Harga Emas Dunia Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Imbal Hasil US Treasury

Ilustrasi Emas Dunia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 02 September 2026 | 20:58:58 WIB

JAKARTA – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam setelah kenaikan harga minyak memperkuat kecemasan akan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi AS meningkat. Tekanan tersebut semakin berat seiring membesarnya perkiraan pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September 2026.

Harga emas spot ditransaksikan di level US$4.327,70 per troy ounce atau merosot 2,68 persen pada perdagangan Selasa (1/9) sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pada saat yang sama, harga perak spot terkoreksi lebih dalam sebesar 3,71 persen ke angka US$63,95 per troy ounce sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan pada logam mulia terjadi bersamaan dengan gelombang penjualan di pasar obligasi global yang mendongkrak yield US Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun meningkat ke level 4,39 persen, sedangkan tenor 10 tahun menyentuh 4,79 persen.

Pelaku pasar turut memperhitungkan probabilitas sekitar 66 persen bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga pada September 2026. Perkiraan tersebut belum banyak bergeser usai rilis data ekonomi terbaru AS memperlihatkan pasar tenaga kerja yang belum mereda untuk menekan inflasi.

Total lowongan kerja di AS pada Juli 2026 naik tipis menjadi 7,3 juta. Di sisi lain, indeks manufaktur ISM Agustus 2026 menyusut ke angka 54,6 dari sebelumnya 55,6, namun tetap mencerminkan ekspansi aktivitas manufaktur.

Fokus pasar selanjutnya mengarah pada rilis data ketenagakerjaan ADP pada Rabu, klaim pengangguran serta data ISM sektor jasa pada Kamis, dan laporan nonfarm payrolls Agustus 2026 pada Jumat. Rentetan data pasar tenaga kerja tersebut menjadi faktor kunci penentu pergerakan harga emas.

Data ketenagakerjaan yang tangguh berisiko menjaga tekanan kenaikan yield, sedangkan pelemahan yang dalam berpotensi memberi ruang pemulihan bagi emas. Secara teknikal, aksi jual telah mendorong harga emas menembus rata-rata pergerakan 20 hari dan 100 hari.

Logam mulia ini juga berada di level terendah dalam sembilan hari sekaligus menguji area support US$4.329 hingga US$4.311 per troy ounce.

Kondisi emas semakin terdesak seiring melambungnya harga minyak akibat peningkatan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan militer AS ke wilayah Iran kembali memicu kenaikan harga minyak dunia.

Minyak jenis Brent melesat 4,6 persen menjadi US$94,65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,2 persen ke posisi US$90,22 per barel. Minyak WTI pun mencatatkan penutupan di atas US$90 per barel untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari satu bulan.

Konflik bersenjata tersebut membuat Selat Hormuz praktis tidak dapat dilintasi. Padahal dalam situasi normal, jalur laut tersebut menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Situasi ini menempatkan emas dalam posisi yang serba salah. Ketegangan geopolitik memang sanggup menaikkan permintaan aset aman, namun lonjakan minyak di saat bersamaan memicu inflasi, menaikkan yield obligasi, dan memperbesar biaya peluang memegang emas tanpa imbal hasil.

Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen menyampaikan bahwa para investor saat ini lebih berfokus pada kecemasan inflasi jangka pendek yang dipicu oleh kenaikan harga komoditas.

Tekanan inflasi tidak cuma bersumber dari minyak bumi. Perang di Ukraina serta cuaca ekstrem di beberapa wilayah turut mendongkrak harga komoditas pertanian, khususnya gula, gandum, dan jagung.

“Dalam istilah sederhana, komoditas yang menciptakan masalah inflasi terus naik, sementara komoditas yang secara tradisional dibeli untuk melindungi dari konsekuensinya justru turun,” kata Hansen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan pada emas telah terjadi sejak Jumat pekan lalu usai Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan kembali komitmennya untuk mengarahkan inflasi ke target 2 persen dalam pidatonya di Federal Reserve Symposium di Jackson Hole, Wyoming.

Menurut Hansen, emas dan perak sama-sama telah menyusut lebih dari 4 persen sejak hari Jumat. Pernyataan Warsh menghadirkan tiga beban sekaligus bagi logam mulia, yaitu peningkatan ekspektasi suku bunga jangka pendek, kenaikan yield riil dan nominal, serta penguatan dolar AS.

Meski tekanan jangka pendek menguat, Hansen menganggap fokus The Fed pada inflasi belum mengubah tren jangka panjang emas yang ditopang oleh kenaikan utang pemerintah dan kekhawatiran penurunan nilai mata uang.

“Real rate yang lebih tinggi karena bank sentral yang kredibel dalam melawan inflasi biasanya negatif bagi emas. Yield jangka panjang yang lebih tinggi akibat kekhawatiran terhadap keberlanjutan utang, besarnya penerbitan surat utang pemerintah, dan kredibilitas fiskal merupakan persoalan yang berbeda,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar