Saham Dividen Jadi Pilihan Investasi Aman Saat IHSG Berfluktuasi

Ilustrasi: Saham dividen menjadi alternatif investasi aman di tengah fluktuasi IHSG. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:07:47 WIB

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif belakangan ini membuktikan bahwa pasar saham memiliki siklus yang sulit ditebak. Dalam situasi tersebut, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menyebut saham dividen bisa menjadi pilihan yang lebih bersahabat bagi investor pemula.

"Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala," ujar Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita. Teddy menambahkan bahwa saham dividen menawarkan dividen yield di kisaran 3–6 persen per tahun, sehingga investor tetap mendapatkan imbal hasil meski harga saham stagnan.

Saham dividen dianggap lebih mudah dipahami karena tidak semata-mata mengandalkan pergerakan harga. Hal ini membantu mengurangi beban psikologis bagi investor saat menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu.

Teddy menegaskan bahwa karakteristik setiap saham dividen tidaklah sama. "Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi," jelas Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sektor komoditas seperti Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) biasanya memiliki pola dividen yang lebih berubah-ubah mengikuti siklus harga komoditas. Sementara itu, Telkom Indonesia (TLKM) berada di posisi seimbang dengan riwayat dividen yang konsisten serta potensi pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Teddy mengingatkan investor pemula untuk memahami mekanisme pembagian dividen, mulai dari cum date, ex-date, recording date, hingga payment date. Cum date adalah hari terakhir investor dapat membeli saham dan berhak atas dividen, sedangkan setelah ex-date investor tidak lagi berhak atas dividen tersebut.

Recording date merupakan tanggal pencatatan pemegang saham, sementara payment date adalah jadwal pembayaran dividen. Musim pembagian dividen di Indonesia umumnya terjadi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang banyak dilaksanakan pada Maret hingga Juni.

Periode April hingga Juli biasanya menjadi waktu emiten mengumumkan dan menyalurkan dividen. Investor biasanya memakai dua strategi, yakni buy and hold pada saham berfundamental baik dan melakukan reinvestasi dividen untuk menambah kepemilikan secara bertahap.

"Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang," tutur Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita. Menurutnya, saham dividen membantu investor membangun portofolio seimbang melalui kombinasi potensi kenaikan harga modal dan arus kas dari dividen.

Reporter: Akbar