Meski Rugi Rp3,87 Triliun, Edwin Soeryadjaya Tambah Saham SRTG

Edwin Soeryadjaya memperbesar kepemilikan saham di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 09 September 2026 | 23:12:50 WIB

JAKARTA - Edwin Soeryadjaya memperbesar kepemilikan saham di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pengusaha nasional tersebut membeli saham SRTG setelah perusahaan mencatatkan kinerja merugi pada semester I 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Anggota Dewan Komisaris Saratoga Investama, Edwin Soeryadjaya, kembali menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan. Edwin membeli sebanyak 980.000 lembar saham SRTG dalam periode 4 hingga 7 September 2026.

Transaksi pembelian saham tersebut dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pertama pada 4 September 2026, Edwin membeli 600.000 saham dengan harga Rp1.806 per lembar.

Tahap kedua pada 7 September 2026, Edwin membeli 380.000 saham dengan harga Rp1.805 per lembar.

Secara keseluruhan, nilai transaksi penambahan saham tersebut mencapai sekitar Rp1,76 miliar. Pembelian itu meningkatkan kepemilikan langsung Edwin Soeryadjaya menjadi 4.870.735.690 lembar saham, setara dengan 35,9071% hak suara, dari sebelumnya 35,8999%.

Pasar merespons positif aksi akumulasi saham oleh pengendali utama tersebut. Pada penutupan perdagangan 8 September 2026, saham SRTG menguat 1,39% ke level Rp1.830 per lembar.

Penguatan saham tersebut mencerminkan sentimen positif pasar yang menilai aksi pembelian oleh manajemen utama sebagai bentuk keyakinan terhadap nilai intrinsik perusahaan. Pergerakan saham SRTG juga melanjutkan tren positif dari posisi sebulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp1.800 per lembar.

Langkah tersebut dilakukan di tengah kinerja Saratoga yang masih tertekan. Edwin dinilai melihat prospek fundamental perusahaan masih menarik untuk menambah kepemilikan saham. Sebagai komisaris, Edwin memiliki akses informasi untuk mengevaluasi nilai perusahaan, tanpa menunjukkan adanya perubahan terhadap strategi operasional perseroan.

SRTG mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp4,83 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut memburuk 165,6% dibandingkan rugi Rp1,82 triliun pada semester I 2025.

Penghasilan dividen dan bunga tercatat sebesar Rp1,69 triliun per Juni 2026, meningkat 31,51% secara tahunan. Sementara itu, penghasilan lainnya mencapai Rp2,12 miliar, turun dari Rp2,50 miliar pada Juni 2025.

SRTG juga membukukan beban usaha sebesar Rp123,05 miliar dan beban lainnya Rp2,06 miliar. Namun, beban bunga turun dari Rp99,23 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp37,08 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Kerugian neto selisih kurs tercatat sebesar Rp5,41 miliar per Juni 2026, meningkat dari Rp565 juta per Juni 2025.

Rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan atau rugi bersih mencapai Rp3,87 triliun pada semester I 2026. Kondisi tersebut berbalik dari laba bersih Rp102,01 miliar pada semester I 2025.

Dalam portofolio saham emiten blue chip, SRTG diketahui memiliki saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).

Sementara itu, investasi Saratoga pada saham emiten berkembang mencakup PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPIX), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi mengatakan, sebagai perusahaan investasi, pergerakan nilai portofolio perseroan mengikuti dinamika dan fluktuasi yang terjadi di pasar modal.

SRTG tetap menjalankan strategi investasi jangka panjang secara konsisten. Fokus perusahaan diarahkan pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio.

“Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Reporter: Ibtihal