DSNG Dinilai Undervalued, Prospek Positif Meski Ada Risiko El Niño
JAKARTA – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dinilai memiliki prospek yang tetap positif hingga paruh kedua 2026, meski industri sawit mulai dibayangi risiko El Niño yang diperkirakan menekan produksi pada 2027.
Analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dalam riset 2 September 2026 menyebut, DSNG memiliki basis perkebunan yang produktif dibandingkan emiten sawit Indonesia lainnya.
Prospek kinerja DSNG juga ditopang oleh produksi yang solid serta tren harga crude palm oil (CPO) yang masih menguntungkan.
"Kami tetap konstruktif terhadap prospek 2H26, didukung produksi yang kuat dan tren harga CPO yang menguntungkan," tulis Willinoy dalam risetnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Konsensus memperkirakan laba bersih DSNG sepanjang 2026 mencapai sekitar Rp 2,33 triliun, tumbuh sekitar 27%-28% secara tahunan.
Proyeksi tersebut masih menunjukkan ruang pertumbuhan meski laba bersih pada semester I 2026 baru meningkat 9,4% menjadi Rp 1,001 triliun.
Dari sisi produksi, DSNG memperkirakan produksi pada semester II 2026 tumbuh sekitar 3% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut ditopang permintaan yang tetap kuat setelah implementasi kebijakan B50 serta harga CPO yang relatif tangguh.
Kinerja harga produk sawit DSNG juga telah menunjukkan tren positif, pada semester I 2026 harga jual rata-rata (ASP) CPO meningkat 3% secara tahunan, sedangkan ASP palm kernel oil (PKO) naik 9%.
Tren harga tersebut berpotensi berlanjut hingga akhir tahun, harga kontrak berjangka CPO November 2026 telah mencapai RM 4.973 per ton, sekitar 15% lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada semester I 2026.
Namun, kenaikan harga pupuk menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati, pupuk menyumbang sekitar 25% dari total biaya DSNG dan harganya diperkirakan meningkat sekitar 15% pada siklus pemupukan berikutnya.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap biaya mulai kuartal IV 2026 hingga kuartal I 2027.
Tantangan yang lebih besar justru datang dari ancaman El Niño pada akhir 2026 hingga paruh pertama 2027.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi industri sawit nasional dapat turun sekitar 8%-10% atau setara 4 juta-5 juta ton pada 2027 akibat fenomena tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Jawa, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah yang mengalami kondisi kekeringan paling berat.
Meski demikian, Willinoy menilai DSNG relatif lebih terlindungi karena mayoritas perkebunan perseroan berada di Kalimantan Timur.
Manajemen memperkirakan dampak El Niño terhadap perkebunan DSNG di wilayah tersebut akan lebih ringan.
"DSNG tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak El Niño, tetapi perkebunannya terutama berada di Kalimantan Timur, di mana perusahaan memperkirakan dampaknya lebih ringan," tulis Willinoy, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Risiko penurunan volume produksi juga berpotensi tertutupi oleh kenaikan harga CPO, pada episode El Niño 2019 produksi DSNG turun sekitar 11%.
Namun, kenaikan harga CPO saat itu lebih dari cukup untuk mengompensasi penurunan volume produksi.
Kondisi serupa berpotensi terjadi pada 2027, harga CPO telah menguat 15,8% sejak awal tahun menjadi RM4.628 per ton.
Jika reli harga berlanjut ketika produksi tertekan, margin dan pendapatan DSNG berpotensi tetap terjaga.
Daya tarik DSNG juga terletak pada produktivitas aset perkebunannya, perseroan mencatat oil extraction rate (OER) sebesar 23,5% pada semester I 2026, sementara yield tandan buah segar (FFB) mencapai 21,4 ton per hektare pada 2025.
Produktivitas tersebut ditopang usia rata-rata tanaman yang relatif muda, sekitar 15 tahun.
Hingga semester I 2026, sekitar 95% dari total area tertanam DSNG seluas 111.900 hektare telah memasuki usia menghasilkan.
Lebih dari 60.000 hektare perkebunan juga terkonsentrasi dalam satu blok yang berkesinambungan di Kalimantan Timur, konsentrasi lahan ini memberikan keuntungan dari sisi efisiensi operasional.
DSNG juga memiliki jaringan pengolahan yang terintegrasi melalui 12 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 675 ton FFB per jam, serta fasilitas kernel crushing berkapasitas 400 ton per hari.
Dari 12 pabrik tersebut, 10 telah mengantongi sertifikasi RSPO dan 11 telah tersertifikasi ISPO.
Bisnis sawit menjadi kontributor utama pendapatan DSNG, dengan porsi sekitar 90% dari pendapatan semester I 2026.
Sementara itu, produk kayu menyumbang 8% dan energi terbarukan 2%.
Selain mempertahankan produktivitas saat ini, DSNG juga menyiapkan pertumbuhan produksi melalui program peremajaan tanaman atau replanting.
DSNG mulai memasuki siklus replanting sejak 2022 dan saat ini melakukan peremajaan sekitar 2.500 hektare per tahun.
Biayanya mencapai sekitar Rp 90 juta-Rp 100 juta per hektare, setara 50%-55% dari nilai enterprise value (EV) DSNG sekitar Rp 180 juta per hektare.
Menariknya, DSNG semakin banyak menggunakan benih dengan produktivitas lebih tinggi dari Verdant Bioscience, perusahaan yang sekitar 10% sahamnya dimiliki DSNG.
Sekitar 40% tanaman baru perseroan kini telah menggunakan material benih tersebut.
Manajemen DSNG memperkirakan benih unggul tersebut mampu menghasilkan 18-24 ton FFB per hektare pada tahun ketiga, jauh lebih cepat dibandingkan material konvensional yang membutuhkan sekitar 8-10 tahun untuk mencapai tingkat produktivitas yang sebanding.
Benih tersebut juga memiliki toleransi lebih tinggi terhadap Ganoderma sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas struktural kebun seiring berjalannya siklus replanting.
Di sisi energi, DSNG juga memiliki dua fasilitas Bio-CNG yang mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi biomethane terkompresi dengan kapasitas gabungan sekitar 3 MW.
Fasilitas tersebut menggantikan penggunaan sekitar 3,8 juta liter solar pada 2025 dan menghasilkan penghematan sekitar Rp53 miliar, atau sekitar 10%-15% kebutuhan energi internal.
Perseroan juga berencana memperluas penggunaan teknologi tersebut.
Kondisi neraca DSNG juga semakin kuat, perusahaan ini telah menjalankan proses deleveraging sejak 2020, dengan rasio net debt terhadap ekuitas turun signifikan dari 1,6 kali pada 2019 menjadi hanya 0,2 kali pada semester I 2026.
Dengan utang yang semakin rendah dan belanja modal yang relatif terjaga karena sebagian besar diarahkan untuk replanting, ruang untuk meningkatkan pembagian dividen menjadi semakin terbuka.
Secara historis, dividend payout ratio (DPR) DSNG berada di kisaran 22%-27%.
Penurunan leverage berpotensi memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan payout ratio ke depan.
Dari sisi valuasi, saham DSNG dinilai masih menawarkan daya tarik, berdasarkan konsensus saham DSNG saat ini diperdagangkan sekitar 8 kali price to earnings (PE) 2026, jauh di bawah rata-rata regional yang mencapai 15 kali.
Dengan return on equity (ROE) sekitar 17,2%, valuasi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kualitas aset dan produktivitas kebun DSNG.
Secara berbasis aset, DSNG dihargai sekitar US$ 10.400 per hektare atau setara Rp 184 juta per hektare.
Valuasi tersebut sekitar 35% lebih rendah dibandingkan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), serta jauh di bawah PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) yang mencapai sekitar Rp 714 juta per hektare.
Menurut Willinoy, diskon terhadap TAPG antara lain dapat dikaitkan dengan yield dividen TAPG yang lebih tinggi.
Namun, dengan produktivitas kebun yang tinggi, usia tanaman yang relatif muda, neraca yang semakin sehat, serta prospek harga CPO yang tetap kuat, DSNG masih memiliki daya tarik bagi investor.