Musim Dividen Interim Memanas, BBCA hingga BMRI Jadi Pilihan

Ilustrasi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang agresif membagikan dividen interim. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 09 September 2026 | 23:21:48 WIB

JAKARTA - Investor mulai dapat mencermati peluang dividen interim tahun buku 2026. Sejumlah emiten telah membuka peluang pembagian dividen di tengah musim dividen yang mulai berlangsung.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang agresif membagikan dividen interim. BBCA telah membagikan dividen interim Rp20 per saham pada Juni dan kembali menyalurkan Rp25 per saham pada Agustus.

Dengan demikian, total dividen interim BBCA sepanjang 2026 mencapai Rp45 per saham.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kemudian menyusul dengan menetapkan dividen interim Rp66 per saham atau sekitar Rp6,16 triliun. Di luar sektor perbankan, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) juga menyiapkan dividen interim sebesar Rp793,8 miliar atau Rp30 per saham.

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) masih membuka kemungkinan membagikan dividen interim. Head of Corporate Investor Relations ASII Tira Ardianti mengatakan keputusan dividen akan mempertimbangkan kondisi keuangan, profitabilitas, serta kebutuhan kas untuk operasional dan investasi.

"Jika posisi keuangan memungkinkan dan memperoleh persetujuan dewan komisaris, manajemen dapat memutuskan pembagian dividen interim," sebagaimana dilansir dari berita sumber. kata Tira kepada KONTAN, Selasa (8/9).

Namun, untuk tahun buku 2026, ASII belum memiliki keputusan yang dapat disampaikan mengenai waktu maupun besaran dividen interim. Keputusan tersebut nantinya akan mempertimbangkan berbagai faktor dan ketentuan yang berlaku.

Sinyal yang lebih jelas datang dari PT United Tractors Tbk (UNTR). Sekretaris Perusahaan UNTR Ari Setiyawan mengatakan kebijakan pembagian dividen perseroan tetap mengikuti pola tahun-tahun sebelumnya.

"UNTR selalu memberikan dividen interim dan final," sebagaimana dilansir dari berita sumber. jelasnya.

Kebijakan tersebut tetap menarik dicermati meski kinerja UNTR tengah menghadapi tekanan. Pada semester I-2026, laba bersih UNTR anjlok 88,2% secara tahunan menjadi Rp956,28 miliar.

Head of Research KISI Muhammad Wafi mengatakan musim dividen interim tahun ini mulai berlangsung. Secara historis, periode pembagian dividen interim biasanya ramai pada Agustus-Oktober setelah laporan semester pertama memberikan gambaran lebih jelas mengenai arus kas emiten.

Menurut Wafi, peluang pembagian dividen interim tahun ini cukup terbuka, terutama pada emiten tambang emas dan CPO. Namun, pertumbuhan laba tidak secara otomatis membuat seluruh emiten meningkatkan pembagian dividennya.

Wafi menilai BBCA dan BMRI memiliki rekam jejak distribusi dividen yang kuat. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mendapat dukungan permintaan logam mulia, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berpeluang ditopang ramp-up Tambang Emas Pani, sedangkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memiliki karakter defensif.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menambahkan, musim dividen interim tahun ini memang datang lebih awal. Namun, secara historis puncaknya biasanya terjadi pada Oktober-November setelah emiten merilis kinerja kuartal ketiga, dengan pembayaran banyak berlangsung pada November-Desember.

Sektor CPO menjadi salah satu yang menarik dicermati. Liza melihat peluang pada PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Laba semester pertama emiten CPO tersebut tumbuh dengan dukungan harga CPO yang kuat dan implementasi program B50.

Peluang juga terbuka pada emiten emas seiring kenaikan laba dan arus kas. Namun, investor tetap perlu selektif karena kebutuhan belanja modal di sektor pertambangan relatif tinggi.

Untuk strategi akumulasi hingga dividen final, Liza memilih BBCA, BMRI, TAPG, SMSM, dan ITMG karena memiliki kombinasi visibilitas laba dan rekam jejak distribusi yang kuat. Sementara itu, PSAB menjadi pilihan bagi investor yang lebih agresif.

Liza mengingatkan investor agar tidak membeli saham semata-mata untuk mengejar dividend yield. Pasalnya, harga saham secara teoritis akan menyesuaikan setelah cum-date.

"Investor sebaiknya tidak mengejar saham hanya karena dividend yield," sebagaimana dilansir dari berita sumber. katanya.

Karena itu, strategi akumulasi secara bertahap dapat dipertimbangkan sebelum musim dividen semakin ramai pada Oktober-November.

Reporter: Ibtihal