Harga Emas Turun 9,33 Persen, Emiten Terdampak Pelemahan
JAKARTA – Kinerja emiten berbasis emas di bursa saham domestik saat ini tengah mendapat tantangan dari tren pelemahan harga emas yang terjadi sepanjang semester pertama 2026. Komoditas yang sempat mencatatkan performa gemilang di sepanjang 2025 tersebut, kini cenderung terkoreksi dan berisiko menekan capaian keuangan perusahaan terkait.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas global menyusut dari US$4.446 per troy ounce di awal tahun menjadi US$4.031,4 per troy ounce pada sesi perdagangan kemarin.
Dengan demikian, harga emas telah turun sebesar 9,33 persen sepanjang tahun 2026 berjalan. Situasi ini kontras dengan pencapaian tahun lalu, di mana harga emas sempat melonjak hingga 61,34 persen, dari US$2.685 naik ke level US$4.332 pada penutupan tahun.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan harga emas global pada semester satu 2026 lebih disebabkan oleh penguatan mata uang dolar AS serta aksi ambil untung setelah tren kenaikan tajam beberapa tahun terakhir.
Investor cenderung mengalihkan dana dari aset aman (safe haven) menuju mata uang dolar AS yang terus menguat.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman Leong mengungkapkan, ”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” pada hari Kamis (2/7/2026).
Selain faktor tersebut, fenomena maraknya kecerdasan buatan (AI booming) juga dinilai menjadi pemicu terkoreksinya nilai logam mulia baru-baru ini.
Para investor dilaporkan banyak mengalihkan modal ke sektor yang menawarkan potensi pertumbuhan signifikan. Meski begitu, harga emas dinilai masih memiliki peluang untuk kembali menguat hingga akhir 2026, didukung oleh kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang masih cenderung ketat (hawkish) serta tingginya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Iran dan AS.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman Leong menambahkan, ”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik.”
Di sisi lain, meningkatnya ancaman inflasi global menjadikan pelaku pasar lebih selektif dalam menambah portofolio emas sebagai aset safe haven. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya kenaikan harga emas yang sudah terjadi secara masif dalam dua tahun ke belakang. Walau begitu, Lukman tetap optimistis bahwa bank sentral dunia akan terus melakukan pembelian emas fisik secara konsisten, sehingga permintaan terhadap logam mulia tersebut diproyeksikan tetap terjaga.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman menegaskan, ”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir.”
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyampaikan bahwa selama semester pertama 2026, aktivitas perdagangan komoditas di Doo Financial mendominasi total transaksi. Volatilitas harga emas yang tinggi menjadi daya tarik utama bagi pelaku transaksi berjangka, dan Ariston memproyeksikan tren ini akan berlanjut hingga paruh kedua 2026.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Ariston Tjendra menjelaskan, ”Saya rasa komoditas masih mendominasi, tidak akan bisa disaingin. Emasnya sendiri itu lebih dikenal di masyarakat dan dari pergerakan volatilitas harga karena di transaksi berjangka ini yang ditransaksikan itu naik turunnya harga. Karena volatilitas emas besar, jadi peluang mendapatkan profit juga lebih besar.”
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memprediksi perolehan laba bersih emiten emas tetap akan tumbuh solid tahun ini, meski kecepatannya diperkirakan tidak akan melampaui pertumbuhan fundamental tahun lalu. Meskipun harga emas terkoreksi cukup dalam, Nafan tetap optimis terhadap fundamental emiten. Salah satu faktor pendukungnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah, yang membuat emas berperan sebagai pelindung nilai alami bagi masyarakat.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan memaparkan, ”Jika nilai tukar rupiah terdepresiasi, emas akan bertindak sebagai natural hedge. Harga emas dunia terkoreksi, tapi pelemahan nilai tukar rupiah bisa otomatis mendongkrak average selling price [emiten],” pada hari Kamis (2/7/2026).
Nafan juga melihat permintaan fisik emas tetap kuat dalam jangka panjang, senada dengan laporan World Gold Council. Kekokohan fundamental emiten emas ini terbantu oleh performa perusahaan pada kuartal I/2026 yang memberikan bantalan cukup tebal apabila harga emas kembali menyusut di sisa tahun ini.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan mengutarakan, ”Secara kumulatif tahun penuh 2026, laba bersih emiten emas diproyeksikan tetap tumbuh positif, tetapi dengan laju yang lebih moderat dibandingkan lonjakan tahun lalu.”
Di luar faktor harga, emiten emas dalam negeri juga menghadapi tantangan stabilitas volume produksi, kebijakan pemerintah domestik, serta potensi kenaikan biaya energi yang bisa menekan margin.
Menurutnya, emiten yang mampu menjaga pertumbuhan volume produksi secara stabil seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), hingga PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) dinilai mampu mempertahankan pertumbuhan laba yang sehat.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan menambahkan, ”Tantangan lainnya masih berkaitan dengan suku bunga tinggi. Takutnya kalau suku bunga tinggi, para investor cenderung memegang dolar AS, emas menjadi kurang menarik. Tapi secara jangka pendek.”
Di pihak lain, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai prospek emiten emas pada paruh kedua 2026 masih dalam fase konstruktif karena harga jual saat ini masih berada di atas biaya produksi.
Margin operasional emiten di sektor ini pun dinilai masih cukup tebal, dan koreksi harga emas saat ini dianggap sebagai normalisasi pasar, bukan pelemahan struktural.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wafi memaparkan, "Pendorong pada semester dua adalah full ramp up Tambang Pani yang bakal mendorong volume, permintaan emas ritel domestik masih tinggi, dan potensi Fed rate cut dapat menstabilkan harga," pada hari Kamis (2/7/2026).
Wafi memproyeksikan laba emiten emas secara penuh pada 2026 akan berada di bawah realisasi 2025 karena basis pertumbuhan harga emas tahun lalu yang sangat tinggi. Emiten dengan pertumbuhan volume tinggi dinilai akan lebih tahan banting karena mampu menutup dampak penurunan harga jual rata-rata. Wafi merekomendasikan saham MDKA seiring operasional Tambang Pani dan diversifikasi nikel, serta ANTM yang mengandalkan emas sebagai pilar utama pendapatan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wafi menyimpulkan, "Tantangan di luar harga emas adalah rupiah yang lemah berisiko menaikkan cost operasional berbasis impor, potensi revisi royalti dan kewajiban downstream, dan operational execution risk untuk tambang fase ramp-up seperti Pani butuh konsistensi produksi."