Buyback Saham Bank: Upaya Jaga Stabilitas di Tengah Pelemahan Pasar

Ilustrasi: Emiten perbankan lakukan buyback saham untuk stabilkan harga di tengah tekanan pasar. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:07:47 WIB

JAKARTA – Sejumlah emiten sektor perbankan menempuh aksi buyback atau pembelian kembali saham di tengah lesunya harga di pasar. Langkah ini bertujuan menahan laju penurunan harga agar tidak semakin dalam, meskipun tidak mampu mendorong penguatan harga secara signifikan.

PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengumumkan buyback maksimal Rp 200 miliar untuk periode 1 Juli hingga 1 September 2026. Manajemen Allo Bank menyatakan langkah ini bertujuan menjaga stabilitas harga saham agar mencerminkan kinerja perusahaan.

"Sekaligus menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam usaha Perseroan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Pada Kamis (2/7/2026), saham BBHI berada di level Rp 930 atau melemah 37,58 persen sejak awal tahun.

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah melakukan buyback bernilai triliunan rupiah. BBCA menjalankan buyback maksimal Rp 5 triliun hingga 11 Maret 2027, sementara BMRI mencapai maksimal Rp 1,17 triliun hingga 20 April 2027.

Harga saham BBCA tercatat merosot 28,17 persen secara year-to-date, sedangkan saham BMRI turun 23,53 persen secara year-to-date. Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa buyback lebih berperan sebagai bantalan permintaan dibandingkan katalis penguatan harga.

Hal ini dikarenakan nilai buyback yang dilakukan pihak bank jauh lebih kecil dibandingkan tekanan arus keluar modal atau outflow dari investor asing. "Fungsinya lebih untuk memperlambat penurunan daripada mendorong reli," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Wafi menilai buyback tetap menjadi sentimen positif karena memberikan sinyal kepercayaan internal emiten bahwa harga saham berada di bawah nilai wajarnya. Langkah ini juga dapat mengurangi jumlah saham beredar sehingga laba per saham berpotensi meningkat.

Buyback tidak bisa berdiri sendiri untuk memperbaiki kinerja harga saham karena manajemen perlu menunjukkan prospek laba dan konsistensi dividen. Investor tetap harus selektif dalam memilih bank dengan basis dana murah besar atau mengejar pertumbuhan tinggi sesuai profil risiko masing-masing.

Reporter: Akbar