RUPS MICE Setujui Pembagian Dividen 6 Miliar dan Penjaminan Aset

ILUSTRASI, Produk PT Multi Indocitra Tbk (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:46:26 WIB

JAKARTA – PT Multi Indocitra Tbk (MICE) telah menetapkan pembagian dividen tunai senilai 6 miliar rupiah, atau setara 10 rupiah per saham, bagi para pemegang saham. Dana tersebut bersumber dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai 43,61 miliar rupiah. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, keputusan ini telah disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada 30 Juni 2026. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan pemegang saham yang menguasai 512,17 juta saham, atau mencakup 85,36 persen dari total saham dengan hak suara resmi.

Jadwal pembagian dividen direncanakan pada 31 Juli 2026, dengan tanggal cum date pada 7 Juli 2026 dan recording date pada 9 Juli 2026.

Hampir seluruh pemegang saham memberikan persetujuan mutlak dalam agenda ini. Perusahaan menetapkan dividen 10 rupiah per saham untuk total 600 juta saham yang beredar, dengan akumulasi nilai mencapai 6 miliar rupiah.

Jumlah tersebut setara dengan kira-kira 13,76 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang 2025. Sisa laba sebesar 37,61 miliar rupiah akan dialokasikan sebagai laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan internal korporasi.

Selain menyepakati pemanfaatan laba bersih, pemegang saham mengesahkan laporan tahunan dan keuangan tahun buku 2025. Langkah ini sekaligus memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit et décharge) bagi direksi serta dewan komisaris atas kegiatan pengelolaan dan pengawasan selama periode tersebut.

RUPS memberikan mandat penuh kepada Dewan Komisaris untuk menunjuk akuntan publik independen dalam memeriksa laporan keuangan tahun buku 2026, serta menyusun besaran remunerasi bagi dewan komisaris dan direksi.

Terkait perubahan manajemen, pemegang saham sepakat mempertahankan susunan direksi serta dewan komisaris saat ini hingga selesainya RUPS Tahunan tahun buku 2028 yang dijadwalkan pada 2029.

Jajaran direksi tetap dipimpin oleh Anthony Honoris sebagai Direktur Utama, didampingi Budiman Gitaloka dan Hendro Wibowo sebagai Direktur. Sementara pada Dewan Komisaris, Alka Tranggana tetap menjabat sebagai Komisaris Utama, didampingi Budi Setyawan sebagai anggota komisaris dan Teddy Syarief Natawidjaja sebagai Komisaris Independen.

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), para pemegang saham juga merestui strategi berupa pemberian wewenang kepada manajemen untuk menjaminkan aset perusahaan yang nilainya melebihi 50 persen dari total kekayaan bersih, berdasarkan laporan keuangan 2025.

Persetujuan ini bertujuan memberikan keleluasaan bagi perusahaan dalam memperoleh fasilitas pinjaman perbankan atau instrumen pendanaan eksternal lainnya. Manajemen mendapatkan kuasa penuh untuk menandatangani dokumen yang diperlukan dalam eksekusi keputusan strategis ini.

Multi Indocitra mulai memperluas fleksibilitas keuangan dengan membuka potensi pemanfaatan aset sebagai agunan pendanaan. Kebijakan ini diproyeksikan meningkatkan kapasitas korporasi dalam mendukung ekspansi bisnis dan pemenuhan kebutuhan modal kerja di masa depan.

KINERJA KEUANGAN Multi Indocitra menunjukkan performa keuangan yang tangguh sepanjang 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan aset, penguatan ekuitas, dan laba bersih di tengah tantangan industri barang konsumsi.

Korporasi meraih laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai 43,61 miliar rupiah pada 2025. Manajemen mengalokasikan 6 miliar rupiah atau sekitar 13,8 persen sebagai dividen. Sisanya, 37,61 miliar rupiah, dimasukkan ke pos laba ditahan untuk mendukung modal kerja dan program ekspansi.

Hingga akhir Desember 2025, total aset konsolidasian mencapai 1,48 triliun rupiah, naik 4,2 persen dibandingkan 1,42 triliun rupiah pada akhir 2024. Kenaikan aset ini dipicu oleh penambahan nilai persediaan menjadi 448,31 miliar rupiah, investasi penyertaan saham yang naik menjadi 107,49 miliar rupiah, dan aset hak guna sebesar 8,60 miliar rupiah.

Aset lancar juga naik menjadi 790,92 miliar rupiah dari 740,89 miliar rupiah pada periode sebelumnya. Kas dan setara kas tercatat 74,02 miliar rupiah pada akhir 2025, menyusut dari 80,62 miliar rupiah pada tahun sebelumnya. Piutang usaha tercatat 228,52 miliar rupiah, sementara nilai persediaan naik menjadi 448,31 miliar rupiah demi kelancaran operasional dan distribusi.

Di sisi lain, total liabilitas perusahaan pada akhir Maret 2026 berada di angka 517,97 miliar rupiah, naik dari 509,12 miliar rupiah pada akhir 2025. Lonjakan ini bersumber dari peningkatan utang bank jangka pendek untuk modal kerja. Meski demikian, permodalan internal korporasi dinilai tetap aman karena total ekuitas tercatat hampir dua kali lipat lebih besar dari total kewajiban.

Nilai ekuitas mencapai 968,45 miliar rupiah pada akhir 2025 dan naik menjadi 969,34 miliar rupiah pada akhir triwulan pertama 2026. Pertumbuhan ekuitas didominasi tambahan saldo laba dari keuntungan operasional riil.

Pendapatan bersih perseroan mencapai 329,72 miliar rupiah, melonjak 35,4 persen dibandingkan 243,53 miliar rupiah pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, peningkatan biaya operasional mengakibatkan laba bersih menyusut menjadi 1,05 miliar rupiah, dari 4,06 miliar rupiah pada kuartal pertama 2025.

Reporter: Gemilang Ramadhan