DXY Tertahan di 99,75 Menjelang Rilis Inflasi AS dan Konflik Iran

Ilustrasi indeks dolar (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:30:41 WIB

JAKARTA – Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) tampak menahan laju pemulihannya sembari menunggu pemicu baru untuk penguatan lanjutan. Konflik geopolitik AS-Iran yang terus berlanjut menjaga premi risiko tetap bertahan sekaligus mengukuhkan posisi USD sebagai aset aman.

Prospek inflasi yang mengkhawatirkan kembali mendorong dugaan potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Kondisi ini mengangkat imbal hasil obligasi AS dan turut menopang pergerakan indeks.

Indeks Dolar AS (DXY), sebagai tolok ukur Greenback atas sejumlah mata uang utama, tampak tertahan memanfaatkan reli hari sebelumnya dan bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Asia Selasa. Saat ini indeks berada di kisaran 99,75 atau cenderung mendatar, menantikan perkembangan eskalasi Timur Tengah serta data inflasi AS terkini.

Presiden AS Donald Trump menampik tuntutan ganti rugi Iran atas dampak perang dan justru menuding balik Iran sebagai dalang kerusakan di wilayah tersebut. Pihak Iran pun menutup peluang negosiasi dengan Trump dan memilih menanti akhir masa jabatannya pada 20 Januari 2029, sehingga pelaku pasar kembali memperhitungkan premi risiko geopolitik yang menyokong USD.

Di sisi lain, perselisihan AS-Iran makin memperkecil peluang dibukanya kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Hambatan pada Selat Bab el-Mandeb akibat aksi blokade Houthi terhadap Arab Saudi makin memperketat pasokan dan memicu lonjakan harga minyak mentah.

Dampak risiko inflasi tersebut menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) minimal satu kali lagi. Hal ini terus menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memberi angin segar bagi pembeli DXY.

Para investor saat ini masih enggan mengambil posisi secara agresif dan memilih menanti kejelasan arah kebijakan The Fed selanjutnya. Perhatian pasar tertuju pada data inflasi konsumen AS pada hari Rabu yang dilanjutkan dengan rilis Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) pada hari Kamis.

Reporter: Akbar