Breaking

Pejabat The Fed Beda Pendapat Soal Kenaikan Suku Bunga 25 Basis Poin

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 12 Agustus 2026
Pejabat The Fed Beda Pendapat Soal Kenaikan Suku Bunga 25 Basis Poin
Ilustrasi Kenaikan Suku Bunga (FOTO : NET)

NEW YORK – Perbedaan pandangan di internal Federal Reserve (The Fed) mengenai kenaikan suku bunga semakin tajam. Inflasi yang bertahan tinggi selama lima tahun mulai menguji kesabaran para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS).

Sejumlah pernyataan terbaru pejabat The Fed menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang melihat alasan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Sikap tersebut muncul setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Juli.

Sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang tidak memiliki hak suara juga mendukung tiga pejabat yang sebelumnya berbeda pendapat. Ketiganya menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Di sisi lain, mayoritas pejabat masih melihat peluang inflasi turun dengan sendirinya. Namun, kesabaran mereka dalam menghadapi tekanan harga mulai menipis.

The Fed kini menghadapi dilema yang tidak asing bagi bank sentral. Kenaikan bunga terlalu cepat dapat menekan pasar tenaga kerja, sedangkan menunggu terlalu lama dapat membuat tekanan harga semakin sulit dikendalikan.

Data ketenagakerjaan terbaru belum memberikan jawaban yang jelas. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada Juli turun secara mengejutkan, dan data tersebut menunjukkan bahwa perekrutan pada dua bulan sebelumnya ternyata lebih rendah dari perkiraan awal.

"Data yang ada belum jelas menunjukkan skenario mana yang sebenarnya sedang terjadi," kata James Egelhof, kepala ekonom BNP Paribas untuk AS, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, tekanan agar The Fed mengambil tindakan semakin besar karena belum ada kemajuan signifikan dalam menurunkan inflasi.

Penurunan lapangan kerja pada Juli juga kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.

Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Tom Barkin, mengatakan bahwa setelah data tersebut dirilis pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi "seimbang tetapi lemah", sebagaimana dilansir dari berita sumber. Menurut dia, kondisi tersebut tidak banyak berubah selama 18 bulan terakhir.

Perhatian pasar kini beralih ke data inflasi yang akan dirilis sebelum pertemuan The Fed pada September mendatang. Salah satunya adalah laporan indeks harga konsumen yang dijadwalkan terbit pekan ini.

Dalam proyeksi yang dirilis pada Juni, pejabat The Fed memperkirakan inflasi akan kembali ke target 2 persen pada 2028. Namun, inflasi berdasarkan indeks harga konsumen masih mencapai 3,5 persen pada Juni.

Ukuran inflasi pilihan The Fed, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, juga berada di 3,3 persen.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai kemampuan The Fed mencapai target inflasi 2 persen.

Perdebatan di internal bank sentral diperkirakan semakin terbuka dalam beberapa pekan menjelang simposium ekonomi tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, akan menjadi sorotan utama dalam forum tersebut. Investor akan mencermati pidatonya untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga yang sejauh ini belum diberikan.

The Fed memilih mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026. Keputusan tersebut diambil meski biaya impor melonjak akibat perubahan kebijakan perdagangan dan harga energi meningkat karena perang di Iran.

Sejumlah pejabat menilai kenaikan suku bunga belum tentu menjadi respons yang tepat terhadap tekanan harga yang kemungkinan hanya bersifat sementara. Kebijakan moneter juga membutuhkan waktu untuk memberikan dampak terhadap perekonomian.

Claudia Sahm, kepala ekonom New Century Advisors dan mantan ekonom The Fed, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan utama bagi para pembuat kebijakan.

Pembuat kebijakan harus membedakan faktor siklus ekonomi yang memengaruhi inflasi dan tenaga kerja dengan perubahan struktural. Faktor siklus dapat diatasi melalui kebijakan suku bunga, sedangkan perubahan struktural berada di luar kendali bank sentral.

"Instrumen The Fed paling sesuai untuk menjaga siklus bisnis tetap stabil. Namun, perubahan yang kami lihat dalam data secara keseluruhan lebih banyak didorong oleh perubahan struktural," kata Sahm, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Instrumen The Fed tidak dirancang untuk menghadapi kondisi tersebut," lanjutnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Gubernur The Fed, Lisa Cook, mengatakan kenaikan suku bunga terlalu cepat dapat melemahkan pasar tenaga kerja. Langkah tersebut juga belum tentu diperlukan jika tekanan inflasi mulai mereda.

"Sejumlah faktor yang mendorong disinflasi sudah mulai terlihat," kata Cook dalam pidatonya pada 5 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menunjuk pada mulai berkurangnya dampak tarif, harga minyak yang diperkirakan turun, serta tekanan harga dari investasi di bidang kecerdasan buatan yang diperkirakan mereda.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, baru-baru ini mengatakan bahwa ia masih memperkirakan inflasi kembali ke target The Fed pada 2028. Ia menambahkan bahwa pandangannya secara umum "tidak banyak berubah", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Data tenaga kerja yang lemah membuat ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 40 persen. Sebelum data tersebut dirilis, ekspektasinya masih di atas 50 persen, berdasarkan harga kontrak berjangka.

Namun, bagi tiga pejabat yang menginginkan kenaikan 25 basis poin pada Juli, setiap bulan ketika inflasi berada di atas target 2 persen dianggap terlalu lama.

Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan bahwa penundaan kenaikan bunga dapat memaksa The Fed untuk melakukan pengetatan yang lebih agresif di kemudian hari.

Sejumlah pejabat lain menyampaikan pandangan serupa. Mereka menunjuk inflasi yang masih tinggi, belanja konsumen yang kuat, dan kondisi pasar keuangan yang longgar sebagai tanda bahwa kebijakan suku bunga belum cukup untuk menekan perekonomian.

"Dengan kuatnya permintaan dan investasi, saya tidak melihat kebijakan moneter saat ini sebagai kebijakan yang restriktif," kata Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa dirinya mendukung kebijakan yang lebih ketat untuk menekan inflasi.

Salah satu sosok yang belum banyak berkomentar dalam perdebatan tersebut adalah Warsh. Sikapnya yang enggan memberikan panduan mengenai arah suku bunga membuat pandangan The Fed terhadap kondisi ekonomi semakin sulit dipetakan.

Setelah rapat kebijakan Juli, Warsh kembali menegaskan komitmennya terhadap stabilitas harga. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana target tersebut akan dicapai.

Investor merespons dengan melepas obligasi Treasury AS bertenor panjang, dan ekspektasi inflasi yang tercermin dalam indikator pasar juga meningkat.

Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan setelah rapat bahwa dirinya sebenarnya lebih memilih kenaikan suku bunga. Ia memahami sikap tersebut sebagai sinyal bahwa bank sentral perlu terus membangun kredibilitasnya.

"Pada titik ini, persoalannya bukan lagi hanya data ekonomi. Ini juga soal kredibilitas The Fed," kata Torsten Slok, kepala ekonom Apollo Global Management di New York, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Inflasi sudah berada di atas target sejak 2021. Ini waktu yang sangat, sangat lama bagi bank sentral nomor satu di dunia untuk menghadapi inflasi pada level setinggi ini," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sambil menunggu kejelasan lebih lanjut, pelaku pasar yang mengamati The Fed bersiap menghadapi kemungkinan perbedaan pendapat yang lebih banyak dalam FOMC.

"Karena pernyataan FOMC sangat ringkas dan Warsh masih sulit dibaca, semakin sulit untuk mengetahui posisi masing-masing anggota mengenai kebijakan," kata Mark Zandi, kepala ekonom Moody's Analytics, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua