Terbang ke USD 61.289, Bitcoin Punya Peluang Menuju USD 65.000

Ilustrasi Bitcoin (BTC). (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 03 Juli 2026 | 14:41:59 WIB

JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) melambung tinggi pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026) pagi, usai sebelumnya sempat merosot ke titik paling rendah sepanjang 21 bulan terakhir.

Walau demikian, jajaran pengamat pasar terpantau masih silang pendapat terkait ke mana arah pergerakan dari aset kripto dengan valuasi terbesar di dunia ini.

Sejumlah analis merasa optimis bahwa Bitcoin memiliki celah untuk melesat melampaui level US$ 65.000, sedangkan sebagian lainnya memberikan peringatan atas risiko adanya pelemahan susulan yang masih mengintai.

Merujuk pada publikasi data dari CoinMarketCap per pukul 07.50 WIB, total kapitalisasi pasar kripto secara global meroket sebesar 2,64% hingga menyentuh angka US$ 2,12 triliun dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Di saat yang sama, harga Bitcoin untuk hari ini melonjak hingga 2,6% menuju level US$ 61.289,8 per koin, atau setara dengan kisaran Rp 1,1 miliar (menggunakan acuan kurs Rp 17.980 per dolar AS).

Pergerakan Indeks CoinDesk 20 yang menjadi cerminan dari performa 20 aset kripto teratas dilaporkan ikut naik sebesar 2,94%.

Aset Ethereum melesat tajam 5,75% menuju level US$ 1.695, Binance (BNB) tumbuh 1,9% ke angka US$ 557, XRP menguat sebesar 3,56% menjadi US$ 1,08, Dogecoin (DOGE) merangkak naik 2,96% ke posisi US$ 0,07, serta Solana (SOL) melompat 4,49% hingga bertengger di US$ 80,67.

Menyitir informasi dari CoinTelegraph, hembusan sentimen positif ini dipicu oleh statemen dari Ketua The Fed Kevin Warsh yang memberikan penilaian bahwa tekanan dari sektor inflasi nyatanya masih berada di posisi tinggi.

Walau begitu, pelaku pasar membaca adanya potensi bahwa bank sentral AS tersebut bakal mengambil langkah yang lebih selektif dan berhati-hati dalam merumuskan arah kebijakan moneter ke depan.

Kendati demikian, tren penguatan yang dialami Bitcoin dinilai belum sepenuhnya meyakinkan.

Tingkat imbal hasil (yield) untuk obligasi pemerintah AS dengan tenor lima tahun terpantau merangkak naik ke posisi 4,22%, yang mengindikasikan kuatnya ketertarikan para pemodal terhadap lini aset berpendapatan tetap.

Tren tersebut dianggap masih menjadi batu sandungan bagi instrumen yang tidak menawarkan imbal hasil berkala, seperti halnya Bitcoin beserta komoditas kripto sejenis.

Di sudut lain, psikologis para penanam modal terhadap iklim pasar kripto saat ini tergolong sangat lemah. Parameter dari Crypto Fear & Greed Index kedapatan berada pada angka 11, yang mengindikasikan bahwa kondisi pasar sedang terjebak dalam fase ketakutan yang mendalam (Extreme Fear).

Tekanan pasar juga tercermin dari derasnya arus dana keluar (outflow) pada instrumen produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot di wilayah Amerika Serikat.

Di sepanjang bulan Juni, ETF Bitcoin spot membukukan rekor arus keluar menembus kisaran US$ 4,5 miliar, yang merupakan angka pemangkasan modal terbesar sejak instrumen investasi tersebut perdana diperkenalkan ke publik.

Analis kripto sekaligus perancang skema valuasi Stock-to-Flow, PlanB, memproyeksikan bahwa Bitcoin pada dasarnya masih dibayangi risiko koreksi yang lebih dalam lagi.

Bersandarkan pada catatannya, Bitcoin menyudahi periode Juni pada level US$ 58.526, alias mencatatkan penurunan sebesar 20,5% dalam sebulan berjalan, yang sekaligus menjadi performa bulanan paling jeblok sejak Juni 2022.

PlanB memberikan sorotan bahwa posisi nilai Bitcoin saat ini berada di bawah garis rata-rata pergerakan (moving average) 200 pekan yang posisinya mengitari US$ 62.000, namun posisinya terpantau masih bertahan di atas realized price yang berada pada kisaran US$ 52.000.

PlanB mengingatkan, pada siklus pasar bearish sebelumnya, titik terendah Bitcoin selalu berada di bawah realized price.

Karena itu, ia memperkirakan Bitcoin masih berpotensi turun hingga mendekati US$ 52.000 sebelum memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.

Sementara itu, korporasi penyedia treasury aset kripto SharpLink dilaporkan kembali melanjutkan aksi pengumpulan (akumulasi) terhadap aset Ether, setelah sebelumnya sempat vakum selama kurun waktu delapan bulan.

Mengacu pada data sirkulasi dari Arkham, SharpLink mengesekusi pembelian sebanyak 10.000 ETH dengan estimasi nilai menyentuh US$ 16 juta pada rentang tanggal 25-26 Juni, dengan patokan harga rata-rata berada di level US$ 1.611 per ETH.

Melalui realisasi transaksi pengadaan tersebut, akumulasi kepemilikan aset Ether dari perusahaan tersebut kini merangkak naik menuju angka 866.725 ETH.

Pihak manajemen SharpLink menegaskan bahwa langkah pembelian ini merupakan bagian integral dari peta strategi jangka panjang korporasi guna mempertebal cadangan aset Ether mereka sebagai instrumen investasi.

Di saat yang sama, publikasi laporan dari penyedia basis data institusional Talos memperlihatkan bahwa sektor pasar kripto mulai menapakkan kaki pada kuartal III-2026 dengan kondisi tingkat daya ungkit (leverage) yang jauh lebih rendah, pasca terjadinya gelombang likuidasi masif pada periode kuartal sebelumnya.

Di sepanjang kuartal II, aktivitas likuidasi untuk posisi beli (long liquidation) pada aset Bitcoin serta Ether menyentuh akumulasi nominal US$ 8,35 billion.

Adanya penyusutan pada komponen leverage tersebut dinilai sanggup memicu stabilitas yang lebih baik di pasar, walau di sisi lain ketebalan likuiditas yang kian menyusut juga menyimpan risiko berupa fluktuasi harga yang lebih tajam apabila sewaktu-waktu pasar kembali dihantam oleh aksi jual dalam volume masif.

Reporter: Ibtihal