Harga Tembaga Tembus US$14.000 Pasokan Global dan Permintaan China Disorot

Ilustrasi tembaga global (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 10 Agustus 2026 | 01:49:06 WIB

JAKARTA – Harga tembaga bertahan di atas US$14.000 per ton pada Senin (10/8) setelah mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak Mei. Pergerakan tersebut terjadi ketika kekhawatiran terhadap dampak larangan ekspor konsentrat tembaga dari Republik Demokratik Kongo (DRC) terhadap pasokan global mulai mereda.

Di sisi lain, sejumlah indikator permintaan fisik di China, sebagai konsumen tembaga terbesar dunia, mulai menunjukkan pelemahan. Seperti dikutip TheEdgeMalaysia, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik tipis 0,1% menjadi US$14.089,50 per ton pada pukul 02.40 GMT.

Sementara itu, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turun 0,35% menjadi 107.640 yuan atau sekitar US$15.956,12 per ton. Tembaga di London dan Shanghai sama-sama mencatat kinerja mingguan terbaik sejak awal Mei.

Harga di LME naik 2,07%, sedangkan kontrak SHFE menguat 2,34% sepanjang pekan lalu. Goldman Sachs pada Minggu memperkirakan larangan ekspor dari Kongo tidak akan memberikan dampak material terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan tembaga global.

Menurut bank tersebut, kebijakan itu pada dasarnya memperkuat kebijakan yang telah lama berlaku dan memengaruhi arus perdagangan yang sebelumnya sudah mengalami penurunan tajam. Di China, data yang dirilis pada akhir pekan menunjukkan inflasi konsumen melambat pada Juli.

Sementara itu, inflasi harga produsen turun menjadi 3,5% dari 4,1% pada Juni. Data tersebut mengindikasikan permintaan domestik China masih relatif lemah.

Premi tembaga Yangshan, yang menjadi salah satu indikator minat China terhadap tembaga impor, turun menjadi US$101 per ton pada Jumat. Angka tersebut merupakan level terendah sejak 20 Juli.

Premi tembaga spot domestik juga turun menjadi 70 yuan per ton, terendah sejak 16 Juli. Persediaan tembaga di SHFE naik tipis 1,1% menjadi 70.116 ton pada pekan lalu.

Kenaikan ini menjadi peningkatan mingguan pertama sejak 8 Juni, setelah sebelumnya persediaan menyentuh level terendah dalam lebih dari dua tahun. Data bea cukai China menunjukkan impor tembaga mentah dan produk tembaga turun 11,5% secara tahunan menjadi 425.000 ton pada Juli.

Sementara itu, impor selama Januari-Juli turun 6,2% menjadi 2,92 juta ton. Angka tersebut merupakan level terendah untuk periode yang sama sejak 2019.

Di pasar logam LME lainnya, aluminium naik 0,15%, seng menguat 0,13%, timbal bertambah 0,16%, dan timah naik tipis 0,04%. Sementara itu, nikel turun 0,17%.

Di SHFE, aluminium naik 0,21%, timbal menguat 0,25%, dan nikel melonjak 0,53%. Sebaliknya, harga seng turun 1,49%, sedangkan timah melemah 1,33%.

Reporter: Akbar