Harga CPO Bursa Malaysia Naik 0,3 Persen akibat Permintaan India
KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), melanjutkan tren positif selama dua hari berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme pasar terkait solidnya prospek ekspor minyak sawit, khususnya ke negara-negara pembeli utama.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives mengalami kenaikan sebesar RM14 per ton atau sekitar 0,3% menjadi RM4.710 per ton hingga tengah hari. Pada hari sebelumnya, kontrak tersebut juga sudah melesat 1,45%, yang menandakan sentimen pasar masih berada di zona positif sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sentimen positif salah satunya datang dari India sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Laporan terkini mencatat bahwa volume impor minyak nabati India pada Juli 2026 menyentuh level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.
Lonjakan impor tersebut terjadi karena para pelaku bisnis penyulingan menambah pasokan guna mengantisipasi kebutuhan musim festival di tengah menipisnya stok domestik. Tren peningkatan permintaan dari India ini diprediksi dapat memberi angin segar bagi pasar minyak sawit global hingga beberapa bulan mendatang.
Meskipun demikian, laju Kenaikan harga CPO sedikit terhambat oleh dinamika harga minyak nabati lain dan sektor energi. Di bursa komoditas China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange terkoreksi 0,18%, sedangkan kontrak minyak sawitnya justru terangkat 1,13%.
Pada saat yang sama, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terlihat turun tipis 0,07%.
Dari dalam negeri, harga CPO pada transaksi PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami penyesuaian pada Rabu (5/8/2026). Proses transaksi tercatat berakhir withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi di angka Rp15.688 per kilogram.
Catatan tersebut menunjukkan harga CPO KPBN tergerus Rp112 per kilogram atau melemah sekitar 0,71% jika dibandingkan dengan posisi Selasa (4/8/2026) yang berada di angka Rp15.800 per kilogram.
Secara umum, pergerakan harga CPO global ke depan masih akan bergantung pada permintaan negara importir utama, tingkat persediaan minyak nabati, serta fluktuasi harga komoditas energi dunia.