Infrastruktur Digital WIFI Raih WBBA Gigacity Champion Award 2026

ILUSTRASI, PT Solusi Sinergi Digital raih WBBA Gigacity Champion Award 2026 atas inovasi layanan broadband Wi-Fi 7. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 17 Juli 2026 | 11:24:04 WIB

JAKARTA – Pengakuan di tingkat global berhasil diraih oleh PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge, yang merupakan emiten milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo. Apresiasi internasional ini didapatkan berkat langkah perseroan dalam mengembangkan berbagai proyek infrastruktur digital di tanah air.

Penghargaan tersebut diraih setelah perseroan meluncurkan Starlite Super, sebuah layanan fixed broadband yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi Wi-Fi 7. 

Layanan ini menawarkan kecepatan hingga 2.000 Mbps (2 Gbps) yang dirancang untuk menunjang aktivitas digital dengan kebutuhan kapasitas besar, seperti bermain gim daring, melakukan streaming video berkualitas 8K, hingga mengoperasikan berbagai perangkat smart home secara simultan. 

Paket Starlite Super ini ditawarkan seharga Rp 250.000 per bulan dengan memadukan teknologi XGS-PON serta Wi-Fi 7.

Berkat kehadiran inovasi internet tersebut, WIFI sukses menyabet penghargaan World Broadband Association (WBBA) Gigacity Champion Award pada perhelatan Broadband Development Summit APAC 2026. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Direktur Solusi Sinergi Digital, Shannedy Ong, mengatakan inovasi bukan hanya tentang menghadirkan teknologi paling mutakhir, tetapi juga memastikan teknologi dapat dinikmati oleh masyarakat, terutama lewat Starlite SUPER.

“Kami ingin membawa pengalaman internet kelas dunia dengan kecepatan hingga 2.000 Mbps ke rumah-rumah di Indonesia dengan harga yang tetap terjangkau,” ujar Shannedy Ong lewat keterangan pers, Kamis (16/7/2026).

Di samping itu, WIFI juga memperkenalkan Starlite Prime yang ditujukan bagi keluarga yang memerlukan koneksi internet cepat namun tetap mengutamakan efisiensi biaya. 

Shannedy menjelaskan bahwa WIFI terus mengakselerasi ekosistem Gigacity lewat penyediaan layanan fixed broadband berkecepatan gigabit. 

Layanan tersebut tidak sekadar menerapkan teknologi Wi-Fi generasi paling baru, melainkan juga dibanderol dengan harga yang sangat bersahabat bagi masyarakat.

Pencapaian luar biasa ini ditopang oleh infrastruktur digital milik WIFI yang mengolaborasikan jaringan Fiber-to-the-Home (FTTH) berbasis XGS-PON dengan kabel serat optik backbone sepanjang lebih dari 8.000 kilometer yang membentang di koridor perkeretaapian nasional. 

Infrastruktur ini dikembangkan melalui kemitraan investasi bersama perusahaan asal Jepang, Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East).

NTT East bertindak sebagai salah satu anak usaha inti dari NTT Group. Keterlibatan NTT East dilakukan melalui kepemilikan saham NTT eASIA sebesar 49% di PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), yaitu anak usaha Surge yang bertugas membangun sekaligus mengoperasikan jaringan FTTH Starlite. 

Dalam mewujudkan layanan Starlite Super, perseroan juga menggandeng Huawei selaku mitra teknologi global yang menyediakan solusi XGS-PON dan Wi-Fi 7 secara menyeluruh demi menghadirkan fixed broadband berkapasitas gigabit.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami tidak membangun ini sendirian. NTT East membawa keahlian kelas dunia dalam pembangunan jaringan fiber, sementara para mitra teknologi kami menghadirkan solusi yang memungkinkan implementasi layanan Wi-Fi 7 berkecepatan hingga 2.000 Mbps. Bersama-sama, kami membangun fondasi bagi era Gigacity di Indonesia,” tambah Shannedy.

Ekspansi jaringan yang cepat ini terus diakselerasi dengan bersandar pada model bisnis yang fokus terhadap keterjangkauan biaya layanan. 

Perseroan juga sudah merilis IRA – Internet Rakyat, yang menjadi layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) komersial pertama di dunia yang berjalan pada pita frekuensi 1,4 GHz. 

Layanan ini menawarkan akses internet rumah tanpa batasan kuota (unlimited) berkecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif murah sebesar Rp 100.000 per bulan.

Dengan biaya berkisar 1,4% dari Gross National Income (GNI) per kapita bulanan masyarakat Indonesia, tarif IRA berada di bawah batas standar keterjangkauan sebesar 2% yang ditetapkan oleh UN Broadband Commission. 

Hal ini menjadi pencapaian tersendiri di tengah kondisi pasar fixed broadband Indonesia, di mana harga paket internet kelas pemula rata-rata masih menyentuh angka sekitar 4,8% dari GNI per kapita bulanan berdasarkan data World Bank, Indonesia Economic Prospects.

Lewat lini produk Starlite serta IRA – Internet Rakyat, WIFI kini menyajikan portofolio produk fixed broadband yang komprehensif, mulai dari koneksi internet nirkabel (wireless) yang ekonomis hingga layanan fiber berbasis Wi-Fi 7 berkecepatan tinggi dengan harga kompetitif.

Reporter: Gemilang Ramadhan