Harga Gandum Melonjak 17 Persen Pasokan Indonesia Berpotensi Terganggu

Ilustrasi gandum (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:31:29 WIB

JAKARTA – Para pembeli gandum skala global mulai bersiap mengantisipasi ciptaan pengetatan pasokan usai rentetan serangan terhadap fasilitas infrastruktur biji-bijian di area Laut Hitam mengacaukan proses pengiriman.

Dinamika ini meningkatkan ancaman kerawanan pangan bagi negara-negara importir utama seperti Mesir serta Indonesia, sekaligus memicu lonjakan harga gandum.

Banderol gandum berjangka acuan di bursa Chicago telah melonjak melampaui 17% sejak awal Juli 2026, yang utamanya dipicu oleh krisis pasokan dari area Laut Hitam.

Eskalasi harga juga mulai menjangkau negara-negara produsen pesaing seperti Argentina, Australia, dan Amerika Serikat (AS).

Aksi gempuran balasan antara pihak Rusia dan Ukraina ke kawasan pelabuhan serta armada kapal dalam beberapa pekan terakhir memaksa penutupan sejumlah terminal gandum.

Dampak kondisi ini mendesak perusahaan perkapalan menangguhkan atau membatalkan proses pemuatan pada puluhan kargo di tengah berlangsungnya musim ekspor.

"Seharusnya kargo-kargo tersebut mulai tiba sejak pertengahan Agustus, tetapi banyak kapal tidak dapat masuk untuk melakukan pemuatan," kata seorang pedagang berbasis di Singapura yang menjual gandum Laut Hitam kepada penggilingan di Asia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, para pembeli telah mempertimbangkan opsi pengalihan sebagian pesanan menuju negara produsen lain seperti Australia, Amerika Utara, dan Argentina.

Sebagian besar negara importir gandum utama tergolong sangat rentan terhadap gangguan ini akibat kebiasaan mengandalkan pasokan dari kawasan Laut Hitam untuk memenuhi kebutuhan pada paruh kedua tahun berjalan.

Di kawasan Asia, para pengolah komoditas gandum telah mengamankan pesanan sekitar 2 juta-2,5 juta ton gandum dari area Laut Hitam untuk jadwal pengiriman Juli-September.

Volume transaksi tersebut menyamai porsi 30%-50% dari total permintaan impor.

Kendati demikian, kekhawatiran kian meruncing seiring tingginya potensi keterlambatan kedatangan sejumlah pengiriman kargo.

"Pada akhir Agustus, pasar harus menemukan solusi," kata Maxence Devillers, analis gandum di Argus Media sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indonesia sebagai importir gandum terbesar kedua di dunia telah mengikat kontrak pengiriman sekitar 600.000 ton gandum dari negara-negara bekas pecahan Uni Soviet untuk rentang Juli-September.

Seorang pejabat Asosiasi Tepung Terigu Indonesia menyebutkan bahwa ketersediaan stok saat ini masih mencukupi kebutuhan konsumsi gandum dalam waktu dekat.

"Namun, kami tidak memiliki pasokan yang melimpah atau berlebih. Kami harus melihat sumber lain seperti Bulgaria, Australia, Rumania dan Argentina untuk kargo yang tidak dikirim dari Rusia dan Ukraina," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di lain sisi, Mesir selaku importir gandum terbesar dunia menyerap lebih dari 82% kebutuhan impor gandumnya dari wilayah Rusia dan Ukraina pada paruh pertama 2026.

Hambatan alur pengiriman pun mulai dirasakan oleh jajaran importir lain seperti Aljazair, Bangladesh, Yordania, Thailand, Tunisia, hingga Vietnam yang memiliki ketergantungan masif pada gandum Rusia dan Ukraina.

Pemerintah Yordania bahkan membatalkan dua tender gandum serta dua tender jelai pada Agustus seusai hanya menerima minim penawaran.

Para pedagang menuding tingginya patokan harga serta besarnya risiko pengiriman sebagai pemicu utamanya.

Pihak Tunisia juga telah melayangkan peringatan keras kepada para pemasok agar tidak memanipulasi klausul force majeure demi menghindari kewajiban pengiriman.

Pada pekan lalu, armada kapal yang dijadwalkan memuat pasokan gandum untuk Mesir diserang tatkala mendekati Pelabuhan Novorossiysk, Rusia.

Kapal yang diketahui bernama Xin Hai Tong 66 tersebut sedang dalam status muatan kosong saat diserang, dan tidak ada korban luka yang timbul dari insiden itu.

Hesham Soliman, seorang pedagang di Pelabuhan Alexandria, Mesir, menyebutkan bahwa kian sedikit pemilik kapal yang bersedia merapat ke pelabuhan Rusia maupun Ukraina.

"Situasinya semakin memburuk setiap hari," ujarnya, seraya memperingatkan potensi kekurangan pasokan jika tidak ada penyelesaian sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah pengalihan transaksi pembelian ke negara produsen lain berisiko melambungkan pembengkakan biaya secara signifikan.

Patokan harga Australian Premium White wheat berada pada kisaran US$315-US$320 per ton, sudah mencakup beban biaya dan pengiriman ke Asia.

Banderol tersebut relatif lebih mahal dibanding gandum AS termurah yang berada di tingkat US$305 per ton.

Sebagai pembanding, mayoritas muatan kargo gandum dari kawasan Laut Hitam sejatinya masih bertengger di kisaran US$260-US$280 per ton.

Situasi ini memaksa para importir, termasuk Indonesia, harus mencari alternatif pasokan dengan beban biaya yang berpotensi melambung bila gangguan pengiriman dari Rusia dan Ukraina tak kunjung reda.

Kondisi kian mengkhawatirkan usai kesepakatan yang sebelumnya melindungi armada kapal pengangkut biji-bijian serta terminal pelabuhan Rusia dan Ukraina dari gempuran mulai runtuh.

Kementerian Infrastruktur Ukraina mencatat adanya 35 serangan ke kapal di pelabuhan, 22 gempuran di laut, dan 67 serangan yang menghantam fasilitas pelabuhan sepanjang Juli.

Sebagai perbandingan, sepanjang kurun 2025 lalu hanya tercatat sebanyak 14 kali serangan pada fasilitas terkait

Reporter: Akbar