Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Keraguan Damai AS dan Iran

Ilustrasi minyak dunia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:33:19 WIB

JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami kenaikan hingga menyentuh angka US$89,63 per barel pada sesi perdagangan Rabu (12/8) pagi. Lonjakan harga ini terjadi seiring menipisnya harapan akan terciptanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Selain itu, lonjakan harga minyak juga dipicu oleh insiden serangan terhadap dua unit kapal yang menimbulkan keprihatinan atas potensi terganggunya pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent terkerek naik sebesar 72 sen atau 0,81 persen menuju level US$89,63 per barel. Di sisi lain, jenis minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat hingga 71 sen atau 0,85 persen ke posisi US$83,91 per barel.

Kedua patokan harga minyak tersebut pada hari Selasa sebelumnya telah ditutup melonjak melebihi US$1. Pencapaian harga Brent serta WTI ini tercatat sebagai titik penutupan tertinggi sejak tanggal 31 Juli.

Tren kenaikan ini melanjut tren positif pascamelonjaknya harga minyak sampai sekitar 5 persen pada hari Senin (10/8). Penguatan harga minyak berlanjut tatkala asa mengenai terwujudnya perdamaian di antara AS dan Iran kian surut.

Pihak AS beserta kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran memberitahukan adanya insiden serangan terpisah yang menyasar lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa (11/8).

Pejabat keamanan tinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum menerima sejumlah syarat Iran untuk mengakhiri perang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Persyaratan tersebut mencakup pencairan aset-aset Iran yang sedang dibekukan hingga penghentian seluruh gejolak konflik lainnya di kawasan itu.

Informasi pelayaran mencatat bahwa volume pergerakan kapal yang melintasi Selat Hormuz merosot drastis hingga tersisa enam kapal saja pada hari Senin. Angka pergerakan ini berada jauh di bawah rerata yang biasanya mencapai kira-kira 11 kapal dalam kurun 10 hari terakhir.

Apabila dibandingkan dengan periode sebelum pecahnya perang, perlintasan harian kapal di jalur vital tersebut rata-rata sanggup mencapai 125 hingga 140 armada kapal.

Dalam kalkulasi jangka panjang, EIA menaksir bahwa hambatan terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang berkisar 600 ribu barel per hari diperkirakan masih bertahan hingga pemungkas 2027.

Dinamika terkini menyebabkan pasar minyak kini dibayangi oleh dua sentimen primer, yaitu ancaman gangguan pasokan imbas ketegangan militer dan ketidakjelasan rute laut Timur Tengah, serta potensi membengkaknya stok minyak mentah milik AS.

Reporter: Akbar