Mengapa Harga Beras Tetap Melonjak Meski Stok Melimpah dan Swasembada?

Ilustrasi beras (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 03 September 2026 | 23:55:16 WIB

JAKARTA – Harga beras kembali mengalami kenaikan dari Juli ke Agustus 2026. Merujuk data BPS 1 September 2026, kenaikan harga terjadi di tingkat penggilingan (produsen) sebesar 1,32 persen, grosir (pasar) sebesar 0,80 persen, dan eceran (konsumen) sebesar 0,42 persen.

Hal tersebut menandakan harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran terus naik dari Januari hingga Agustus 2026 secara berturut-turut tanpa jeda selama delapan bulan. Kenaikan tetap terjadi meski berada pada masa panen raya Februari-Mei lalu, bahkan saat puncak panen raya April 2026.

Kenaikan harga beras secara beruntun selama delapan bulan yang terus menjadi penyumbang inflasi ini memecahkan rekor tersendiri. Beras menjadi penyumbang inflasi kategori harga bergejolak (volatile foods) pada Agustus 2026 bersama cabai rawit dan daging ayam ras.

Di sisi lain, stok beras di gudang BULOG tercatat mencapai 5,2 juta ton yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Kondisi ini membingungkan masyarakat awam mengingat klaim pemerintah terkait swasembada, capaian ekspor beras, produksi padi tanpa gangguan berarti, hingga stok masyarakat yang diklaim melebihi 12 juta ton.

Kenaikan harga yang berlangsung berbilang minggu hingga berbulan-bulan menandakan perlunya pemeriksaan lebih teliti karena klaim stok melimpah tak lagi memadai. Fakta di lapangan menunjukkan beras premium sulit didapat di retail modern serta stok di produsen dan penggilingan menipis dari skala bulanan menjadi harian.

Terdapat persoalan struktural yang memicu tren kenaikan harga beras tersebut. Pertama, harga pokok produksi beras terus melonjak mengikuti kenaikan harga gabah yang selalu berada di atas HPP sejak kebijakan penetapan harga pembelian pemerintah Rp6.500/kg pada Februari 2025, di mana harga gabah di daerah mencapai Rp7.700/kg hingga melampaui Rp8.000/kg.

Kedua, terjadi kompetisi sengit di pasar dalam memperebutkan gabah karena BULOG terus mengejar target pengadaan setara 4 juta ton beras. Per 26 Agustus 2026, pengadaan BULOG telah mencapai 3,719 juta ton beras (terdiri dari CBP 3,65 juta ton dan komersial 64 ribu ton), sehingga target cabang atau daerah yang belum terpenuhi digeser dan mendorong kenaikan harga gabah.

Ketiga, produksi gabah mulai melandai sejak memasuki musim gadu periode Juni-September 2026. Berdasarkan data BPS, produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni, Juli, Agustus, dan September 2026 berturut-turut sebesar 4,29 juta ton, 4,79 juta ton, 5,63 juta ton, dan 5,83 juta ton, di mana angka ini lebih rendah dibanding puncak panen raya Maret dan April 2026 yang mencapai 8,71 juta ton dan 7,63 juta ton GKG.

Kapasitas produksi gabah saat ini hanya seperempat dari total kapasitas produksi penggilingan padi, sehingga masuknya BULOG sebagai pembeli awal dalam skala besar membuat kompetisi semakin tidak menentu. Kondisi ini memaksa sejumlah penggilingan berhenti atau mengurangi produksi karena keterbatasan ruang gerak akibat batasan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berisiko memicu kerugian atau sanksi Satgas Pangan POLRI.

Guna menyiasati batasan HET, sebagian produsen beralih memproduksi beras fortifikasi atau menjual beras curah dengan menurunkan kualitas maupun menjual di atas HET. Langkah tersebut turut memicu kenaikan harga beras meski perannya tidak dominan karena jumlah produsen beras premium kemasan yang beralih tergolong terbatas.

Keempat, peran beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) masih terbatas dalam menstabilkan harga di pasar. Aliran harian operasi pasar beras SPHP berkisar 7.000-8.000 ton pada hari kerja, namun turun menjadi 1.000-2.000 ton per hari pada akhir pekan atau hari libur.

Penyaluran bantuan pangan beras periode Juli-September 2026 baru terealisasi 103,2 ribu ton dari target 997,3 ribu ton per 26 Agustus 2026. Sementara itu, data BULOG per 31 Agustus 2026 menunjukkan penyaluran beras SPHP mencapai 731,23 ribu ton dari target 828 ribu ton.

Distribusi beras SPHP tersebut terbagi ke instansi pelaksana gerakan pangan murah sebesar 275,6 ribu ton (37,69 persen), Rumah Pangan Kita 171,1 ribu ton (23,4 persen), pengecer pasar rakyat 168,5 ribu ton (23,04 persen), outlet pangan/koperasi binaan pemda 68,5 ribu ton (9,4 persen), dan retail modern sebesar 23,6 ribu ton (3,2 persen). Apabila harga beras terus naik, terdapat empat kemungkinan pemicu yaitu volume aliran kurang besar, ketidaksesuaian jenis beras BULOG, kekeliruan lokasi penjualan, atau isu kualitas.

Reporter: Akbar