SILO Siapkan Akuisisi Rp9 Triliun, 14 Rumah Sakit First REIT Jadi Target

Ilustrasi SILO akan mengakuisisi 14 properti rumah sakit milik First REIT senilai Rp9 triliun pada 2026. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:22:01 WIB

JAKARTA - Simak profil SILO yang bersiap akusisi 14 properti Rumah Sakit.

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menjadi salah satu emiten sektor kesehatan yang tengah melakukan ekspansi besar pada 2026.

Mengutip pengumuman emiten, perseroan bersama entitas anaknya, PT Megapratama Karya Bersama, menyiapkan transaksi untuk mengambil alih 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit milik First Real Estate Investment Trust (First REIT) dengan nilai keseluruhan sekitar Rp9 triliun.

Langkah tersebut menarik perhatian investor karena aset yang akan diakuisisi pada dasarnya merupakan properti rumah sakit yang selama ini telah digunakan dalam jaringan operasional Siloam.

First REIT menyebut Siloam telah menjadi penyewa sekaligus operator aset rumah sakit tersebut selama hampir 20 tahun.

Lalu, seperti apa profil emiten SILO?

Cek informasi menarik selengkapnya.

PT Siloam International Hospitals Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan dan mengoperasikan jaringan rumah sakit Siloam di Indonesia.

Saham perseroan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode SILO.

Bisnis utama SILO berpusat pada penyediaan layanan rumah sakit, mulai dari layanan rawat jalan dan rawat inap hingga layanan medis spesialis dan berbagai fasilitas diagnostik.

Perseroan juga terus mengembangkan layanan kesehatan berbasis teknologi dan digital melalui ekosistem layanan Siloam, termasuk aplikasi MySiloam.

Dari sisi operasional, jumlah pasien rawat inap mencapai 317.900, kunjungan rawat jalan 4,35 juta, serta tempat tidur operasional mencapai 4.310 dengan tingkat hunian 64,2 persen.

Ekspansi terbesar SILO pada 2026 berkaitan dengan rencana akuisisi 14 properti rumah sakit dari First REIT.

Transaksi tersebut dibagi menjadi dua tahap dengan nilai total sekitar Rp9 triliun.

Tahap pertama mencakup delapan properti dan dilakukan melalui perjanjian jual beli bersyarat.

Sementara itu, enam properti pada tahap kedua akan menggunakan mekanisme opsi jual atau put option.

Pendanaan transaksi direncanakan menggunakan fasilitas kredit sindikasi.

Realisasi transaksi juga masih bergantung pada pemenuhan persyaratan, termasuk persetujuan RUPS dan regulator terkait.

Delapan aset dalam tahap pertama terdiri dari: Siloam Hospitals Lippo Village, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Manado, Siloam Hospitals Denpasar, Siloam Hospitals Purwakarta, Siloam Hospitals Kupang, Siloam Sriwijaya, dan Siloam Hospitals Baubau.

Sementara enam aset yang masuk tahap kedua adalah: Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC), Siloam Hospitals Makassar, Siloam Hospitals TB Simatupang, Siloam Hospitals Labuan Bajo, dan Siloam Hospitals Yogyakarta.

Akuisisi ini penting karena SILO tidak hanya menjalankan fungsi sebagai operator rumah sakit, tetapi berpotensi memiliki lebih banyak aset properti yang selama ini digunakan untuk kegiatan operasionalnya.

Sebagai perusahaan rumah sakit, lini usaha SILO terutama berada di sektor pelayanan kesehatan.

Kegiatan usahanya mencakup: layanan rawat jalan; layanan rawat inap; layanan kesehatan spesialis; layanan diagnostik dan pencitraan medis; layanan kesehatan ibu dan anak; layanan kanker; layanan jantung dan pembuluh darah; layanan ortopedi; layanan bedah; layanan gawat darurat; layanan laboratorium dan pemeriksaan medis; serta layanan kesehatan berbasis digital dan homecare.

SILO juga terus memperkuat layanan spesialis.

Pada 2026, misalnya, Siloam Hospitals Mampang mendorong pengembangan layanan ortopedi terintegrasi dan diarahkan menjadi pusat rujukan ortopedi.

Dari sisi kualitas pelayanan, pada Juni 2026 Siloam Hospitals Kebon Jeruk dan Siloam Hospitals Lippo Village memperoleh pengakuan Magnet with Distinction dari American Nurses Credentialing Center (ANCC).

Siloam menyebut pencapaian tersebut menjadikannya jaringan rumah sakit di Asia Tenggara dengan lebih dari satu rumah sakit yang memperoleh pengakuan tersebut.

Susunan manajemen SILO berdasarkan data yang tersedia antara lain:

Direksi: David Utama (Presiden Direktur), Atiff Ibrahim Gill (Direktur), Benny Haryanto Djie (Direktur), Gabriele Isacco Tironi (Direktur), Phua Meng Khuan/Daniel Phua (Direktur), Richard Kidarsa (Direktur), Surya Tatang (Direktur).

Dewan Komisaris: Dr. Yasonna H. Laoly (Presiden Komisaris), Andy Nugroho Purwohardono (Komisaris), Sigit Prasetya (Komisaris), Dr. H. Bambang Soesatyo (Komisaris), James Tobias Hall (Komisaris).

Mengutip data BEI, SILO membukukan laba bersih sebesar Rp280,0 miliar pada kuartal I 2026, meningkat 13,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp246,0 miliar.

Dengan demikian, laba bersih per saham SILO tercatat setara Rp21,54 per lembar.

Dari sisi pendapatan, SILO mencatatkan revenue sebesar Rp3,28 triliun, naik 7,9 persen secara tahunan dibandingkan Rp3,04 triliun pada kuartal I 2025.

Laba kotor juga meningkat 11,6 persen menjadi Rp1,25 triliun dari sebelumnya Rp1,12 triliun, sementara EBITDA tumbuh 11,8 persen menjadi Rp731,5 miliar dari Rp654,1 miliar.

Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pendapatan turun 4,2 persen, laba kotor turun 7,3 persen, EBITDA turun 8,5 persen, dan laba bersih turun 20,3 persen dari kuartal IV 2025.

Reporter: Ibtihal