Harga Batu Bara Turun 0,65 Persen Usai India Tambah Pasokan Listrik

Ilustrasi pasokan batu bara (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 09 September 2026 | 01:21:54 WIB

JAKARTA – Harga batu bara melandai setelah terbang delapan hari beruntun. Harga mereda setelah India meningkatkan pasokan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 152 per ton. Harganya turun 0,65 persen.

Pelemahan ini memutus reli panjang delapan hari dengan penguatan mencapai 10,5 persen.

Harga batu bara termal di sejumlah pusat produksi utama China sedikit terkoreksi setelah mengalami kenaikan tajam sejak akhir Agustus. Sentimen pembeli mulai berubah menjadi wait and see karena harga sudah naik tinggi.

Permintaan kini menjadi kendala utama di tengah pasokan domestik yang masih tertekan. Meski didukung ketersediaan yang minim, pembeli cenderung menahan diri sehingga penguatan harga batu bara China mulai kehilangan momentum.

Laporan Sxcoal pada hari yang sama mengindikasikan laju harga batu bara di pelabuhan China bakal melambat. Meskipun pasokan spot terbatas dan biaya penggantian pasokan tergolong tinggi, penurunan permintaan tetap menahan laju harga.

Survei Mysteel pada 493 pembangkit mencatat konsumsi batu bara harian rata-rata menyusut menjadi 4 juta ton pada periode 28 Agustus hingga 3 September. Angka ini turun 13 persen dari puncak musim panas yang menembus 4,59 juta ton per hari.

Seiring suhu udara yang kian menyejuk, pihak pembangkit diperkirakan mengurangi aktivitas belanja di pasar spot dan lebih mengandalkan pasokan kontrak.

India terus memacu pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) setelah cadangan di puluhan fasilitas menyusut ke level kritis. Perusahaan tambang milik negara mengerahkan 444 rangkaian kereta pengangkut batu bara untuk sektor kelistrikan pada Minggu (6/9/2026).

Jumlah PLTU yang memiliki stok di bawah 25 persen dari kebutuhan membengkak menjadi 58 unit dari sebelumnya 45 unit pada awal September. Lonjakan ini mendorong Kementerian Batu Bara India memperketat pengawasan sekaligus menyiapkan langkah penanganan defisit.

Volume pengiriman batu bara ke sektor ketenagalistrikan pun dipacu dari 370 rangkaian kereta pada 3 September menjadi 444 rangkaian pada 6 September.

Langkah darurat tersebut diambil saat India masih terbelenggu defisit listrik tinggi, khususnya di wilayah utara dan barat. Angka defisit menyentuh 20,06 juta unit pada hari Minggu, setelah sempat melonjak hingga 27 juta unit pada 4 September.

Lonjakan konsumsi listrik ini dipicu oleh cuaca panas yang meningkatkan penggunaan pendingin udara serta pengoperasian pompa irigasi di area pertanian.

Di sisi lain, operasional tambang mulai pulih seiring meredanya intensitas hujan di wilayah produksi. Rata-rata output harian produsen batu bara milik negara melesat sekitar 35 persen menjadi 1,83 juta ton pada 6 September dari sebelumnya 1,36 juta ton pada awal September.

Secara khusus, produksi harian Coal India Limited (CIL) melonjak ke angka 1,83 juta ton per 6 September 2026. Kenaikan tajam dari posisi 1,36 juta ton di awal bulan ini terjadi usai curah hujan monsun berkurang di pusat penambangan.

Kendati output harian membaik, capaian kumulatif masih berada di bawah target. Total produksi periode April–Agustus 2026 tercatat 267,5 juta ton atau terkoreksi 4,5 persen secara tahunan, sementara volume pengiriman justru naik 6,7 persen menjadi 322,9 juta ton.

Pelebaran jurang antara produksi dan permintaan memaksa CIL menguras cadangan tambang yang kini menyisa sekitar 76 juta ton. Para pelaku pasar kini memantau secara cermat apakah tren kenaikan produksi ini dapat bertahan demi memulihkan cadangan dan menjaga pasokan listrik.

Reporter: Akbar