INDEF Tekankan Pentingnya Daya Beli Kelas Menengah ke Bawah
JAKARTA – Daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah, dinilai oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menjadi kunci utama dalam menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2026.
“Pada kuartal III dan IV, pemerintah perlu fokus menjaga daya beli, terutama kelompok menengah bawah,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Senin (10/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 berada di angka 5,06 persen (year on year/yoy). Angka tersebut menunjukkan perlambatan jika dibandingkan kuartal I-2026 yang tumbuh sebesar 5,52 persen (yoy).
Rizal mengungkapkan bahwa perlambatan konsumsi rumah tangga pada triwulan II perlu diwaspadai karena sektor ini masih merupakan penopang utama ekonomi nasional, dengan porsi kontribusi 2,67 persen dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen (yoy).
Ia menambahkan, di saat konsumsi melemah tetapi ekonomi nasional tetap tumbuh sekitar 5 persen, hal itu mengindikasikan bahwa penopang pertumbuhan bergeser ke komponen lain seperti investasi dan belanja pemerintah.
Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk kembali meningkatkan konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun. Beberapa strategi yang ditawarkan mencakup pengendalian inflasi pangan, penyaluran bantuan tepat sasaran, insentif transportasi, hingga kebijakan penekanan biaya hidup.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa stimulus konsumsi tidak boleh hanya mengandalkan bantuan yang bersifat sementara.
Pemberian stimulus sebaiknya difokuskan pada perbaikan sumber pendapatan masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja formal, pencegahan pemutusan hubungan kerja (PHK), peningkatan upah riil, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia berpendapat bahwa pemaksaan pertumbuhan konsumsi tanpa dibarengi perbaikan pendapatan berisiko mendorong masyarakat menguras tabungan atau menambah beban utang.
“Jadi, strategi kuartal III dan IV harus menggabungkan stimulus jangka pendek dengan penguatan pendapatan agar konsumsi pulih secara lebih sehat dan berkelanjutan,”ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.