Pergerakan Bursa Asia Pagi Ini Dibayangi Lonjakan Harga Minyak

Ilustrasi Bursa saham Asia-Pasifik (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 09 September 2026 | 01:20:54 WIB

JAKARTA – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mencatatkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan Selasa (8/9/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik pascaserangan balasan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,75 persen pada pembukaan perdagangan, sedangkan Nikkei 225 Jepang merosot 0,95 persen dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,22 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Aktivitas pasar modal terpengaruh oleh lonjakan harga minyak mentah yang menyentuh level tertinggi dalam enam pekan pada Senin malam pasca-aksi saling serang antara AS dan Iran akhir pekan lalu.

Harga minyak Brent terangkat 1,1 persen ke posisi 97,31 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) futures menguat 1,3 persen menuju 92,66 dolar AS per barel sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Eskalasi perang AS-Iran telah memicu kenaikan tajam harga minyak mentah sepanjang bulan terakhir.

Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran para pelaku pasar terkait potensi lonjakan inflasi yang berisiko menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak November 2023 pada pekan lalu. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury tenor dua tahun melesat ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Presiden Yardeni Research Ed Yardeni mengatakan serangkaian pertemuan bank sentral dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian bagi ketenangan pasar saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut dia, kenaikan imbal hasil obligasi secara global menimbulkan pertanyaan apakah kondisi tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, inflasi yang lebih tinggi, atau kekhawatiran terhadap krisis utang fiskal yang semakin dekat sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan mendatang.

Mengacu pada CME Group FedWatch, para pelaku pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 60 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin usai pertemuan tersebut.

Proyeksi ini masih dinamis pekan ini sembari pasar menantikan rilis data inflasi grosir dan konsumen yang masing-masing dijadwalkan keluar pada Kamis dan Jumat.

Arah kebijakan The Fed juga dapat kembali bergejolak seandainya harga minyak kembali melonjak akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Di samping konflik AS-Iran, para investor turut mencermati potensi memanasnya gesekan perdagangan antara AS dan Kanada.

Pemerintah Kanada dijadwalkan mulai menerapkan tarif balasan terhadap komoditas AS bernilai sekitar 20 miliar dolar AS mulai Selasa.

Presiden AS Donald Trump pada Senin juga memperingatkan produsen pesawat asal Kanada, Bombardier, tidak dapat menjual produknya di AS kecuali Kanada mulai memproduksi produk tersebut di AS sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Trump melalui unggahan pada platform Truth Social menjelang berlakunya kebijakan tarif baru.

Reporter: Akbar