Dolar AS Dekati Level Terendah Dua Bulan Menjelang Data Inflasi

Ilustrasi Dolar AS mendekati level terendah dua bulan di tengah antisipasi data inflasi pekan ini. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 10 Agustus 2026 | 21:49:31 WIB

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak mendekati level terendah dua bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada Senin (10/8/2026). Investor menanti rilis data inflasi AS pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Indeks dolar AS (DXY) nyaris tidak berubah di 99,6, posisi terendah sejak 2 Juni. Euro menguat tipis ke US$1,1558, pound sterling stabil di US$1,3490, dan yen bertahan di 157,90 per dolar.

Data ketenagakerjaan AS pada Juli menunjukkan bahwa ekonomi kehilangan lapangan kerja, dengan revisi tajam pada dua bulan sebelumnya. Hal ini menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan depan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke 4,637%. Pasar futures kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September hanya 44%, turun dari 67% sepekan sebelumnya.

Menurut Geoff Yu, analis BNY, pelemahan pasar tenaga kerja menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang pelemahan dolar, meski belum menunjukkan sinyal pelonggaran jelas.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti (core CPI) Juli naik 0,2% bulanan, dengan tingkat tahunan 2,5%, melanjutkan tren moderasi dari 2,6% Juni. Data PPI Kamis dan penjualan ritel Jumat juga akan menjadi perhatian.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik 1,4% ke sekitar US$85 per barel di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menyebut kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran baru hampir selesai, namun masih menunggu pemenuhan syarat dari AS.

Di Asia, dolar Australia melemah 0,1% ke US$0,7062 dan dolar Selandia Baru turun 0,1% ke US$0,5889. Pasar menanti keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa, dengan ekspektasi suku bunga acuan tetap di 4,35% hingga akhir tahun.

Reporter: Ibtihal