoritas Bayan Resources.
Dengan asumsi nilai tukar Rp 17.500 per dolar AS, tawaran tersebut setara dengan sekitar Rp 52,5 triliun.
Saham yang menjadi sasaran penawaran terutama dimiliki Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Low Tuck Kwong memiliki sekitar 40% saham Bayan Resources, sedangkan putrinya menguasai sekitar 22%.
Low Tuck Kwong tercatat sebagai orang terkaya Indonesia pada September 2026. Berdasarkan perhitungan Forbes, kekayaannya mencapai US$18,8 miliar (sekitar Rp329,13 triliun), yang bersumber dari bisnis batu bara melalui PT Bayan Resources Tbk.
Sejumlah sumber yang mengetahui proses pembicaraan tersebut menyebut negosiasi masih berjalan. Identitas sumber tidak diungkap karena pembahasan mengenai transaksi tersebut bersifat privat.
Belum terdapat kepastian bahwa transaksi akan terlaksana. Apabila seluruh pihak mencapai kesepakatan atas persyaratan yang diajukan, transaksi tersebut berpotensi diselesaikan sebelum akhir 2026.
Kabar mengenai rencana akuisisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi saham BYAN. Pada perdagangan Kamis (10/9), saham BYAN ditutup di Rp 13.100, turun 675 poin atau 4,90% secara harian.
Meski demikian, dalam 30 hari perdagangan terakhir, harga saham BYAN masih mencatatkan kenaikan 8,94%.
Jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar Bayan Resources, nilai tawaran Haji Isam terbilang jauh lebih rendah.
Bayan Resources memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 26 miliar. Berdasarkan nilai tersebut, kepemilikan 62% saham secara teoritis memiliki nilai sekitar US$ 16,12 miliar sesuai harga pasar.
Sementara itu, tawaran Haji Isam hanya berada di kisaran US$ 3 miliar. Dengan demikian, nilai yang ditawarkan untuk saham mayoritas tersebut mencerminkan diskon sekitar 80% dibandingkan nilai pasar.
Berdasarkan nilai penawaran itu, valuasi Bayan Resources secara implisit berada di sekitar US$ 4,84 miliar.
Meski begitu, selisih antara nilai penawaran dengan kapitalisasi pasar tidak secara otomatis menunjukkan bahwa saham Bayan Resources akan berpindah tangan pada harga yang sama dengan harga pasar.
Bloomberg menyebut saham mayoritas milik keluarga Low berpotensi dijual dengan diskon besar karena porsi saham publik atau free float BYAN relatif terbatas. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan saham BYAN di pasar relatif tipis.
Harga saham yang terbentuk di pasar reguler juga belum tentu menggambarkan harga yang dapat diperoleh pemegang saham dalam transaksi blok besar secara privat.
Selain struktur kepemilikan, prospek batu bara termal dalam jangka panjang juga menjadi faktor yang diperhitungkan. Komoditas tersebut menghadapi tekanan seiring pergeseran penggunaan energi ke sumber yang lebih bersih.
Sektor batu bara Indonesia juga tengah menghadapi pembatasan produksi. Pemerintah memangkas sejumlah kuota produksi perusahaan tambang untuk mendukung harga batu bara.
Bayan Resources disebut menjadi salah satu perusahaan yang cukup terdampak kebijakan tersebut. Sebaliknya, sejumlah pesaing seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dinilai relatif lebih sedikit terkena dampaknya.
Pembayaran untuk transaksi tersebut berpotensi tidak dilakukan sekaligus. Berdasarkan sumber Bloomberg, pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan kedua pihak.
Haji Isam juga disebut berpeluang mendapatkan pendanaan dari bank-bank milik pemerintah Indonesia.
Namun, pembicaraan masih berlangsung sehingga belum ada kepastian bahwa kesepakatan akan tercapai.
Perwakilan Haji Isam, Bayan Resources, maupun keluarga Low belum memberikan tanggapan mengenai kabar tersebut.
Sebelumnya, Bayan Resources telah menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai isu rencana akuisisi tersebut.
Manajemen Bayan menyatakan perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2% saham perseroan oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya. Menurut perseroan, pemegang saham pengendali tetap dapat mempertimbangkan berbagai peluang untuk memaksimalkan investasinya.
Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan yang mengendalikan Jhonlin Group. Kelompok usaha tersebut juga menjalankan bisnis pertambangan batu bara.
Jhonlin disebut telah mengajukan kuota produksi sekitar 60 juta ton batu bara kepada pemerintah untuk 2026. Apabila akuisisi sekitar 62% saham Bayan Resources terealisasi, posisi Haji Isam dalam industri batu bara nasional akan semakin kuat.
Transaksi tersebut bahkan berpotensi membuat Haji Isam menjadi salah satu pemain batu bara terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Bayan Resources sendiri merupakan salah satu produsen batu bara besar di Indonesia. Perseroan juga mengoperasikan sejumlah fasilitas pelabuhan dan pada tahun lalu menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara.
Pada periode tersebut, Bayan Resources mencatatkan pendapatan sekitar US$ 3,4 miliar.
Dengan kepemilikan sekitar 40% saham oleh Low Tuck Kwong dan sekitar 22% oleh putrinya, total kepemilikan keluarga Low mencapai sekitar 62%. Porsi tersebut menjadi sasaran tawaran dari entitas yang dikendalikan Haji Isam.
Dengan demikian, rencana akuisisi BYAN masih berada dalam tahap negosiasi. Investor perlu mencermati perkembangan keterbukaan informasi dari BYAN sebelum menyimpulkan bahwa transaksi tersebut telah mencapai kesepakatan final.