Harga Emas Sepekan Diprediksi Rp 2,55-Rp 2,82 Juta per Gram

Ilustrasi Harga emas diperkirakan bergerak di kisaran Rp 2,55-Rp 2,82 juta per gram dalam sepekan. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 10 Agustus 2026 | 21:49:31 WIB

JAKARTA — Harga emas diprediksi masih bergerak melandai namun cenderung naik dalam sepekan ke depan. Pergerakan harga emas diperkirakan berada di kisaran Rp 2,55-Rp 2,82 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia secara teknikal berada di level support 4.151 dolar AS per troy ons hingga level resisten 4.493 dolar AS per troy ons.

Adapun pada Senin (10/8/2026), level support diperkirakan di 4.279 dolar AS per troy ons dan level resisten di 4.405 dolar AS per troy ons.

“Untuk harga logam mulia Sabtu ditutup pada level Rp 2,69 juta per gram. Dalam sepekan (ke depan) kemungkinan besar logam mulia akan ditransaksikan di Rp 2,55 juta per gram, kemudian resisten-nya di Rp 2,82 juta per gram,” kata Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sedangkan pada Senin (10/8/2026), level support harga logam mulia diperkirakan di Rp 2,67 juta per gram dan level resisten di Rp 2,71 juta per gram.

“Jadi ada kemungkinan harga emas dan logam mulia akan menguat. Walaupun rupiah juga menguat tetapi penguatan mata uang rupiah membuat kenaikan harga logam mulia sedikit terbatas,” tuturnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim juga memproyeksikan harga minyak mentah dunia cenderung menurun di kisaran 65,70 dolar AS per barel sebagai level support hingga 83,30 dolar AS per barel. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak di sekitar 98,80—100,50.

“Apa sih yang membuat harga emas dunia dan logam mulia mengalami kenaikan? Yang pertama adalah tentang masalah geopolitik dimana adanya kesepakatan Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz yang kemungkinan besar akan segera tercapai satu kesepakatan. Dan ini pun juga sudah dilaporkan ke AS,” ujar Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan, Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab di Selat Hormuz.

“Serangan dari Iran ini rupanya tidak membuat harga minyak kembali mengalami kenaikan, tetapi AS sendiri fokus terhadap perjanjian yang ada diantara Iran dan Oman untuk pengendalian Selat Hormuz,” kata Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim menuturkan, Iran menginginkan AS tidak melakukan serangan ke titik vital negara tersebut. Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa serangan udara tidak akan menghasilkan kesepakatan perang di Timur Tengah, sehingga kemungkinan AS melakukan serangan darat.

“Ini membuat ketegangan tersendiri walaupun sampai saat ini belum ada letupan-letupannya. Jadi, faktor geopolitik di Timur Tengah masih cukup dominan,” kata Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, Rusia masih melakukan penyerangan dengan misil jarak jauh ke Ibu Kota Ukraina, Kyiv.

“Sasaran utama dari Rusia sekarang bukan lagi wilayah-wilayah pinggiran tetapi adalah Ibu Kota Kyiv agar Zelenskyy menyerah tanpa syarat terhadap Rusia, dan memberikan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Rusia untuk diakui oleh Ukraina. Nah ini pun juga membuat ketegangan tersendiri terhadap harga minyak mentah. Itu dari segi geopolitik ya,” ujar Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Faktor lain adalah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Data tenaga kerja AS turun 23 ribu pada Juli 2026, lebih rendah dari ekspektasi 85 ribu.

“Ada harapan bahwa terjadinya penurunan harga minyak akan membuat investor secara global yang akan mengalihkan dananya dari dolar dan atau dari minyak mentah ke emas sebagai safe haven,” kata Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Ibtihal