TOKYO – Yen Jepang kembali mengalami tekanan setelah dampak dari aksi intervensi pemerintah mulai memudar. HSBC Asset Management bersama BNY memprediksi bahwa jurang selisih suku bunga serta minimnya tindakan kebijakan lanjutan bakal menahan laju penguatan mata uang tersebut.
HSBC Asset Management memperkirakan langkah intervensi dari Jepang dan Amerika Serikat hanya mampu menopang yen dalam jangka pendek. Walau demikian, perbedaan tingkat suku bunga di antara kedua negara tetap menjadi beban utama bagi yen pada jangka menengah.
Pihak HSBC memberikan peringatan bahwa situasi sekarang tak lagi sama seperti kondisi dua tahun lalu. Kala itu, tindakan intervensi Jepang yang dipadu dengan kejutan pergeseran ekspektasi suku bunga berhasil memicu lonjakan nilai tukar yen secara signifikan.
Dinamika tersebut memicu pembalikan skala besar pada aktivitas perdagangan carry trade yen. Strategi tersebut dijalankan dengan meminjam mata uang yen demi memboyong aset luar negeri berkutipan imbal hasil lebih tinggi, hingga akhirnya memicu gejolak di bermacam pasar keuangan.
Pemerintah Jepang baru-baru ini kembali melancarkan intervensi guna menyokong nilai tukar yen. Pada kesempatan ini, aksi tersebut mengeksekusi kerja sama dengan Amerika Serikat sebagai signal kuat menuju pasar.
Meskipun begitu, HSBC menganggap keadaan saat ini kurang memadai untuk mendorong pemulihan yen secara konsisten.
Kendati inflasi di Jepang merangkak naik, Bank of Japan (BOJ) tetap bersikap tenang dan berhati-hati dalam memberi indikasi percepatan kenaikan suku bunga. Di sisi lain, laju inflasi AS yang bertahan tinggi beserta sinyal hawkish dari Federal Reserve makin memperkuat ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi.
Situasi tersebut menyebabkan jurang perbedaan suku bunga AS-Jepang terus-menerus menekan pergerakan yen.
BNY menilai yen kembali meloyo seusai efek dari intervensi mutakhir Jepang mulai menyusut. Nilai pasangan mata uang USD/JPY kembali merangkak naik hingga melenyapkan mayoritas porsi penguatan yen yang sempat tercapai sebelumnya.
BNY memproyeksikan beban terhadap otoritas Jepang bakal makin berat apabila USD/JPY berhasil menembus angka 160. Batas tersebut dipandang amat krusial secara psikologis dan dapat memicu pemerintah Jepang merombak arah kebijakannya jika penguatan yen benar-benar ditargetkan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan aksi bersama Jepang dan AS tersebut baru sebatas "sinyal", sebagaimana dilansir dari berita sumber. Menurut pandangan BNY, Tokyo wajib menindaklanjutinya lewat eksekusi kebijakan yang jauh lebih nyata.
Bila hal itu diabaikan, efektivitas intervensi sebagai alat kebijakan bakal diragukan. Tingkat kredibilitas kebijakan Jepang juga terancam kian tergerus tiap kali USD/JPY melonjak lebih tinggi.
Langkah intervensi valuta asing memang sanggup memberikan angin segar bagi yen dalam jangka pendek. Meski begitu, HSBC menilai faktor fundamental masih menjadi tantangan berat untuk mata uang tersebut.
Tingginya posisi net short yen juga menyimpan potensi risiko penguatan mendadak apabila para investor memutuskan untuk melepas posisi mereka.
Hingga kini, jurang perbedaan suku bunga AS-Jepang masih menjadi faktor dominan yang menahan prospek pemulihan yen.