ASII Siap Lakukan Buyback Saham Senilai 8 Triliun Rupiah

Ilustrasi Saham (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:46 WIB

JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan portofolio bisnis yang sangat beragam. Selain memimpin industri otomotif, perusahaan ini juga merambah sektor jasa keuangan, alat berat, pertambangan, agribisnis, infrastruktur, properti, hingga teknologi informasi.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, ASII memperoleh restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Juli 2026 untuk menjalankan program pembelian kembali saham maksimal Rp8 triliun. Dalam pertemuan yang sama, pemegang saham menyetujui pengalihan maksimal 100 juta saham treasury untuk program kepemilikan saham manajemen.

RUPSLB tersebut mengesahkan dua agenda utama, yakni pembelian kembali saham senilai maksimal Rp8 triliun sesuai aturan POJK No. 29 Tahun 2023 serta pengalihan saham treasury untuk program insentif manajemen. Program ini bertujuan meningkatkan Total Shareholder Return jangka panjang dan mengoptimalkan struktur permodalan perusahaan.

Saat ini, harga saham ASII meningkat ke level 5.200 per saham dalam sepekan terakhir dengan kenaikan 7,22 persen atau setara 350,00. Astra memiliki portofolio bisnis terdiversifikasi di sektor strategis, di mana sekitar 90 persen laba berasal dari pilar otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan pertambangan.

Lini usaha otomotif meliputi distribusi mobil dan sepeda motor, produksi komponen, serta layanan purna jual. Sektor jasa keuangan menyediakan pembiayaan, asuransi, perbankan digital, dan investasi, sementara segmen alat berat berfokus pada distribusi alat berat, kontraktor pertambangan, serta energi.

Agribisnis dikelola melalui Astra Agro Lestari, sedangkan infrastruktur dan logistik mencakup investasi jalan tol serta pelabuhan. Perusahaan juga mengembangkan properti komersial dan menyediakan solusi digital melalui unit bisnis teknologi informasi.

ASII mencatatkan laba bersih Rp5,85 triliun pada kuartal I 2026, turun 15,6 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,93 triliun. Penurunan ini menyebabkan laba bersih per saham tercatat sebesar Rp144,50 per lembar.

Dari sisi operasional, pendapatan bersih kuartal I 2026 mencapai Rp78,67 triliun, turun 5,6 persen dibandingkan Rp83,36 triliun pada tahun lalu. Laba kotor tercatat turun 9,2 persen menjadi Rp15,49 triliun, sementara EBITDA melemah 23,7 persen menjadi Rp10,63 triliun.

Kinerja kuartalan juga mengalami penurunan dengan pendapatan turun 1,4 persen, laba kotor turun 19,3 persen, EBITDA turun 28,6 persen, dan laba bersih turun 29,5 persen. Meskipun demikian, perusahaan tetap menunjukkan profitabilitas yang solid berkat kontribusi dari berbagai lini bisnis yang terdiversifikasi.

Reporter: Akbar