Dolar AS Melemah Jadi Penopang Harga Tembaga Tetap di Atas 14.000 Dolar

Ilustrasi tembaga (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:31:29 WIB

JAKARTA – Banderol harga tembaga terpantau kokoh di atas batas psikologis US$14.000 per ton pada perdagangan Kamis (20/8/2026).

Merosotnya nilai tukar dolar AS turut menopang tren harga tembaga meski lonjakan stok di London Metal Exchange (LME) sedikit meredakan kecemasan terkait keterbatasan pasokan.

Kontrak tembaga LME untuk penyerahan tiga bulan tergerus 0,26% ke level US$14.013,50 per ton pada pukul 07.03 GMT.

Sementara itu, pergerakan kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) justru melonjak 0,21% menuju 107.200 yuan atau sekitar US$15.943 per ton.

Bertambahnya volume persediaan di LME menjadi faktor penekan pergerakan harga komoditas tembaga.

Data bursa memperlihatkan stok tembaga on warrant, yaitu komoditas logam yang belum ditandai untuk dikeluarkan dari area pergudangan, melonjak lebih dari 35.000 ton pada Rabu (19/8).

Peningkatan stok tersebut sedikit menenangkan kekhawatiran pasokan yang sebelumnya timbul imbas pengalihan arus tembaga menuju gudang-gudang penyimpanan di Amerika Serikat (AS).

Dinamika tersebut dipicu oleh potensi pengenaan kebijakan tarif atas tembaga olahan di kawasan AS.

Volume persediaan tembaga yang tersedia di LME sejatinya telah melesat lebih dari 50% sejak awal pekan.

Kendati demikian, jumlah tersebut masih belum mencapai separuh dari posisi tiga bulan silam.

Walau persediaan membengkak, kekhawatiran atas ketersediaan tembaga sejatinya belum sepenuhnya sirnah.

Selisih harga tembaga tunai LME dengan kontrak tiga bulan terakhir berada di kisaran US$280 per ton dalam kondisi backwardation.

Situasi tersebut mencerminkan bahwa pasar masih melihat adanya keterbatasan pasokan barang dalam jangka pendek.

"Pasar masih rentan setelah berbulan-bulan mengalami arus keluar persediaan, yang sebagian didorong oleh pengalihan logam ke AS menjelang tarif yang diperkirakan berlaku," kata analis ING dalam sebuah catatan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, pelemahan mata uang dolar AS memberikan angin segar bagi harga tembaga.

Dolar AS merosot mendekati level terendah dalam kurun tiga bulan seusai para investor meneliti kebijakan Departemen Keuangan AS dalam meredakan gejolak di pasar obligasi.

Penurunan dolar AS umumnya memberi keuntungan bagi komoditas yang dijual menggunakan denominasi dolar AS.

Hal tersebut lantaran banderol komoditas menjadi relatif lebih terjangkau bagi para pembeli yang bertransaksi memakai mata uang lain.

Harga tembaga sendiri sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah dalam dua pekan pada Rabu (19/8), sebelum akhirnya berbalik menguat seiring melesunya nilai tukar dolar AS.

Pergerakan harga logam dasar lainnya di bursa LME cenderung mengalami penurunan.

Banderol aluminium susut 0,77%, seng terkikis 0,47%, timbal terdepresiasi 0,11%, dan nikel merosot 0,75%, sedangkan harga timah sukses terangkat 0,32%.

Pada bursa SHFE, harga aluminium tergerus 0,61%, seng melemah 0,28%, timbal terkikis tipis 0,03%, sementara komoditas nikel menguat 0,9% dan timah melesat 1,39%.

Reporter: Akbar