Pound Inggris Melemah terhadap Yen Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan UK
JAKARTA – Pound Inggris mengalami pelemahan ringan terhadap Yen Jepang pada perdagangan sesi Eropa hari Jumat. Penurunan pasangan mata uang GBP/JPY terjadi seiring menguatnya performa mata uang Jepang berkat tingginya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan pada pertemuan kebijakan September mendatang.
Tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut menyatakan BoJ dipastikan bakal menaikkan suku bunga paling cepat pada September dan berpotensi menaikkannya secara lebih agresif dibandingkan laju saat ini yang sekitar dua kali dalam setahun, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mayoritas anggota dewan juga mendukung jalur kebijakan moneter yang lebih tinggi setelah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level 1 persen, berdasarkan Ringkasan Opini BoJ dari pertemuan bulan Juli, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, para investor tengah menantikan pernyataan resmi terbaru dari Kementerian Keuangan Jepang terkait kemungkinan adanya intervensi bersama tambahan antara Amerika Serikat dan Jepang guna menekan volatilitas berlebihan pada Yen. Langkah intervensi bersama untuk memperkuat posisi Yen sebelumnya telah dilakukan oleh AS dan Jepang pada akhir Juli.
Mengenai mata uang Inggris, perhatian pasar keuangan kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Inggris Raya periode tiga bulan hingga Juni serta data Indeks Harga Konsumen bulan Juli yang dijadwalkan terbit pekan depan.
Seluruh data tersebut bakal dicermati oleh para investor demi memperoleh petunjuk baru terkait arah serta prospek kebijakan moneter Bank of England.
Hingga saat ini, pelaku pasar keuangan belum mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga Bank of England dalam jangka pendek.
Analis Societe Generale menilai rilis data aktivitas Inggris terbaru kemungkinan besar tidak akan mengubah arah kalkulasi kebijakan moneter.
Mereka menyampaikan, “meskipun PDB sedikit lebih kuat daripada prakiraan BoE, kami tidak menilai hal itu mengubah perhitungan mereka,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Hal ini dikarenakan dinamika mendasar ekonomi masih berjalan selaras dengan pola perlambatan bertahap.
Menurut sudut pandang mereka, “kelonggaran terus meningkat di pasar tenaga kerja, memberikan tekanan turun pada pertumbuhan upah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, Societe Generale bersama BoE “meyakini bahwa paruh kedua tahun ini kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang lebih lemah, yang seharusnya membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan biaya yang lebih tinggi ke harga,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mempertimbangkan kondisi tersebut, pihak bank memproyeksikan kebijakan moneter bakal tetap bertahan tanpa perubahan.
Societe Generale menegaskan, “jika harga energi bertahan di level saat ini, kami percaya BoE akan mempertahankan Bank Rate di 3,75% sepanjang 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.