TOKYO – Pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dinilai kian memperkuat peluang Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga pada September mendatang. Di samping itu, situasi ini turut menimbulkan pertanyaan terkait seberapa besar pengaruh Washington terhadap kebijakan moneter di Jepang.
Bessent dalam beberapa hari terakhir tampak aktif menyampaikan pandangannya mengenai arah kebijakan moneter Jepang. Langkah tersebut menyusul intervensi bersama yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat dan Jepang di pasar valuta asing pada pekan lalu guna menopang nilai tukar yen.
Bessent menilai bahwa aksi intervensi itu perlu diimbangi dengan kenaikan suku bunga dari BOJ. Kebijakan tersebut dianggap krusial untuk meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi keterlambatan bank sentral Jepang dalam mengendalikan laju inflasi.
Pandangan ini sejalan dengan sikap BOJ yang hingga kini masih membuka opsi kenaikan suku bunga. Meski demikian, beberapa pihak mengkhawatirkan pernyataan Bessent dapat memberikan persepsi adanya tekanan dari Amerika Serikat terhadap kebijakan moneter Jepang.
Mantan pejabat BOJ yang kini menjabat sebagai ekonom eksekutif di Mizuho Research Institute, Kazuo Momma, menyatakan bahwa intervensi bersama memberikan momentum bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga.
"Intervensi hanya memberi waktu dan bisa menjadi sia-sia jika tidak diikuti kenaikan suku bunga BOJ," ujar Momma sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Momma menilai keterlibatan Amerika Serikat dalam aksi intervensi menjadi poin yang sangat krusial. Menurut pandangannya, jika pemerintah Jepang menghambat BOJ untuk menaikkan suku bunga, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Amerika Serikat.
Walaupun undang-undang memberikan jaminan independensi BOJ dari campur tangan politik, bank sentral tersebut tetap diharuskan berkoordinasi dengan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
Selama ini, BOJ juga kerap berhadapan dengan tekanan politik agar memanfaatkan kebijakan moneter untuk meredam gejolak dari faktor eksternal, termasuk penurunan nilai tukar yen.
Arah Kebijakan BOJ
Langkah intervensi bersama dinilai jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan tindakan sepihak yang pernah dilakukan Jepang sebelumnya. Nilai tukar yen pun terpantau mampu bertahan lebih kuat seusai intervensi dilaksanakan.
Melalui wawancara dengan NHK, Bessent meyakini Governor BOJ, Kazuo Ueda, bakal mengambil keputusan terbaik bagi perekonomian Jepang yang terdampak oleh pelemahan yen.
Pada kesempatan wawancara terpisah bersama CNBC, Bessent menegaskan kembali bahwa aksi intervensi harus dibarengi dengan kebijakan ekonomi yang dapat memperkuat fundamental yen.
Ia merasa optimistis pihak Jepang akan menerapkan kebijakan yang tepat agar nilai tukar yen sanggup kembali ke tingkat yang lebih seimbang.
Pekan lalu, BOJ memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga. Kendati begitu, bank sentral juga menyampaikan peringatan terkeras hingga saat ini mengenai meningkatnya risiko inflasi, sehingga pasar menilai peluang kenaikan suku bunga pada September tetap terbuka lebar.
Atensi pasar saat ini tertuju pada agenda pertemuan antara Bessent dan Ueda di sela-sela forum menteri keuangan G20 pada akhir Agustus. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung menjelang rapat penentuan kebijakan BOJ pada 17-18 September 2026.
Beberapa sumber memperkirakan BOJ bakal mengerek suku bunga pada bulan September atau Oktober.
Salah satu sumber mengungkapkan, apabila agenda pertemuan antara Bessent dan Ueda terealisasi, BOJ akan semakin sulit untuk menghindari kenaikan suku bunga pada September.
Di sisi lain, Wakil Gubernur BOJ, Ryozo Himino, dijadwalkan menyampaikan pidato pada 27 Agustus 2026. Pelaku pasar dipastikan bakal mencermati pidato tersebut demi mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga mendatang.
Kenaikan Bertahap
BOJ telah menghentikan kebijakan stimulus berskala besar pada tahun 2024 dan sudah beberapa kali menaikkan suku bunga, termasuk pada Juni saat suku bunga acuan menyentuh 1 persen. Tingkat tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 31 tahun terakhir.
Walau demikian, laju penyesuaian suku bunga yang tergolong lambat membuat jarak suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat tetap lebar. Kondisi ini turut menyeret yen hingga terperosok ke level terendah dalam kurun 40 tahun.
Pelemahan nilai tukar yen memicu lonjakan harga barang impor. Ditambah dengan kenaikan harga energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah, kondisi ini semakin memberatkan beban hidup masyarakat Jepang.
Sebagian besar analis memperkirakan BOJ kembali menaikkan suku bunga sebelum tahun ini berakhir, bahkan paling cepat pada Oktober mendatang.
Namun demikian, kenaikan suku bunga pada September berpotensi memicu ekspektasi bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga di setiap kuartal, lebih cepat dari pola saat ini yang umumnya terjadi dua kali dalam setahun.
Kepala Ekonom Jepang di JPMorgan Securities, Ayako Fujita, berpendapat bahwa BOJ kemungkinan memilih untuk menunggu hingga Oktober demi memiliki lebih banyak waktu dalam mengevaluasi dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap perekonomian.
Menurut Fujita, keputusan menaikkan suku bunga pada September dapat memancing ekspektasi penyesuaian berikutnya pada Desember. Meski begitu, kepastian waktu kenaikan suku bunga pada akhirnya sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar yen.