USD Tertekan akibat Prospek Suku Bunga The Fed dan Konflik Timur Tengah

Ilustrasi USD Tertekan (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:24:49 WIB

JAKARTA – Dolar AS (USD) berjuang keras untuk tetap stabil terhadap mata uang utama lainnya pada Kamis, tetapi berhasil menahan penurunan yang lebih dalam. Hal ini terjadi karena pelaku pasar kembali memetakan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) di tengah pemantauan situasi Timur Tengah.

Pasar ekonomi Eropa dijadwalkan merilis data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua. Sementara itu, data Penjualan Ritel bulan Juli serta Indeks Sentimen Konsumen awal dari Universitas Michigan akan menjadi fokus utama investor pada paruh kedua hari ini.

Laporan terbaru menunjukkan inflasi produsen tahunan AS berdasarkan Indeks Harga Produsen (IHP) melambat menjadi 4,7 persen pada Juli dari 5,5 persen pada Juni. Pencapaian ini berada di bawah estimasi pasar yang sebesar 4,9 persen.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin untuk September kini berkurang ke angka 33 persen dari sebelumnya mendekati 50 persen. Efeknya, Indeks USD bertahan di zona merah di bawah 100,00 pada sesi perdagangan Eropa hari Jumat.

Analis Commerzbank menilai rilis data ekonomi AS mendatang bakal menjadi penentu arah kebijakan, khususnya angka inflasi Agustus menjelang rapat The Fed. Mereka juga mengamati Presiden Fed Cleveland Beth Hammack yang bersikeras mempertegas posisinya sebagai figur hawkish.

Hammack "tidak percaya bahwa inflasi akan mereda dengan sendirinya" dan menegaskan bahwa "The Fed karenanya harus mendukung kata-katanya dengan tindakan," sebagaimana dilansir dari berita sumber. Commerzbank juga menilai satu kali kenaikan suku bunga tidak akan cukup untuk meredam inflasi.

Dari ranah geopolitik, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa Washington siap memberlakukan sanksi yang "belum pernah terlihat" terhadap Iran. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan pihak AS mampu melanjutkan blokade terhadap Iran "tanpa batas waktu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Usai pergerakan liar pada hari Kamis, harga minyak mentah kembali merangkak naik sekitar 1 persen mendekati 81,30 dolar AS per barel di awal perdagangan Jumat.

Laporan Reuters dari tiga sumber menyebutkan Bank of Japan (BoJ) berpeluang menaikkan suku bunga paling cepat September ini dan bertindak lebih agresif ke depannya. Kondisi ini membuat pasangan mata uang USD/JPY tertekan hingga di bawah 159,30 pada perdagangan pagi di Eropa.

Analis OCBC mengamati bahwa respons JPY masih terbatas meskipun ekspektasi pasar terhadap langkah BoJ meningkat. Jika BoJ "memberikan kenaikan suku bunga lagi pada bulan September, itu akan menandai kenaikan ketiganya dalam sembilan bulan dan laju pengetatan kebijakan tercepat sejak runtuhnya gelembung aset Jepang pada 1989," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, OCBC memberikan catatan bahwa "masih belum jelas seberapa besar keinginan pemerintah untuk kenaikan suku bunga tambahan setelah September atau Oktober," sebagaimana dilansir dari berita sumber. Hal tersebut memicu keraguan investor terkait seberapa jauh dan cepat proses normalisasi kebijakan Jepang.

Pergeseran ekspektasi suku bunga The Fed dan ketegangan di Timur Tengah menahan laju kenaikan harga emas (XAU/USD). Setelah melemah pada Kamis, emas tetap tertekan di bawah 4.350 dolar AS per ons pada sesi Eropa hari Jumat dengan penurunan sekitar 0,5 persen.

Pasangan mata uang EUR/USD berhasil bangkit dan ditutup relatif stabil setelah sebelumnya terkoreksi ke kisaran 1,1500 pada hari Kamis. EUR/USD menguat tipis mendekati 1,1550 pada Jumat pagi di Eropa, di mana ekonomi Zona Euro diproyeksikan tumbuh 1 persen secara tahunan pada kuartal kedua.

Reporter: Akbar