Waspada Dividen Trap, Cek Kinerja Saham Blue Bird Menjelang Cum Date

Ilustrasi: Harga saham Blue Bird menguat menjelang cum date dengan yield dividen hampir 10 persen. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 26 Juni 2026 | 13:42:29 WIB

JAKARTA – Investor diminta untuk mewaspadai potensi dividen trap dari saham PT Blue Bird Tbk (BIRD). Hari ini, Jumat (26/6/2026), merupakan cum date saham BIRD dengan yield dividen yang mencapai hampir 10 persen.

Harga saham perusahaan taksi ini telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan di pasar. Menjelang cum date, harga saham BIRD pada perdagangan Kamis (25/6/2026) ditutup di Rp 1.690 atau naik 25 poin (1,50%).

Dalam sebulan terakhir, harga saham BIRD telah menguat 140 poin atau 9,03 persen. Saham BIRD menjadi salah satu yang berkinerja baik saat pasar tertekan, di mana IHSG mengalami penyusutan sebesar 2,13 persen dalam periode yang sama ke level 5.999,04.

BIRD resmi menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 166 per saham dalam RUPST yang digelar Kamis (18/6/2026). Nilai tersebut setara dengan 65,3 persen dari laba bersih entitas induk pada tahun buku 2025.

Berdasarkan harga terakhir, yield dividen saham BIRD mencapai 9,2 persen. Jumlah ini tercatat mencapai 3x lipat dari suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Sesuai keputusan RUPST, dividen akan dibagikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per 30 Juni 2026. Pembayaran dividen tunai dijadwalkan akan dilakukan pada 10 Juli 2026.

Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, menyatakan bahwa pembagian dividen mencerminkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. "Fokus pada inovasi, pemanfaatan teknologi, serta perluasan kapasitas operasional terus menjadi pendorong pertumbuhan Perseroan dan memperkuat fondasi bisnis untuk jangka panjang," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sepanjang tahun buku 2025, Blue Bird membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 643 miliar atau tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bersih perusahaan pun meningkat 13 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 5,7 triliun.

Sisa laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen akan dibukukan sebagai laba ditahan untuk mendukung modal kerja. Komisaris Utama Blue Bird, Bayu Djokosoetono, menilai perseroan mampu menjaga kinerja yang sehat dan konsisten menjalankan strategi bisnis.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi fondasi penting bagi Blue Bird dalam menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat layanan inti, mengembangkan bisnis non-taksi, dan menjaga efisiensi operasional guna meningkatkan daya saing.

Reporter: Akbar