Harga Tembaga Turun Akibat Khawatir Permintaan dan Akhiri Tren Positif

Ilustrasi tembaga (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 14 Agustus 2026 | 00:24:19 WIB

JAKARTA – Harga tembaga mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (14/8/2026) dan diprediksi bakal memutus tren kenaikan mingguan terpanjang yang tercatat sejak 2020. Penurunan harga ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap prospek permintaan yang kian meningkat, yang mana kondisi tersebut turut memicu tekanan pada sektor logam industri secara keseluruhan.

Harga tembaga acuan tenor tiga bulan di London Metal Exchange (LME) terkoreksi 0,56 persen ke posisi USD14.069 per ton pada pukul 10.00 WIB. Tembaga diproyeksikan mengakhiri pekan di rentang level awal minggu sekaligus menyetop tren penguatan berturut-turut selama enam pekan.

Di sisi lain, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melemah tipis 0,33 persen menuju level 107.460 yuan atau setara USD15.935,82 per ton. Munculnya kecemasan terhadap prospek permintaan ini tetap terjadi meskipun tekanan inflasi mulai melandai serta kekhawatiran terkait Suku Bunga telah mereda.

Analis Fastmarkets Andy Farida mengatakan, dikutip Reuters, permintaan logam dasar memang masih terlihat tangguh, tetapi keberlanjutan momentum tersebut mulai dipertanyakan karena harga aset telah meningkat dengan cepat, sementara pertumbuhan upah masih relatif lemah sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang di bawah perkiraan membantu menekan peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga pada September mendatang. Situasi ini semestinya mampu menyokong pergerakan logam industri yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi seperti tembaga, sebab beban biaya pendanaan yang lebih murah dapat mendorong aktivitas ekonomi.

Kendati demikian, para pelaku pasar saat ini memprediksi probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada rapat September berada di angka 41 persen, terhitung turun dibanding pekan lalu sebesar 44 persen merujuk data CME FedWatch Tool.

Di tengah komoditas logam lainnya, aluminium mencatatkan penurunan paling dalam pada perdagangan Jumat. Harga aluminium di LME terkikis 0,98 persen dengan akumulasi penurunan mingguan mencapai 1,42 persen.

Sedangkan di bursa SHFE, harga aluminium merosot 1,28 persen serta ditutup 0,64 persen lebih rendah apabila dibandingkan dengan posisi pada awal pekan. Adanya potensi pemulihan pasokan dari kawasan Timur Tengah berhasil meredakan kekhawatiran pasar terkait risiko kelangkaan aluminium.

Di samping itu, aktivitas produksi alumina pada kilang Alunorte kepunyaan Norsk Hydro di Brasil mulai berangsur naik pada Kamis, pasca sebelumnya sempat mengalami pengurangan volume produksi sementara yang menyokong kenaikan harga.

Pada bursa LME, harga seng mengalami penurunan 0,61 persen, timbal merosot 0,26 persen, nikel berkurang 0,66 persen, serta timah yang ikut terkoreksi 0,28 persen. Sementara pada pergerakan SHFE, harga seng melorot 0,47 persen, timbal terdepresiasi 1,13 persen, nikel tertekan 1,28 persen, dan timah mencatatkan koreksi tipis 0,08 persen.

Reporter: Akbar