Maybank Sekuritas: Buy PGAS, Target Harga Rp2.150 per Saham
JAKARTA — Pemerintah memangkas harga liquefied natural gas (LNG) untuk industri. Hal tersebut ternyata tidak mengubah pandangan Maybank Sekuritas Indonesia terhadap PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Maybank Sekuritas Indonesia masih mempertahankan rekomendasi buy saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan target harga tetap di Rp 2.150 per saham.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, dalam riset 17 Juli 2026, menilai dampak kebijakan tersebut terhadap kinerja keuangan dan valuasi PGAS masih dapat dikelola.
Hasan menjelaskan, ketidakpastian utama saat ini bukan pada besaran penurunan harga LNG, melainkan pada mekanisme pembagian beban biaya (cost-sharing) yang hingga kini belum ditetapkan pemerintah.
Mekanisme tersebut akan menentukan besarnya beban yang harus ditanggung PGAS di sepanjang rantai pasok LNG.
"Kami mempertahankan proyeksi kinerja dan target harga karena formula cost-sharing masih belum ditetapkan. Risiko utama justru berasal dari lamanya kebijakan diberlakukan, bukan dari besarnya pemotongan harga LNG," tulis Hasan.
Pemerintah sebelumnya memangkas harga LNG untuk industri menjadi Dolar AS 13 per MMBtu dari sebelumnya Dolar AS 21 per MMBtu untuk periode 1 Juli hingga 31 Desember 2026 sebagai upaya meningkatkan daya saing industri nasional.
Menurut Hasan, kebijakan tersebut hanya berlaku untuk pasokan LNG, sementara harga gas pipa, baik yang termasuk skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) maupun non-HGBT, relatif tidak mengalami perubahan.
Namun hingga kini PGAS belum menerima rincian formula pembagian beban biaya yang mencakup sektor hulu, liquefaction, regasifikasi, transmisi, hingga distribusi.
Akibatnya, belum diketahui bagaimana pemotongan harga sebesar Dolar AS 8 per MMBtu akan didistribusikan di sepanjang rantai bisnis LNG.
Dalam proyeksi Maybank, LNG diperkirakan menyumbang sekitar 20,5 persen dari volume distribusi PGAS pada 2026 atau sekitar 61,7 juta MMBtu, dan porsinya meningkat menjadi sekitar 25 persen pada 2027.
Hasan memperkirakan apabila PGAS harus menanggung 25 persen hingga 100 persen dari selisih margin LNG selama paruh kedua 2026, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) tahun 2026 berpotensi turun sekitar 2,5 persen hingga 10 persen.
Meski demikian, dampaknya terhadap target harga saham dinilai sangat terbatas sehingga target Rp 2.150 tetap dipertahankan.
Apabila kebijakan pembatasan harga LNG diperpanjang hingga sepanjang 2027, Maybank memperkirakan laba bersih PGAS pada 2027 dapat turun 6 persen hingga 24 persen. Namun demikian, pengaruh terhadap valuasi perusahaan juga dinilai relatif kecil.
Hasan menekankan bahwa durasi kebijakan menjadi faktor risiko yang jauh lebih signifikan dibandingkan besarnya pemotongan harga LNG.
Berdasarkan berbagai skenario yang disusun Maybank, perpanjangan masa berlaku kebijakan memberikan dampak sekitar tiga kali lebih besar terhadap kinerja dibandingkan besarnya penurunan harga itu sendiri.
Karena pemerintah belum menerbitkan formula cost-sharing maupun petunjuk teknis pelaksanaannya, Maybank belum mengubah proyeksi laba maupun target harga PGAS.
Selain itu, konsumsi LNG pada Juli baru akan ditagihkan pada Agustus sehingga dampak aktual kebijakan masih menunggu implementasi.
Dalam analisis skenarionya, Maybank memperkirakan jika PGAS harus mengorbankan 25 persen hingga 100 persen dari margin LNG pada paruh kedua 2026, maka margin gabungan LNG diperkirakan turun dari Dolar AS 2,15 per MMBtu menjadi sekitar Dolar AS 2,10 hingga Dolar AS 1,96 per MMBtu.
Sementara jika kebijakan berlanjut sepanjang 2027, margin gabungan diperkirakan turun menjadi Dolar AS 2,05 hingga Dolar AS 1,70 per MMBtu, masih berada di sekitar kisaran panduan perusahaan sebesar Dolar AS 1,65 hingga Dolar AS 1,85 per MMBtu.
Berdasarkan riset Maybank Sekuritas, pendapatan PGAS pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Dolar AS 4,11 miliar dengan laba bersih sebesar Dolar AS 308 juta. Sementara pendapatan dan laba di tahun 2027 diproyeksi bisa mencapai Dolar AS 4,44 miliar dan Dolar AS 319 juta.