Bursa Eropa Datar Jelang Kenaikan Suku Bunga ECB dan CPI AS

Ilustrasi Saham Eropa bergerak datar menjelang keputusan suku bunga ECB dan data CPI AS. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 08 September 2026 | 22:48:19 WIB

JAKARTA - Saham-saham Eropa bergerak relatif datar pada Selasa ketika investor mencermati risiko kenaikan harga minyak mentah dan potensi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) dalam waktu dekat.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa memangkas pelemahan dan bergerak hampir tidak berubah. DAX Jerman, CAC 40 Prancis, dan FTSE 100 London juga berhasil mengurangi kerugian dan diperdagangkan cenderung datar.

Saham Novartis yang memiliki bobot besar di pasar turun lebih dari 10% setelah obat eksperimental untuk penyakit otot yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Swiss tersebut gagal dalam uji klinis tahap akhir.

Harga minyak mentah acuan naik untuk sesi ketiga berturut-turut. Kenaikan tersebut memperpanjang reli dalam beberapa hari terakhir yang membuat minyak mentah Brent bertahan di atas US$90 per barel.

Penguatan harga minyak kembali mendapat dorongan setelah pejabat militer Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap setiap serangan lanjutan dari Amerika Serikat atau sekutunya dengan menyerang langsung infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia, terutama aset minyak dan gas milik AS.

Ancaman terhadap fasilitas pengolahan energi dan terminal ekspor di kawasan tersebut, ditambah gangguan pada jalur transit di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan yang lebih panjang.

Bagi pasar saham Eropa yang sangat bergantung pada impor energi, kenaikan biaya input meningkatkan risiko inflasi akibat tekanan biaya. Kondisi tersebut juga berpotensi mempersempit margin keuntungan perusahaan.

Di sisi lain, valuasi saham Eropa masih berada di bawah tekanan pasar obligasi menjelang pertemuan Dewan Gubernur ECB pada Kamis.

Pasar uang hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin yang diperkirakan dilakukan Presiden ECB Christine Lagarde bersama para pembuat kebijakan pada pekan ini.

Ekspektasi tersebut muncul setelah data awal CPI Zona Euro Agustus menunjukkan inflasi utama meningkat menjadi 3,3% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama didorong lonjakan komponen energi sebesar 14,3%.

Dengan harga energi yang masih meningkat, sejumlah bank investasi, termasuk Deutsche Bank, mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan tambahan setelah September. Hal tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun.

Sikap hawkish bank sentral membuat imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun sebesar 3,36%. Kondisi tersebut menekan premi risiko ekuitas sekaligus meningkatkan biaya refinancing bagi perusahaan.

Selain keputusan ECB, perhatian investor global juga tertuju pada laporan CPI Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada akhir pekan ini.

Data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan penggajian non-pertanian AS pada pekan lalu menunjukkan 162.000 lapangan pekerjaan baru pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan.

Investor menilai data inflasi tersebut dapat menjadi faktor penting dalam menentukan apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 15-16 September.

Jika data CPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kebijakan hawkish dapat semakin menguat di sepanjang kurva suku bunga global. Sebaliknya, tanda-tanda moderasi inflasi berpotensi memberikan ruang bagi pasar saham yang tengah menghadapi tekanan.

Di antara pergerakan saham individual, Sandoz Group AG sempat menguat hingga 5,1% setelah perusahaan farmasi asal Swiss tersebut menyatakan menargetkan peningkatan pendapatan lebih dari dua kali lipat pada 2035.

Target tersebut didukung perluasan portofolio biosimilar dan gelombang berakhirnya masa paten sejumlah obat.

Rubis juga sempat melonjak hingga 5,7% setelah distributor energi asal Prancis tersebut meningkatkan proyeksi laba tahunan. EBITDA semester pertama perusahaan meningkat 18%, didukung harga minyak yang tinggi serta permintaan yang kuat di Afrika dan Karibia.

Reporter: Ibtihal