Pabrik Baru Demak Beroperasi, NEST Targetkan Produksi Lipat Dua

ILUSTRASI, PT Esta Indonesia Tbk optimalkan teknologi IoT untuk pengelolaan rumah burung walet secara real time. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 26 Juni 2026 | 13:42:29 WIB

JAKARTA – PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) menargetkan kenaikan kapasitas produksi sarang burung walet hingga dua kali lipat pada akhir tahun 2026 mendatang. Langkah strategis tersebut berjalan seiring dengan mulai berfungsinya fasilitas produksi baru yang berada di Demak, Jawa Tengah.

Direktur Utama Esta Indonesia Anton Siswanto Hoo menerangkan bahwa peningkatan kapasitas ini menjadi bagian dari upaya perseroan dalam merespons pertumbuhan permintaan ekspor. Terlebih lagi, pasar China sampai saat ini masih menjadi negara tujuan utama untuk komoditas sarang burung walet dari Indonesia.

"Dengan beroperasinya fasilitas produksi yang baru di Demak, NEST memperkirakan kapasitas produksi akan bertumbuh dua kali lipat pada akhir tahun 2026," ujar Anton dalam Paparan Publik, Kamis (25/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia berpendapat bahwa perluasan kapasitas produksi ini harus dibarengi dengan penguatan pada sektor rantai pasok. Hal tersebut amat penting supaya seluruh fasilitas produksi yang dimiliki oleh perseroan dapat berjalan secara optimal.

"Tentunya fasilitas produksi perusahaan tidak akan optimal apabila manajemen tidak memperhatikan rantai pasok, baik dari segi kuantitas maupun kualitas," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebagai bentuk tindakan nyata dalam memperkuat pasokan bahan baku, NEST saat ini tengah mengembangkan sistem pengelolaan rumah burung walet yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT). Melalui pemanfaatan teknologi digital ini, perusahaan bisa memantau suhu sekaligus kelembapan di dalam rumah burung secara real time demi mempertahankan kondisi mikroklimat ideal yang dibutuhkan oleh burung walet.

Saat ini, implementasi teknologi IoT tersebut telah diaplikasikan di 15 rumah burung walet milik perseroan. Ke depannya, penggunaan teknologi ini bakal diperluas kepada para pemilik rumah burung walet yang menjadi mitra strategis perusahaan di pelbagai wilayah di Indonesia.

Anton menjelaskan bahwa data-data yang dihimpun lewat teknologi IoT tersebut akan dipergunakan sebagai fondasi utama dalam tata kelola rumah burung. 

Penerapan ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga standar kualitas hasil panen. Ia mengimbuhkan bahwa Indonesia mempunyai jutaan rumah burung walet yang menyimpan potensi besar untuk dimaksimalkan lewat sentuhan teknologi serta manajemen pengelolaan yang lebih modern.

Dari segi permintaan, perseroan menyatakan tetap optimis menatap prospek cerah industri hilir sarang burung walet. Anton melihat bahwa tren konsumsi sarang burung walet di China terus memperlihatkan pergeseran yang positif. 

Produk tersebut kini tidak lagi sekadar dianggap sebagai makanan mewah, melainkan sudah mulai dikategorikan sebagai bagian dari produk kesehatan (wellness product).

Ia memaparkan bahwa komoditas sarang burung walet yang disajikan dalam bentuk minuman siap konsumsi (ready-to-drink) saat ini semakin populer dan diterima oleh masyarakat luas. 

Produk tersebut telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup konsumen, sehingga membuka ceruk pasar baru yang jauh lebih luas bagi perseroan.

Meski begitu, tren pertumbuhan yang pesat ini juga membawa tantangan tersendiri bagi para pelaku eksportir dalam menjaga kualitas produk agar tetap sejalan dengan standar keamanan pangan internasional yang ketat. 

Produk ekspor yang dikirimkan oleh NEST tidak hanya mesti memenuhi kriteria fisik seperti bentuk, warna, dan berat, tetapi juga wajib lolos uji kadar kandungan protein hingga ambang batas logam berat serta kontaminan lainnya.

Rasa optimisme terhadap keberlanjutan bisnis ini turut didukung oleh pemulihan performa keuangan perseroan pada awal tahun ini. Setelah sempat mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 26,59% sepanjang tahun 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, NEST sukses membalikkan keadaan dengan mencetak pertumbuhan laba bersih mencapai 38% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I/2026.

Pihak perseroan meyakini penuh bahwa momentum pemulihan kinerja keuangan ini akan terus terjaga sepanjang tahun 2026. Hal tersebut didorong oleh kuatnya permintaan pasar ekspor serta pasokan kapasitas produksi tambahan dari pabrik baru mereka di Demak.

Reporter: Gemilang Ramadhan