JAKARTA – Harga emas dunia membukukan lonjakan harian tertinggi dalam rentang waktu enam bulan terakhir setelah tampak sinyal positif terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Langkah maju tersebut meredam kecemasan atas pasokan energi dunia sekaligus menekan proyeksi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Harga emas spot merambat naik hingga 0,8 persen menuju kisaran US$4.280 per troi ons pada Kamis (6/8), usai meroket 4,1 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan tajam tersebut menjadi rekor terbesar sejak 3 Februari lalu.
Dukungan sentimen positif muncul seusai Iran menyatakan telah menyepakati kesepahaman bersama Oman terkait jalur pelayaran transisi di Selat Hormuz. Kesepakatan itu memberi jalan bagi pulihnya sebagian lalu lintas pengiriman energi di koridor minyak vital dunia, yang berdampak pada penurunan harga minyak.
"Jalur pelayaran sementara itu diperkirakan berlaku selama dua hingga empat bulan," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Meski demikian, kesepahaman tersebut belum berarti Selat Hormuz sepenuhnya dibuka kembali," ujar Kazem Gharibabadi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebutkan bahwa proses negosiasi dengan Iran masih berjalan dan peluang perdamaian tetap ada. Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya lebih memprioritaskan jalur diplomasi ketimbang opsi militer.
Asa meredanya bentrokan yang berjalan lebih dari lima bulan membuat para pelaku pasar kini memproyeksikan The Federal Reserve hanya menaikkan suku bunga satu kali hingga penutupan tahun. Padahal pada pekan lalu, pasar memprediksi akan ada dua kali kenaikan suku bunga.
Arah kebijakan moneter yang cenderung longgar memberi angin segar bagi emas karena aset ini tidak memiliki imbal hasil, sehingga tampak lebih memikat saat suku bunga tidak dinaikkan secara agresif.
Namun, Gubernur The Fed Lisa Cook memberikan peringatan bahwa bank sentral tetap bersiap menaikkan suku bunga jika laju inflasi tidak kunjung mereda.
"Semakin lama inflasi berada di atas target 2 persen, semakin sulit bagi The Fed mengendalikannya," tutur Lisa Cook sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Analis dari TD Securities berpandangan bahwa pelonggaran tekanan makroekonomi serta menguatnya harapan damai AS-Iran menjadi motor utama penguatan harga emas. Mereka menambahkan bahwa dana investasi makro telah melipatgandakan kepemilikan emas lebih dari dua kali lipat sejak Juni, disokong aksi beli investor di Bursa Berjangka Shanghai serta aliran masuk dana ETF emas di Asia.
Walau begitu, TD Securities memberi peringatan bahwa kondisi pasar energi yang masih ketat dapat menjadi hambatan bagi kelanjutan tren kenaikan emas dalam jangka panjang.
Pada sesi perdagangan Kamis (6/8) pagi di Singapura, harga emas spot terpantau menguat 0,7 persen ke level US$4.277,41 per troi ons. Di waktu yang sama, harga perak merambat naik 0,3 persen menjadi US$62,23 per troi ons, disusul platinum serta paladium yang turut berakhir di zona hijau.